﻿document.write('<h2 class="fjtitle">Agregator Member Penyair Nusantara </h2>');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hariesaja.wordpress.com/2010/03/09/diskusi-paranormal-duit-dukungan-dan-dukun/">Diskusi Paranormal : Duit, Dukungan dan Dukun</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung atau menyindir seseorang. Sama sekali tidak. Tapi sekadar menceritakan apa yang pernah saya dengar langsung &#8211; sebut saja &#8211; diskusi paranormal. Jadi, saat itu ada dua orang paranormal, tanpa harus sebut nama- mereka sedang mendiskusikan tentang pemilihan kepala desa di sebuah tempat.');
document.write('Saya terpaksa mendengar, karena diskusi itu terjadi persis di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hariesaja.wordpress.com&blog=1657904&post=438&subd=hariesaja&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>hariesaja, 3/8/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sastrabanjar.blogspot.com/2010/03/akankah-wayang-kulit-banjar-bisa.html">Wayang Kulit Banjar : Akankah Bisa Bertahan Hidup Di Era Globalisasi ini ?</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://4.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/S5SkFwqaUwI/AAAAAAAAAhw/90Wvv4kWgPM/s1600-h/hanoman.jpg'><img style='margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 112px; height: 200px;' src='http://4.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/S5SkFwqaUwI/AAAAAAAAAhw/90Wvv4kWgPM/s200/hanoman.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5446158268266861314' border='0' /></a><br /><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://1.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/S5Sj0owI03I/AAAAAAAAAho/Ty7s8w51g6M/s1600-h/dasamuka.jpg'><img style='margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 96px; height: 200px;' src='http://1.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/S5Sj0owI03I/AAAAAAAAAho/Ty7s8w51g6M/s200/dasamuka.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5446157974085620594' border='0' /></a><br /><br />oleh : Arsyad Indradi.<br /><br /><div style='text-align: justify;'>Pertunjukkan lakon wayang kulit telah menjalani proses hidup dari zaman ke zaman.<br />Pada masa kejayaan Agama Hindu dan Budha, wayang kulit adalah santapan rohani bagi penganutnya yang dibawakan oleh para biku atau pun biksu yang berpusat di Candi Penataran di Jawa Timur. Cerita yang dibawakan adalah cerita Ramayana yang disusun oleh Walmiki dan Mahabharata yang disusun oleh Wiyasa.<br />Pada abad XVI , wayang kulit mengalami perubahan dan pembaharuan dalam segi makna dan sifatnya setelah Kesultanan Demak mengembangkan Agama Islam di tanah Jawa. Seorang dari Wali Sanga yang bernama Sunan Kalijaga menghapus sifat magis wayang, karena wayang bukanlah gambaran wajah roh nenek moyang yang memiliki kekuatan magis, tetapi hanya merupakan gambaran wajah tokoh cerita.<br />Sunan Kalijaga tidak hanya mempergelarkan lakon – lakon Ramayana ataupun Mahabharata tetapi juga mempergelarkan cerita – cerita rakyat Jawa. Dan wayang yang berupa upacara keagamaan dan pemujaan Dewa dengan cara yang rapi ditinggalkan dan menciptakan wayang Punakawan ( Semar, Petruk, Gareng dan Bagong ) dengan dagelannya sehingga para penganut agama Hindu dan Budha yang menonton wayang Triwali itu merasa lebih tertarik dari pada wayang Hindu yang membawa cerita, monoton dan membosankan. Disamping itu, tokoh Darmakasuma mempunyai ajimat Kalimasada yang pada wayang Hindu tidak ada. Yang lebih menarik lagi, dalang Triwali menggubah cerita carangan, yaitu cerita di luar ‘pakem’.<br />Bagaimana wayang kulit di tanah Banjar ?<br />Seiring masuknya agama Islam dan senibudaya dari Kerajaan Demak, setelah Raja Banjar Pangeran Suriansyah mengucapkan Duakalimahsahadat, di abad XVI itu, kesenian wayang kulit mulai diperkenalkan dan berkembang hidup di tanah Banjar.<br />Para dalang Banjar masih tetap sebagai pewaris Triwali, wayang kulit sebagai media da’wah agama Islam dan dimana pagelaran wayang kulit merupakan penuntun berbuat kebaikan, kebenaran, keadilan, kejujuran, dan patriotisme.<br />Dalam perkembangan wayang kulit di tanah Banjar, ada pagelaran wayang kulit berupa ‘manyampir’ namun ‘sampir’ ini oleh dalang yang beragama Islam bukanlah ’haul’ atau memperingati para arwah nenek moyang dengan segala sesajennya melainkan upacara selamatan yakni menghaul nenek moyang dan ‘tulak bala’, dengan doa selamat dan doa arwah.<br />Pertunjukkan wayang kulit sangat digemari oleh rakyat ( masyarakat ) Banjar. Jika ada acara hari besar baik nasional maupun daerah, acara perkawinan atau pun acara lainnya, pertunjukan wayang tak luput dari penonton yang berlimpah ruah. Penontonnya tentu saja beragam, orang – tua, dewasa, remaja bahkan anak – anak. Apalagi jika dalangnya ‘Tulur’ ( dari desa Barikin Kabupaten Hulu Sungai Tengah ) seorang dalang senior yang sangat terampil memainkan wayang dan menuturkan cerita. Seorang dalang yang konon dapat mengusir hujan manakala sedang berlangsung pertunjukkan wayang kulit. Setelah dalang Tulur meninggal, dalang ‘Utuh Aini ( dari Banjarmasin ) melanjutkan kehidupan wayang. Dalang Utuh Aini meninggal, dilanjutkan oleh dalang Rundi, Busrajuddin dan Pedalang lainnya..<br />Namun tampaknya beberapa tahun ini kehidupan wayang kulit Banjar semakin berkurang penontonnya dan kekhawatiran matinya wayang Banjar sangat beralasan.<br />Di era globalosasi ini, peradaban manusia semakin bergeser dari porosnya, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju. Maka apakah wayang kulit masih bertahan pada paradigma lama ? Wayang kulit seyogyanyalah merubah sikap, meninggalkan paradigma lama itu, pandai mengikuti perkembangan zaman dan lebih lagi berani bersaing dengan tayangan yang ada di TV atau pun di tempat pertunjukkan lainnya.<br />Dalam hal ini, Pedalang itu sendiri harus inovatif. Merenovasi seluruh keberadaan wayang kulit seperti belincongnya memakai lampu listrik, kelir yang berornamen indah dan selalu diganti kalau sudah kadaluarsa, sound systim yang memadai apalagi kalau bisa yang canggih, dalang dan seluruh crew penabuh gamelannya berkostum seragam daerah Banjar. Dari sisi irama musik, agar tidak monoton, disamping lagu yang ada seperti lagu lasam sepuluh ( sebagai pembuka dari dalang ), lagu ayakan, lagu paparangan ancap dan paparangan alun, dan lagu liong perlu mengaransir lagu lain sebagai pemerkaya irama musik untuk plot atau suasana cerita. Perangkat gamelan selalu distim agar menghasilkan paduan musik yang harmonis. Perletakkan jejer wayang di atas gadang ( gedebuk ) benar – benar artistik. Dan tak kalah pentingnya selalu menciptakan cerita sesuai dengan tuntutan zaman namun tidak lepas dari pakemnya.<br />Umumnya pertunjukkan wayang adalah semalam suntuk. Tetapi ini perlu juga kita petimbangkan. Seperti halnya pertunjukan teater teradisional “ Mamanda “. Pertunjukkan Mamanda dapat menuntaskan cerita dalam durasi dua atau tiga jam. Alhasil, setiap pertunjukkan Mamanda selalu berjobel penontonnya.<br />Nah, bagaimana pertunjukkan wayang ?<br />Ada beberapa solusi lain untuk kembali menggairahkan kehidupan wayang kulit Banjar. Tentu saja ini ada kaitannya dengan PEPADI Komda Tingkat I Kalimantan Selatan. PEPADI perlu merancang program kerja dan melaksanakannya seperti sarasehan, seminar, diskusi tentang wayang Banjar atau bentuk lainnya. PEPADI sedini mungkin menyiapkan kader – kader Pedalang dan penabuh gamelan baik tingkat anak – anak sampai tingkat dewasa seperti mengadakan work shop dalang atau khusus pelatihan menyindin dan teknik memainkan wayang dan berupaya memproduksi wayang.<br />Dan adanya kerja sama yang baik ( program terpadu ) antara Disparsenibud, Dewan Kesenian ( andai ada yang masih hidup ) dan PEPADI seperti menyelenggarakan Festival pertunjukkan wayang kulit, lomba mendalang baik tingkat anak – anak sampai tingkat dewasa, lomba menyindin, lomba mengarang cerita wayang, dan mengadakan pagelaran wayang kulit pada acara perayaan misalnya hari besar nasional dan daerah. DPRD, Gubernur, Bupati dan Walikota sebagai fasilitator yang selalu memback up finansialnya.<br />Disamping itu tak ketinggalan masyarakat Banjarnya. Masyarakat Banjar tetap menumbuhkan kepedulian dan kecintaan terhadap wayang sebab seni wayang adalah salah satu khasanah senibudaya daerahnya dan salah satu pusaka peninggalan ‘urang bahari’ nang harus kita partahanakan sampai kamati. Semoga.******<br /><br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4645463629457162104-7681886810091288610?l=sastrabanjar.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sastrabanjar@gmail.com (Sastra Banjar), 3/7/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sastrabanjar.blogspot.com/2010/03/mengapa-wayang-orang-banjar-dinamakan.html">Wayang Orang Banjar : Mengapa Dinamakan Wayang Gung ?</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'>Oleh : Arsyad Indradi<br /><br /><div style='text-align: justify;'>Kalau kita runut dari beberapa arti yang berkembang kata wayang berarti bayang – bayang.. Wayang Kulit, yang kita saksikan adalah bayang – bayang dari wayang itu dari balik kelir yang dihidupkan oleh blincong ( lampu ). Namun dalam perkembangannya lahir sebuah bentuk kesenian baru yaitu Wayang Orang. Wayang dilakonkan oleh orang. Di Jawa dikenal dengan Wayang Wong.<br />Mengapa wayang orang di Tanah Banjar dinamakan “ Wayang Gung “ ? Secara analogi mungkin Wayang Gung itu sebagai bentuk lain dari Wayang Gong di Jawa atau terjadi perubahan bunyi “ W “ ke “ G “ pada kata “ Wong “ dan “ Gung “. Tetapi berubahan bunyi tersebut kecil kemungkinannya sebab tidak ada peristiwa bahasa yang mirip seperti itu. Dan kedua kata “ Wong “ ( Jawa ) dan “ Gung “ ( Banjar ) tidak memiliki hubungan makna.sama sekali. Kata “ Gung “ dalam bahasa Banjar adalah salah satu instrumen gamelan Banjar yakni “ Agung “. Bunyi agung ini adalah sebagai penutup irama dari bunyi – bunyian instrumen gamelan tersebut. Ada kemungkinan, gerak igal ( tari ) dalam Wayang Gung sangat ditentukan oleh satuan bunyi pukulan agung, sehingga ada kecenderungan penyebutan Wayang Gung ini sebagai pengaruh gerakan pelakonnya yang mendasarkan gerakannya pada bunyi “ Gung “.<br />Gung ( Agung ) dalam budaya Banjar, dianggap keramat. Konon, Lambung Mangkurat pergi ke Kerajaan Majapahit meminta Putra Majapahit yang bernama Raden Putera, yang sebenarnya tidak berwujud manusia, yang akan dijadikan suami Putri Junjuung Buih di Kerajaan Negara Dipa. Sesampainya di Kerajaan Dipa, Raden Putera memasuki istana dengan “ bajajak “ ( berpijak ) di atas agung. Seketika itu Raden Putera berubah wujud menjadi manusia yang sempurna berwajah tampan, yang kemudian berganti nama yaitu Pangeran Surianata. Sejak saat itu “ Gung “ dipandang memiliki mitos sebagai alat menjelmakan Raden Putera yang tidak berwujud manusia hingga menjadi manusia yang sempurna.<br />Jadi kemungkinan besar sebutan Wayang Gung ini ada kaitan erat dengan pengaruh gerakan pelakon Wayang Gung yang berdasarkan gerarakannya pada bunyi “ Gung “ dan juga ada hubungan makna “ Gung “ pada peristiwa Raden Putera menjadi orang ( manusia ).di samping ada kemungkinan lain bahwa adanya pengejawantahan tokoh – tokoh dengan karakter yang “ Agung “ { besar ) pada Wayang Gung. Tokoh Agung ini sebagai simbol kebaikan yang dapat mengalahkan keangkaramurkaan. Dengan tiga tesa ini sebutan “ Wayang Gung “ populer di dalam masyarakat Banjar. *******<br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4645463629457162104-1133316859100660206?l=sastrabanjar.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sastrabanjar@gmail.com (Sastra Banjar), 3/7/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sastrabanjar.blogspot.com/2010/03/sekilas-menjenguki-wayang-gong.html">Wayang Gong Selayang Pandang</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/S5TdIpb9TsI/AAAAAAAAAh4/PFeCERA9yFM/s1600-h/Katopong+wayang.jpg'><img style='margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 113px; height: 102px;' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/S5TdIpb9TsI/AAAAAAAAAh4/PFeCERA9yFM/s200/Katopong+wayang.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5446220990029582018' border='0' /></a><br />Oleh : Arsyad Indradi<br /><br /><div style='text-align: justify;'>Diperkirakan munculnya kesenian Wayang Gung di Tanah Banjar pada abad ke XVIII atau sekitar tahun 1760 M. Raja Banjar mempunyai hubungan erat dengan raja – raja di Pulau Jawa terutama Demak dan Mataram, sekitar abad ke XV. Hubungan inilah kesenian dan kebudayaan Jawa masuk ke Kalimantan. Kesenian ini antara lain adalah Wayang Orang.<br />Wayang Orang ( Wayang Wong – Jawa ) sangat berkenan di hati suku – suku Kalimantan khususnya masyarakat Banjar.<br />Bermula, kesenian wayang hidup hanya di Keraton Banjar saja, namun lama kelamaan wayang ini menyebar ke luar keraton yaitu ke masyarakat Banjar secara meluas. Menyebarnya Wayang Orang ini karena masyarakat Banjar memandang Wayang sebagai lambang hidup dan kehidupan manusia. Wayang mempunyai unsur – unsur filosofis hidup dan kehidupan, memiliki bahasa simbol yang bersifat kerohanian. Apalagi Wayang Purwa yangt berkembang itu adalah memiliki mitos Sunan Kalijaga yang berbermuatan ajaran filsafat Islam. Masyarakat Banjar adalah umumnya masyarakat Melayu Banjar yang beragama Islam tak heran kesenian Wayang cepat berkembang di masyakarat Banjar ini.<br />Wayang Orang yang dikenal dalam masyarakat Banjar adalah Wayang Gung. Wayang Gung merupakan kreativitas kreator “ Dalang Banjar “ dari adaptasi Wayang Wong. Wayang Gung pada akhirnya mempunyai ciri khas atau versi Banjar, dari segi teknik garapan , gamelan, kostum, propertis, gerak igal ( tari ), bahasa pengantar dan struktur pergelaran, walapun masih ada idiom – idiom dari Wayang Wong ( Jawa ).<br /><br /></div><span style='font-weight: bold;'>Wayang Gung mempunyai lima fungsi yaitu :</span><br /><br /><span style='font-weight: bold;'>Pertama</span>, sebagai hiburan. Wayang Gung dipergelarkan manakala acara hiburan peringatan<br />hari – hari besar baik nasional maupun daerah, acara perkawinan dan paska panen padi.<br /><span style='font-weight: bold;'>Kedua</span>, fungsi Didaktis. Wayang Gung merupakan media strategis untuk menyampaikan pesan – pesan yang bersifat edukatif pada masyarakat Banjar.<br /><span style='font-weight: bold;'>Ketiga</span>, berfungsi Filosofis. Wayang Gung banyak memiliki ajaran-ajaran mistis dalam kehidupan manusia. Mistis ini bersifat filosofis yakni berhubungan keduniaan ( lahiriah ) dan mental spritual ( batiniah ). Orang menyaksikan pertunjukan Lakon Wayang Gung sebagai refleksi diri. Banyak falsafah dan bahasa simbol hidup dan kehidupan yang dapat dipetik untuk kesadaran batin. Mitos ini diejawantahkan dalam hidup dan kehidupan sehari – hari.<br /><span style='font-weight: bold;'>Keempat</span>, berfungsi Nazar. Pertunjukan Wayang Gung atas permintaan seseorang atas terkabulnya maksud atau rencana seseorang itu. Nazar ini harus dipenuhi, menurut kepercayaan masyakarat Banjar kalau tidak dipenuhi akan terjadi malapetaka bagi penazarnya.<br /><span style='font-weight: bold;'>Kelima,</span> berfungsi ritual ( magis ). Wayang Gung diselenggarakan untuk maksud mengusir penyakit atau pun bencana.<br /><br />Dalam pergelaran Wayang Gung mempunyai bentuk empat struktur babakan. Babakan ini merupan inti struktur alur. Struktur babakan ini yaitu :<br /><br /><span style='font-weight: bold;'>Pertama</span>, Mamucukani. Yaitu babakan tuturan permulaan kisah dalam bentuk sindin. dan dialog. Ada tiga dalang yang terdiri dari Dalang Sejati, Dalang Pangambar dan Dalang Utusan. Fungsi Dalang Pangambar dan Dalang Utusan adalah melengkapi tutur dari Dalang Sejati.<br /><span style='font-weight: bold;'>Kedua</span>, Sidang Jajar. Adalah babakan sidang Kerajaan dari para satria kerajaan membahas suatu peristiwa yang berhubungan dengan masalah – masalah yang dihadapi kerajaan tersebut.<br /><span style='font-weight: bold;'>Ketiga</span>, Konflik. Dalam babakan ketiga ini perang atau pertempuran antara tokoh baik dengan tokoh jahat.<br /><span style='font-weight: bold;'>Keempat</span>, Bapacah. Adalah babakan antiklimak dari konflik. Biasanya dalam Wayang Gung selalu disajikan happy Ending atau kemenangan dipihat kebaikan.<br /><br /><div style='text-align: justify;'>Wayang Gung umumnya mengangkat cerita dari epos Ramayana tetapi ada juga menyajikan seperti tarian daerah atau dialog – dialog yang bersipat humor, dan memasukkan unsur pesan – pesan lain yang bersifat carangan yang disesuaikan dengan suasana penonton.<br />Umumnya pelakon dari Wayang Gung merupakan pelakon yang khusus artinya setiap tokoh dilakonkan oleh pelakon tertentu. Misalnya tokoh Hanoman dilakonkan oleh seseorang yang benar – benar menggeluti dan menghayati perilaku atau karakter tokoh Hanoman. Begitu juga tokoh Dasamuka ( Rahwana ) dilakonkan oleh pelakon tertentu dan seterusnya. Tak jarang kelompok Wayang Gung mengambil pelakon dari kelompok Wayang Gung yang lain karena pelakonnya berhalangan. Oleh karena itu kelompok Wayang Gung yang terkenal karena kelompok ini banyak mempunyai pelakon yang khusus atau pelakon yang profisional.<br />Kalau kita amati sejarah perjalanan Wayang Gung Banjar di Kalimantan khususnya Kalimantan Selatan, sudah dua abad umurnya. Dengan usia yang panjang ini Wayang Gung telah memperkaya khasanah seni tradisional di Kalimantan khususnya masyarakat Banjar Kalimantan Selatan. Maka Wayang Gung perlu diwariskan dengan generasi masa kini agar mereka tidak terserabut dari akar budaya nenek moyangnya. Tampaknya, di era globalisasi ini nasibnya tak berbeda dengan Wayang Kulit Banjar yang kian hari kian dilupakan orang, pada gilirannya tak mustahil akan musnah ditelan zaman. Siapa yang bertanggung jawab ? ***<br /><br /><br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4645463629457162104-6356116721196874320?l=sastrabanjar.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sastrabanjar@gmail.com (Sastra Banjar), 3/7/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2010/03/blog-post.html">Puisi Arsyad Indradi : Kwatrin Rindu</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S5Eni6JSOII/AAAAAAAACdU/4lfohx0AAOI/s1600-h/Kwatrin+Rindu.jpg'><img style='margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 244px;' src='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S5Eni6JSOII/AAAAAAAACdU/4lfohx0AAOI/s320/Kwatrin+Rindu.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5445176905144875138' border='0' /></a><br /><br /><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S5EdsVIjmtI/AAAAAAAACdE/G5SFPClssro/s1600-h/Kuatren+Rindu.jpg'><br /></a><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-5392445728795146965?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 3/5/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.net/puisi-arsyad-indradi-3/">Puisi Arsyad Indradi</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">');
document.write('');
document.write('');
document.write('');
document.write('</p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>arsyadindradi, 3/3/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hariesaja.wordpress.com/2010/03/01/mencari-calon-pemimpin-daerah-kalsel-yang-peduli-seni-dan-budaya/">Mencari Calon Pemimpin Daerah Kalsel yang Peduli Seni dan Budaya</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Di atas rak buku saya ada surat undangan yang sudah basi. Di dalam undangan itu berisi jadwal kegiatan Festival Sastra Kalimantan Selatan yang dilaksanakan 19 Desember 2009 di Taman Budaya Kalsel. Meski sudah lewat (basi), undangan tersebut masih baru bagi saya. Maklum, Empat bulan terakhir ini saya tidak berada di Banjarbaru karena sedang menikmati udara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hariesaja.wordpress.com&blog=1657904&post=436&subd=hariesaja&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>hariesaja, 2/28/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hariesaja.wordpress.com/2010/03/01/menerbitkan-buku-sendiri/">Menerbitkan Buku Sendiri</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Melanjutkan tulisan Mantra: Publish or Perish. Jika belum membacanya, silakan baca dulu. Tulisan ini cenderung mengupas hal-hal teknis atau proses menerbitkan buku berdasarkan pengalaman pribadi saya.');
document.write('Sebuah Proses. Dalam menerbitkan buku, pada dasarnya sangatlah cerewet. Tapi bagi mereka yang sudah menjalaninya, tetap saja cerewet tapi itu hampir tidak dirasakan lagi. Berbeda bagi mereka yang baru ingin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hariesaja.wordpress.com&blog=1657904&post=433&subd=hariesaja&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>hariesaja, 2/28/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hariesaja.wordpress.com/2010/02/27/mantra-publish-or-perish/">Mantra: Publish or Perish</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Konon, Publish or Perish merupakan ungkapan yang demikian populernya di kalangan akademisi  Amerika Serikat. Bukan bermaksud mengagungkan pola pikir mereka tapi sekadar menghayati besarnya pengaruh tiga kata tersebut; Publish or Perish.');
document.write('Di Indonesia pernah ada sebuah jargon yang tidak kalah hebat dan memiliki pengaruh besar (sekadar contoh). Yakni; Merdeka atau Mati! ');
document.write('Kalau mau direnungkan, kedua jargon [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hariesaja.wordpress.com&blog=1657904&post=429&subd=hariesaja&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>hariesaja, 2/26/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.net/tiga-penyair-dunia-5/">Tiga Penyair Dunia ( 5 )</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">');
document.write('');
document.write('');
document.write('');
document.write('Walt Whitman  (1819-1892 )');
document.write('Penyair Amerika.Ia memulai memunculkan sajak-sajak bebas modern. Banyak pengalaman hidup seperti menjadi : opas kantor, guru sekolah, redaktur, pembantu pendeta, tukang kayu, kusir kereta pos, penyalin dan jururawat. Ia merawat serdadu-serdadu yang luka dalam perang saudara di Amerika. Delapan tahun lamanya ia bekerja sebagaia klerk kantor pemerintah di Washington. Karena lumpuh [...]</p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>arsyadindradi, 2/24/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.net/sekilas-tentang-penyair-gila-arsyad-indradi-dan-secuil-sajak-religiusnya/">Sekilas tentang Penyair Gila Arsyad Indradi dan Secuil Sajak Religiusnya</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Oleh : Mahmud Jauhari Ali');
document.write('');
document.write('');
document.write('');
document.write('Arsyad Indradi');
document.write('');
document.write('Penyair yang satu ini telah lama saya kenal dengan rambut panjangnya yang aduhai menawan hati. Bersama lima belas seniman Kalimantan Selatan lainnya pernah dipenjara kerena melawan pemerintah. Sejak tahun 1970-an awal hingga sekarang, penyair yang bernama lengkap Muhammad Arsyad Indradi ini masih setia dengan dunia kepenyairan lokal maupun nasional. Bahkan [...]</p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>arsyadindradi, 2/24/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hariesaja.wordpress.com/2010/02/25/poster-ruang-publik-dan-budaya/">Poster, Ruang Publik dan Budaya</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Tiap kali ada pemilihan pemimpin; baik calon presiden, calon gubernur, calon bupati dan calon walikota maka di ruang-ruang publik akan hadir papan reklame yang membawa pesan resmi untuk masyarakat. ');
document.write('Saat ini tampaknya mata kita memang dikondisikan untuk memandang ke papan reklame. Awalnya memang bukan mata kita yang menginginkan, tapi lambat laun mata kita terbiasa dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hariesaja.wordpress.com&blog=1657904&post=426&subd=hariesaja&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>hariesaja, 2/24/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2010/02/menyoal-pilkada-palu.html">Menyoal Pilkada Palu</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><div style='text-align: center;'><span style='font-size:130%;'>PAPAKERMA BEGAWAN NAGARI</span><br /><span style='font-size:130%;'>(Ketika Persaingan Tak Sehat Menzarah Pemikiran Kandidat Walikota Palu)</span><br /><span style='font-size:130%;'>: Oleh K. Ariwa)*</span><br /></div><br /><br /><br /><div style='text-align: justify;'>MENENGOK prakada di perbagai wilayah se-Indonesia memang menuai kontroversi yang negatif. Intrik dilakukan calon penguasa nagari dengan tidak sehat, antara lain ditandai dengan pembusukan kandidat untuk menjatuhkan kandidat saingannya, hingga kesan pesimistis menjadi tolok ukur keberhasilan pembusukan tersebut. Tak perlu ditampik bahwa pengaruh, status sosial, maupun kesejahteraan kandidat menjadi penting untuk diketahui oleh publik menyoal aral yang melintang kelak serta sebuah konsekuensi perubahan yang wajib diemban penguasa sekaligus kepuasan masyarakat akan pelayanan pemerintah ke depan.<br /><br /> Palu sebagai ibukota provinsi Sulawesi Tengah menyimpan polemik laten yang tidak saja membahayakan intern kandidatnya tetapi juga publik yang selama ini masih terombang-ambing dengan persoalan kekuatan financial yang dimiliki kandidat. Di tengah papakerma tersebut, hadirnya begawan yang mampu menampung segenap aspirasi positif publik menjadi urgen dalam rangka memanusiakan manusia seutuhnya khusunya publik Palu yang secara umum masih jauh dari makna kemajuan dibandingkan dengan beberapa daerah lain di Sulawesi.<br /><br /> Betapa tidak, bisa dilihat dari infrastruktur pembangunan sarana dan prasarana dan kualitas sumber daya manusia yang jauh kalah dibandingkan dengan person publik di tempat lagi. Apalagi bila kita mengukur Jawa? Palu adalah iklim berkehidupan yang akan (mulai) membangun tatanannya agar bisa setaraf dengan wilayah lain minimal se-Sulawesi. Untuk itu, disadari (tidak) perlu perubahan secara substansi dan diejawantahkan sebagai agent of change untuk sebuah nagari (daerah) yang lebih purna.<br /><br /> Hingga apa yang didambakan oleh publik dapat direngkuh minimal semua hak-hak dasar kemanusiaan hakiki dapat diakomodir oleh pemimpin ke depan. Di masa sekarang, yang katanya semakin maju justru hak-hak manusia semakin terabaikan hal ini ditandai dengan beberapa hal antara lain di bidang: kesehatan, pendidikan, dan penyediaan sumber energi serta kebutuhan air bersih. Eko Prasetyo, seorang penulis buku Orang Miskin Dilarang Sekolah memaparkan bahwa keterbatasan yang dimiliki oleh orang kecil tidak digubris oleh kalangan atas dalam hal ini pemerintah yang notabenenya melindungi dan memberikan pelayanan bagi kalangan menengah ke bawah, ternyata? Bantuan yang katanya 20% dari anggaran pemerintah sampai ke tangan rakyat kecil dengan sejumlah potongan yang disebut pajak-pajak. Hal ini juga membawa keterpurukan negara kita khususnya kader bangs hingga ancaman putus sekolah masih disinyalir kerap terjadi di masyarakat yang berekonomi lemah.<br /><br />Selain itu orang miskin juga dilarang sakit! Sebab biaya pengobatan dan segala tetek-bengek persoalan administrasi masyarakat miskin justru di buat rumit oleh pemerintah sendiri. Malah pernah terjadi, ketika pasien tengah gawat darurat (koma) sedang persoalan administrasi belum tertuntaskan oleh pihak keluarga maka alhasil pasien tidak bisa mendapat pertolongan cepat hingga ajal menjemputnya. Sungguh disayangkan memang sebab proses administrasi oleh pemerintah Palu yang sekarang sangat berbelit-belit dan membutuhkan waktu yang sangat panjang. Jangankan hal tersebut, mengurus KTP/ KK saja memerlukan alokasi waktu minimal satu minggu. Ditambah lagi para pelayan-pelayannya yang tidak profesional dan (maaf) kasar apalagi ketika tahu yang mengurusnya adalah orang kecil. Hal ini perlu diperbaiki segera karena memanfaatkan jasa para honorer atau PNS baru yang masuknya dengan kolusi dan nepotisme justru mendatangkan mudarat bagi masyarakat Palu sendiri. Pada akhir Desember 2008 lalu, hal ironis serupa terjadi di Jawa Tengah. Ketika anggota DPRD propinsi tersebut menaikkan tarif biaya rumah sakit bagi kelas ekonomi menengah ke bawah sebesar 300% sementara VIP atau kelas utama (atas) tidak mengalami kenaikan sama sekali. Sungguh nanar kejadian tersebut, semoga tidak terjadi di Kota Teluk Palu.<br /><br />Menyoal sumber energi listrik dan air bersih yang setiap waktu mendapat sumpah serapah dari masyarakat biasa katakanlah menengah dan menengah ke bawah. Hal ini perlu cepat dialihtangankan atau dipindahtangankan atau dibantu oleh pemerintah agar sekelumit problematika byar-pet dapat tertuntaskan dengan cepat. Di samping itu, kebutuhan masyarakat akan air bersih juga menjadi catatan penting bagi calon kandidat ke depan. Sebab, biarpun PDAM tetaplah tidak bisa mendatangkan makna ‘bersih’ itu sendiri. Sebab, kala hujan mengguyur kota Palu sebagian penduduk yang tinggal di kawasan Palu Barat akan mendapati air yang kecoklatan bahkan hitam bercampur lumpur. Hal yang demikian perlu digarisbawahi dan menjadi catatan penting karena Palu (masih) akan berkembang, belum menuju (mau) maju. Sehingga yang paling penting adalah sekelumit persoalan hak-hak dasar kemanusiaan.<br /><br />Ketika Wanita Menjadi Kandidat<br /><br /> Minor negatif selalu tertuai bila hal ini mencuat dipermukaan karena kontroversi akan hadir baik dari segi agama maupun kemampuan sendiri bagi seorang wanita. Padahal sejumlah negara pernah dipimpin oleh perempuan termasuk Indonesia.<br /> Di Palu (Sulawesi Tengah) sejarah pemimpin wanita juga pernah terjadi pada masa kolonial Belanda ialah Itondoei yang sekarang daerahnya termaktub di Kabupaten Sigi atau cerita Raja Lingginayo juga seorang perempuan. Bahkan seorang Panglima Burung bagi suku Dayak adalah wanita.<br /><br /> Lewat kacamata agama khususnya Islam, diwajibkan pemimpin itu adalah golongan ulama dan umara yang berjenis kelamin laki-laki. Namun pada nadirnya ketika kaum adam belum bisa membawa perubahan yang substansi dalam beranah di kemimpinan daerah maka wanita dengan segenap pengalamannya disertai rasa, empati dan belas bisa hadir dalam memberi warna baru demi kemaslahatan seluruh umat. Apalagi di tengah pluralisme dalam dinamika kehidupan publik di era sekarang, sah-sah saja ketika wanita ikut andil dalam pembaruan untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat khususnya mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. Harus ada yang berubah untuk lebih! Semoga![]<br /><br /><br /><br />)* Pemerhati Masyarakat Kota Palu  <br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-4385937147547698711?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 2/15/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2010/02/cenayang-palu_15.html">Cenayang Palu</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><span style='font-size:130%;'><span style='font-weight: bold;'>Eksploitasi: Sebuah Bagian Ekspresi </span><br /><span style='font-weight: bold;'>(Tanggapan Hentikan Eksploitasi Seniman di Mercusuar 11 Februari 2010) </span></span><br /><br /><br />APAKAH bila sudah beberapa kali berkarya dikatakan seniman? Apakah bila sudah menulis puisi dan dibukukan dikatakan penyair? Apakah memang begitu klaimisasi seni di ranah nagari kita ini? Ah.<br /><br />Oleh: Hudan Nur<br /><br /><div style='text-align: justify;'> Tulisan yang dibuat oleh seorang Jamrin Abubakar beberapa waktu lalu membuat nelangsa dan miris. Ditambah lagi fakta akan kualitas berkesenian yang pelakunya sendiri tidak tahu standar berkesenian di era sekarang (masih berkiblat ke barat). Sehingga originalitas dan flagiator kesenian tidak bisa dibedakan oleh kacamata para pelaku seni di Kota Palu.<br /><br /> Seperti kasus karya-karya M. Djaruddin Abdullah yang secara terang-terangan di flagiat oleh Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Propinsi Sulawesi Tengah  pada tahun 2007, tidak mendapat respon apa-apa. Padahal kalau ditelaah lebih jauh, perbuatan yang dilakukan oleh seorang Kadis tersebut termasuk ke dalam kasus pidana. Ini perlu digarisbawahi dan ditindaklanjuti sebab menurut informan karya tersebut telah dibukukan dan beredar di Yogyakarta dan sekitarnya atas nama Kadis tersebut. Hal ini sangat memalukan, dan perlu diusut secara tegas.<br /><br /> Barangkali mengingat minimnya cakrawala berpikir dan berkreasi sehingga jabatan bisa dijadikan mobilisasi dalam mengklaim karya orang sebagai karya sendiri. Oh, Tuhan ampuni dosanya!  <br /><br />  Dilain pihak, ketika seniman birokrat dengan gayanya yang menjenuhkan mencoba merangkul kembali bahu para seniman murni maka yang harus dilakukakan oleh seniman murni adalah melawannya. Sebab disadari atau tidak, hidup adalah pilihan dan jangan sampai pilihan yang memilihkan kita. Sehingga, kita bisa memihak dan memilah yang mana kawan, yang mana lawan, dan kita jangan pernah merasa takut karena kekuasaan, sebab semuanya telah terfirkah-firkah adanya.<br /><br /> Seyogianya juga eksploitasi seniman memang harus dihentikan. Namun bagaimana bila ada beberapa oknum (seniman) yang senang dengan eksploitasi semacam ini? Jawabannya kembali ke diri seniman itu sendiri dan pantaslah yang demikian disebut pengkhianat seni! Maka berhati-hatilah hai para seniman yang mempunyai ide brilian jangan sampai ide cemerlangmu terlontar ketika diwicarakan dengan seniman birokrat karena dengan gamblang ide tersebut akan dicaplok sebagai idenya.<br /><br /> Lalu, mengenai standarisasi seorang dikatakan seniman atau teaterawan atau penyair itu bagaimana? Apakah dengan beberapa kali menulis puisi dan dibukukan dikatakan penyair? Mudah betul kalau begitu!   Padahal di Indonesia ada badan standar yang bisa mengukur kualitas karya penulis lewat media yakni antara lain seperti Majalah Horison, Kompas, Pawon Sastra, Lebah, Republika, Media Indonesia, dan Tempo. Lalu dalam teater antara lain: ada Federasi Teater Indonesia, Mimbar Teater Indonesia, Katimuri, dsb. Begitu juga dalam hal rupa, kriya, musik, dan tari. Memang ada standar baku penilaian mutu yang berkiblat ke barat dan timteng. <br /><br /> Lantas bagaimana bila eksploitasi dimaknakan ekspresi?<br /><br /> Menurut hasil pertemuan Dewan Kesenian se-Indonesia di Malang beberapa tahun silam, bahwasanya semua kegiatan pemerintah yang berhubungan dengan seni maka wajib hukumnya penggerak, pelaksana, maupun penggagas menu seninya adalah pelaku seni pribumi (murni) itu sendiri! Ini tidak bisa ditawar lagi, karena memang merekalah yang tahu betul nadir kesenian, baik yang berskala regional maupun nasional. Tapi apakah hal ini juga berlaku di Kota kita?<br /><br /> Apa Kabar Dewan Kesenian Palu (DKP)?<br /><br /> Kesemangatan sebagian para anggota DKP dalam berkesenian perlu kita tanggapi dengan positif, karena dimana-mana yang namanya dewan pasti ada pro-kontra. Tetapi itu dilema yang mesti ada dalam berkehidupan organisasi termasuk kesenian. Namun yang disayangkan apabila ada oknum-oknum yang hanya tahu sedikit tentang kesenian, malah berkoar menyoal seni bergema-gema. Padahal substansi seni yang hakiki belum ia miliki dan terapkan dengan benar sebenar-benarnya.<br /><br /> DKP periode baru ini mengakomodir seluruh kalangan dengan berbagai komposisi lewat bias manapun, atau bila dikatakan lebih gamblang merekrut seluruh kalangan. Ini positifnya, namun kelemahannya: ada kalangan yang baru kemarin tercebur ke kesenian sudah memploklamirkan dirinya sebagai seniman sejati. Wah ini kebablasan namanya! Seolah-olah ia tahu banyak tentang kesenimanan padahal baru sebibir pantai ia rasai asin garam kesenian. Mesti kita ketahui juga bahwa garam itu asin, tetapi asin bukan berarti lautan bukan?<br /><br /> Belum lagi polemik persepsi yang beraneka. Itu lumrah adanya. Tetapi, satu hal yang harus diingat Dewan Kesenian tidak seporsi dengan komunitas atau sanggar kesenian karena dewan adalah puncak tertinggi dalam hirarki kesenian. Ia menaungi semua sub-aspek kesenian, ini berarti ia juga harus mempunyai persepsi kedewanan yang benar. Banyak yang belum mengerti dengan ini. Sehingga kinerja kedewanan bisa berjalan dengan seharusnya, dan ini memerlukan energi untuk mensinergikannya, dan setiap kita adalah aset seni-budaya yang harus mendukung keberlangsungan kesenian di Kota Teluk ini. Mari kita berekspresi dalam kita!<br /></div><br /><br /><br />Penulis adalah Pegiat di Kostra Latarnusa sekaligus Anggota DKP<div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-8305808292807225505?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 2/15/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2010/02/ksi-kostra-latarnusa.html">KSI: Kostra Latarnusa</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><div style='text-align: justify;'>Kostra Latarnusa merupakan singkatan Komunitas Sastra Indonesia dan Tradisi Lisan Nusantara Palu-Sulawesi Tengah yang baru berdiri di Kota Palu. Kostra Latarnusa merupakan anak cabang dari Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Pusat Jakarta, karena di Sulawesi Tengah kaya tradisi lisan maka kami secara otonomi mengklaimkan diri lebur bersama tradisi lisan. Dari sini, diharapkan tradisi lisan dapat dialihterasikan  dalam bentuk literatur sastra tertulis hingga pelestarian tradisi lisan dapat terakomodir, minimal terdokumentasikan lewat tulisan.<br /><br />Dari segi umum, 'tradisi lisan' merujuk kepada penyampaian bahan budaya melalui sebutan lisan, dan telah lama dikatakan sebagai gambaran cerita rakyat (kriteria yang tidak lagi dipegang kemas oleh kesemua pencerita rakyat). Sebagai bidang akedemik, ia merujuk kepada kedua kaedah saintifik dan objek yang dikaji oleh kaedah tersebut. Tradisi lisan merujuk kepada segala bentuk warisan dan tradisi yang lahir dalam sesuatu kelompok masyarakat. Penyampaian tradisi ini berbentuk perantaraan lisan. Ia merupakan satu cara masyarakat menyampaikan sejarah lisan, kesusastraan, perundangan dan pengetahuan lain menyeberangi generasi tanpa sistem tulisan.<br /><br />Kajian tradisi lisan adalah berbeda dengan bidang akademik sejarah lisan, yang merupakan rekaman ingatan pribadi dan sejarah oleh mereka yang mengalami era sejarah atau kejadian tertentu. Ia juga berbeda dengan kajian kelisanan (orality) yang boleh ditafsirkankan sebagai pemikiran dan gambaran lisan dalam masyarakat di mana teknologi kesusastraan (terutamanya tulisan dan cetakan) tidak meluas dikalangan penduduknya. Akan tetapi pada kenyataannya posisi tradisi lisan masih terpinggirkan, potensinya masih terabaikan, dan masih banyak yang menganggap bahwa tradisi lisan hanyalah peninggalan masa lalu hanya cukup menjadi kenangan manis belaka.<br /><br />Tradisi lisan seolah-olah tidak relevan lagi dengan kehidupan modern yang semakin melaju sangat cepat selama ini. Kemajuan teknologi ternyata tidak disikapi secara arif sehingga semakin meminggirkan posisi tradisi lisan.<br /><br />Dunia sastra, baik yang berbahasa Indonesia mau pun yang berbahasa daerah nampak seperti kerakap di atas batu, mati segan hidup tak mau. Di kalangan para pendukung sastra ada semacam rasa ketergantungan pada uluran tangan pemerintah kurang semangat mandiri dalam berkesenian. Kekuatan potensial terpencar oleh tidak adanya organisasi yang mampu menghimpun mereka. Organisasi sangat tergantung pada tenaga lokomotif untuk bisa bergerak. Sementara Dewan Kesenian lumpuh, hanya ada namanya.<br /><br />Sastra berbahasa, baik lisan atau pun tulisan juga terancam binasa.Kepunahan ini bisa dipercepat oleh tidak adanya kesadaran budaya di dua tingkat yaitu tingkat atas dari pengelola kekuasaan politik yang nampak dengan tidak memiliki politik kebudayaan yang jelas. Dari bawah yaitu di kalangan masyarakat yang larut oleh budaya pop tanpa memahami apa itu budaya pop yang melarutkannya.<br /><br />Berangkat dari posisi sastra dan tradisi lisan yang masih terpinggirkan khususnya di kota Palu dan dengan kedatangan Dzawawi Imron ke Kota Palu sekaligus launching KSI di mata masyarakat sastra di Palu membawa dampak besar dalam pengakomodiran sastra dan tradisi lisan yang dimiliki oleh Palu. Kegiatan bulan depan yang akan digelar KSI Palu adalah Cerdas Cermat Sastra dan Tradisi Lisan dan Kostra Latarnusa Awards bagi seluruh pelajar SMA (sederajat).<br /><br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-320167580613561795?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 2/15/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2010/02/ksi-palu-dalam-kostra-latarnusa.html">KSI Palu dalam Kostra Latarnusa</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><div style='text-align: center;'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://4.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/S3kSPAmgI0I/AAAAAAAAAQM/wkI3V1o6DEU/s1600-h/Image055.jpg'><img style='margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;' src='http://4.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/S3kSPAmgI0I/AAAAAAAAAQM/wkI3V1o6DEU/s320/Image055.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5438398074095412034' border='0' /></a><span style='font-weight: bold;'>Hapri Ika Poigi bersama Dzawawi Imron<br />(Pasca Launching KSI Palu, 15 Januari 2010)<br /></span></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-7105168452667352920?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 2/15/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.net/kenduri-senja/">Puisi Arsyad Indradi :Kenduri Senja</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Kenduri Senja');
document.write(': Diah H + Dimas AM');
document.write('O jagat. Siapa membakar dupa disenja sunyi');
document.write('Hingga ufuk menjadi surup');
document.write('Dan tujuhratus dewi turun dari pelangi');
document.write('Menarikan marifat cinta ');
document.write('Nyi Gondosuli membangun pertapaan yang ke tujuhpuluh,katamu');
document.write('Akan melahirkan tujuhratus anyaman hati');
document.write('Cakrawala kehidupannya');
document.write('Mari kita tabuh tifa');
document.write('Masuk dalam tujuhlapis asap wanginya');
document.write('Olala');
document.write(' Kssb,2010');
document.write('</p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>arsyadindradi, 2/3/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2010/01/puisi-estetika-dan-masyarakat.html">PUISI, ESTETIKA DAN MASYARAKAT</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>Abdul Hadi W. M.</span><br /><br /><br />Saya minta maaf sebesar-besarnya kepada panitia oleh karena tidak dapat menumpukan pembicaraan kepada antologi yang dikirim kepada saya untuk dibahas dalam pertemuan ini. Alasannya sederhana, antologi tersebut baru saya terima seminggu sebelum saya berangkat ke Banjarmasin. Sungguh tidak mungkin saya dapat membaca antologi yang berisi lebih dari 100 sajak itu dalam waktu singkat. Kesibukan mengajar yang padat dalam hari-hari menjelang akhir semester juga  merupakan halangan tersendiri untuk membaca antologi tersebut dengan penuh perhatian. Sebagai gantinya saya pilih topik yang ligkup pembicaraannya lebih luas dan umum.Kendati demikian saya akan berusaha tidak melepaskan tanggung jawab  saya meyinggung sajak-sajak dalam antologi yang diterbitkan panitia.<a href='http://estikaler.blogspot.com'><span style='text-decoration: underline;'>Lanjutkan Klik disini</span></a><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-6120953311226169428?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 1/22/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2010/01/puisi-arsyad-indradi-rawi-meratus.html">Puisi Arsyad Indradi : Rawi Meratus</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S1lzJw-fhiI/AAAAAAAACNw/vo6jm-WjtCo/s1600-h/potoku+jar.png'><img style='margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 140px; height: 169px;' src='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S1lzJw-fhiI/AAAAAAAACNw/vo6jm-WjtCo/s200/potoku+jar.png' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5429497437374875170' border='0' /></a><br /><span style='font-weight: bold;'>Rawi Meratus</span><br /><br />Tak pupus asap kemenyan<br />Rohroh pada  bangkit dari tujuh liang gua batu<br />dari tujuh talikan akar sungsang<br />Surup melayat hutan melayat gunung<br />Sayatan tangis karariang tak teduhteduh<br />Balai tak mampu lagi menyimpan patung sunyi<br /><br />Disini asal mula tulisan rawi kematian itu<br />Tapi setelah sekian waktu jadi meranggas<br />Lalu menjadi sebuah dongeng<br /><br /><br /><br />Maka tak perlu lagi<br />membiar risau<br />meratus makan kembang ilalang<br />membiar resah<br />jalan setapak turun ke guntung<br />membasuh mimpi<br />Sesungguhnya guntung telah kehabisan airmata<br /><br />Dan tak perlu lagi berulang membaca rawi itu<br />Tapi bangkitkan roh rawi nenek moyang<br />dimana membangun sebuah benua<br /><br />Banjarbaru,2010<br /><br />Catatan :<br />Talikan =  sejenis pohon beringin<br />karariang = sejenis lalat besar ( gangsir)<br />guntung  =  anak sungai<div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-7274865392609674360?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 1/22/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.net/puisi-arsyad-indradi-2/">Puisi Arsyad Indradi : Rawi Meratus</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">');
document.write('');
document.write('');
document.write('');
document.write('Rawi Meratus');
document.write('');
document.write('Tak pupus asap kemenyan');
document.write('Rohroh pada  bangkit dari tujuh liang gua batu');
document.write('dari tujuh talikan akar sungsang');
document.write('Surup melayat hutan melayat gunung');
document.write('Sayatan tangis karariang tak teduhteduh');
document.write('Balai tak mampu lagi menyimpan patung sunyi');
document.write('Disini asal mula tulisan rawi kematian itu');
document.write('Tapi setelah sekian waktu jadi meranggas');
document.write('Lalu menjadi sebuah dongeng');
document.write('Maka tak perlu lagi');
document.write('membiar risau');
document.write('meratus makan kembang ilalang');
document.write('membiar resah');
document.write('jalan setapak turun [...]</p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>arsyadindradi, 1/21/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.net/puisi-arsyad-indradi/">Puisi Arsyad Indradi : Nyanyian Laut</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">');
document.write('');
document.write('');
document.write('');
document.write('Nyanyian Laut');
document.write('');
document.write('Hanya kepada laut mencurahkan  suratan hidup');
document.write('Angin pantai selatan tak pernah diam menakbirkan gemuruh ombak seluasluas laut');
document.write('Manakala senja dan burungburung pada pulang');
document.write('Dan nyanyian sunyi selepas ombak di pantai');
document.write('Meronce buihbuih sepanjang semenanjung');
document.write('Dari riwayat pelayaran yang panjang');
document.write('Tak pernah takluk pada takdir');
document.write('Sebab masih jauh di balik anganangan');
document.write('Sebelum matahari terbenam dan bintangbintang berjatuhan pada malam');
document.write('tahukah kau aku menyerumu [...]</p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>arsyadindradi, 1/17/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2010/01/nyanyian-laut.html">Nyanyian Laut</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S1HixoddNEI/AAAAAAAACNo/LHFKw_Pdc7c/s1600-h/ombak+lautku+2.jpg'><img style='margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 128px;' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S1HixoddNEI/AAAAAAAACNo/LHFKw_Pdc7c/s200/ombak+lautku+2.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5427368368260592706' border='0' /></a><br />Arsyad Indradi<br /><br />Nyanyian Laut<br /><br />Hanya kepada laut mencurahkan  suratan hidup<br />Angin pantai selatan tak pernah diam menakbirkan gemuruh ombak seluasluas laut<br />Manakala senja dan burungburung pada pulang<br />Dan nyanyian sunyi selepas ombak di pantai<br />Meronce buihbuih sepanjang semenanjung<br />Dari riwayat pelayaran yang panjang<br /><br />Tak pernah takluk pada takdir<br />Sebab masih jauh di balik anganangan<br />Sebelum matahari terbenam dan bintangbintang berjatuhan pada malam<br />tahukah kau aku menyerumu sampai pada ujung yang paling penghabisan<br />Kulminasi karang pada sonder suara menatap merahnya cahya di ufuk<br />Menafsir kemana awangemawan akan beranjak<br /><br />Daundaun nyiur pada pohon berkakuan<br />Kudesaukan sehabishabis angin kembara<br />Hopla gemuruh<br />Gemuruh seleluasa ombak mengejarmu<br />Kaki langit tak risau tak pantang gemulung resah biru laut birunya kalbu merah ufuk merahnya darah jiwa berbuncah<br />Hanya kepada laut<br />Kulayarkan segala rindu<br /><br />Banjarbaru,2010<div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-5666797271209706006?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 1/16/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.net/puisi-estetika-dan-masyarakat/">PUISI, ESTETIKA DAN MASYARAKAT</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Abdul Hadi W. M.');
document.write('Saya minta maaf sebesar-besarnya kepada panitia oleh karena tidak dapat menumpukan pembicaraan kepada antologi yang dikirim kepada saya untuk dibahas dalam pertemuan ini. Alasannya sederhana, antologi tersebut baru saya terima seminggu sebelum saya berangkat ke Banjarmasin. Sungguh tidak mungkin saya dapat membaca antologi yang berisi lebih dari 100 sajak itu dalam waktu [...]</p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>arsyadindradi, 1/16/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sfirly.wordpress.com/2010/01/16/bab-terakhir-novel-rumah-debu/">Bab Terakhir Novel Rumah Debu</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Hanya Sebutir Debu');
document.write(' ');
document.write(' ');
document.write(' ');
document.write(' ');
document.write(' ');
document.write(' ');
document.write(' ');
document.write(' ');
document.write(' ');
document.write(' ');
document.write(' ');
document.write('Di saat kamu membaca catatan ini, aku mungkin sedang berlayar entah di laut mana, entah ke negeri mana, atau di jalanan yang aku sendiri tak tahu namanya di sebuah kota yang mungkin aku juga tak tahu di mana; hanya orang-orang asing dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=295&subd=sfirly&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sandi, 1/15/2010</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/12/refleksi-akhir-tahun.html">Refleksi Akhir Tahun</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><div style='text-align: justify;'>CATATAN  SINGKAT TSI; SEBUAH REFLEKSI YANG PATUT DICAMKAN<br /></div>(Refleksi Beberapa Event Nasional di Tahun 2009)<br />: Hudan Nur)*<br /><br /><br /><div style='text-align: justify;'>KEGIATAN TEMU SASTRAWAN INDONESIA (TSI) yang berlangsung beberapa waktu lalu di Pangkalpinang, Bangka Belitung mengantungi banyak catatan bagi masing-masing peserta yang notabenenya sebagian besar adalah penulis. Ada banyak hal yang bisa dibawa pulang setelah perhelatan tersebut yang eksistensinya bagi sebagian kalangan yang ada di Indonesia masih abu-abu bahkan kurang diakui keberadaannya sebagai suatu ajang (pertemuan) yang sekaliber nasional. Betatapun kegiatan tersebut sudah tergolong berhasil dimana mendatangkan seratus limapuluhan peserta yang berasal dari penjuru tanah air dengan menghadirkan sejumlah pembicara dialog sastra antara lain: Agus R. Sarjono, Saut Situmorang,  Yasraf Amir Piliang, Katrin Bandel, Zen Hae, Nenden Lilis Aisyah, Nurhayat Arif Permana, Radhar Panca Dahana, Zurmailis, John McGlynn, dsb. Pada TSI 2 kali ini meluncurkan dua antologi sastra yakni Pedas Lada Pasir Kuarsa (Puisi) dan Jalan Menikung Ke Bulit Timah (Cerpen), penerbitan antologi sastra semacam ini serupa dengan penerbitan di TSI 1 yang berlangsung tahun lalu di Propinsi Jambi.<br /> Terlepas dari output kegiatan TSI 2 pada penulis generasi berikutnya, ada baiknya kita selaku pegiat sastra tahu bahwa kesusastraan Indonesia memang terfirkah-firkah adanya. Hal ini disebabkan berbagai kepentingan baik individu maupun kelompok, perbedaaan cara pandang, dan tingkat penempatan terhadap eksistensi diri selaku sastrawan yang eksklusif dan sangat berlebihan. Namun di luar itu semua perlu kita kembali kepada makna penulis dalam dunia kepenulisan yang sebenarnya. Penulis yang berhasil pastilah insan pengaruh, baik kepada individu tertentu maupun massa, eksplisit maupun insan. Penulis bahkan bisa melampaui zamannya, artinya pengaruh mereka melebihi ruang dan waktu setempat. Tulisan, ide, pemikiran, bisa menelusup dan mempengaruhi orang secara diam-diam, sampai akhirnya pemikiran itu mengendap dan menguat, menjadi sikap. Dengan pemikirannya, penulis menawarkan kesadaran tertentu, bahkan lewat sikap dan perbuatannya, penulis menawarkan nilai kepada banyak orang, terutama sekali pembaca dan peminat seni dan sastra. Entah pemikiran, sikap, cara pandang, dan perbuatan tersebut diterima atau ditolak masyarakat, itulah yang akan menjadi warisan budaya generasi berikutnya.<br /> Tetapi hal tersebut nampaknya sudah dikesampingkan, dikalahkan oleh eksistensi para sastrawan dengan paham pemikiran yang beraneka pula. Sejak majalah sastra Indonesia; Horison diterbitkan dengan dua versi, sejak itu pulalah perbedaan menjamur di dunia sastra Indonesia, dampak yang sangat signifikan dapat dirasakan para pegiat sastra di daerah, terlebih yang kurang menyelami sejarah dan kebenaran dari dalam diri sastra itu sendiri. Parahnya lagi, sastra dijadikan ajang politik bagi elitenya dan pengkultusan diri lebih berkualitas dari yang lain menyebabkan jarak antar lintas generasi berikutnya yang seharusnya dibina justru terbinasakan karena satu dan lain hal. Sayangnya, bagi sebagian besar kalangan generasi muda tidak tahu benang merah akan kehadiran sastra Indonesia yang sebenarnya. Masih banyak diantara mereka yang tahunya hanya menulis saja (penulis yang lahir dari bakat alam) dan celakanya apa yang mereka tulis tanpa mengetahui kaidah dalam bersastra sehingga substansi dan eksotisitasnya terabaikan. Sebuah karya harus mengikuti tata aturan baku yang ada dan ini mutlak dalam berkarya, apapun jenisnya tak terkecuali dalam dunia sastra.<br /> Berkaitan dengan kegiatan TSI 2 di Pangkalpinang, ada sejumlah kegiatan yang dibuat dalam rangka peningkatan kualitas khususnya pendatang baru di dunia sastra antara lain: Sastra Kepulauan, Ode Kampung, Aruh Sastra Kalimantan Selatan, Ubud Writers Award, Biennale Festival, dll. Khusus bagi Biennale Festival International, festival ini dikultus bagi internalnya sebagai temu sastrawan dalam dan luar negeri. Bagi yang pernah mengikutinya, maka dialah sastrawan Indonesia namun jika tidak diundang ataupun terlibat berarti bukan sastrawan dalam kacamata mereka. Hal ini kontan membuat lintas generasi berikutnya menjadi menjauh, belum lagi sejumlah media cetak yang memuat rubrik sastra dikelola oleh redaktur yang berpaham golongan. Inilah yang menjadikan keberagaman dalam citra penulisan, khususnya puisi sehingga eksploitasi kualitas terabaikan. Selera dan keberpihakan kepada golongan sangat mempengaruhi perjalanan sastra Indonesia yang didokumentasikan dalam bentuk cetakan karya di media Koran, majalah dan bulletin Indonesia.<br /> Ini juga penyebab hampir gagalnya kegiatan TSI 2 di Pangkalpinang, adanya sinyalemen dari pihak tertentu yang menganggap TSI 2 bermuatan politik bahkan blokade pihak baru bagi kesusastraan Indonesia. Namun, TSI 2 tetap berjalan sesuai amanah TSI sebelumnya di Propinsi Jambi. Beruntunglah bagi penulis yang berasal dari daerah yang masih murni, tidak terjebak dalam kebermaknaan golongan yang berlapis-lapis. Eksotisitas alam dalam nuansa lokal adalah fentilasi utama dalam menelurkan maha karya abadi yang hanya bisa diangkat oleh putra daerah.<br /><br />APA KABAR SASTRA DI PALU?<br /> Ada baiknya kita juga membenahi diri menyoal sastra di Palu (khususnya) yang hanya memandang sastra (puisi, cerpen, dan esai) hanya sebatas pengumpulan karya sastra dengan kualitas yang perlu dipertanyakan. Mengingat kehidupan sastra di Kota Palu masih prematur dan tumbuh cacat dalam artian tidak normal dalam berkehidupan sastranya. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan kecacatan tersebut antara lain faktor media, kritikus sastra, dan ranah dalam fentilasi lokal. Faktor utama yang bisa memajukan sastra secara universal di Sulawesi Tengah adalah media. Sangat disayangkan, belum ada media yang memberikan keluasan bagi penulis dan masyarakat sastra untuk menuangkan (alihterasi) dari tradisi lisan ke karya sastra mutakhir.<br />Mudah-mudahan ada respon positif bagi masyarakat sastra dan media lokal dalam memajukan sastra di Kota Palu. Semoga! [] <br /><br /><br /><br /></div><br />)* Ketua Divisi Sastra dan Tradisi Lisan<br />Yayasan Tadulakota’ Propinsi Sulawesi Tengah<div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-458041072582936531?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 12/28/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/11/kongres-perdamaian-di-palapas.html">Kongres Perdamaian di PALAPAS</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><div style='text-align: center;'><span style='font-size:130%;'><span style='font-weight: bold;'><br />KONGRES KEBUDAYAAN MULTI-ETNIK UNTUK PERDAMAIAN Di PALAPAS</span><br /><br /><span style='font-weight: bold;'>(Kota Palu, Kab. Donggala, Kab. Parigi Moutong, Kab. SIGI)</span><br /><br /><span style='font-weight: bold;'>Provinsi Sulawesi Tengah</span><br /><br /><span style='font-weight: bold;'>18-20 November 2009</span><br /></span></div><br /><br /><br /><div style='text-align: justify;'>Daerah Sulawesi Tengah dihuni oleh masyarakat dengan kemajemukan yang tinggi baik etnis, budaya, agama, bahasa dan lain-lain. Kemajemukan tersebut mewarnai seluruh proses dan perkembangan kehidupan masyarakat (relasi sosial) hingga saat ini. Kemajemukan sosial dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Tengah telah memberi dampak yang kuat terhadap gerak kehidupan dan kondisi masyarakat, positif maupun negatif.<br /><br />Beragamnya isu-isu konflik sosial yang hadir, khususnya pasca Orde Baru membawa konsekuensi dan dampak yang dalam konteks tertentu dapat mengundang disharmoni dan potensi konflik, bahkan dapat berujung pada krisis identitas. Keberagaman-pluralisme (kekayaan sosial-kultural) yang ada di Sulawesi Tengah mestinya dapat menjadi  modal dasar bagi proses pembagunan di daerah bila dikelola dengan baik dengan mengusung prinsip keadilan dan kesetaraan bagi masyarakat secara keseluruhan.<br /><br />Selama ini disadari atau tidak, minimnya pemahaman akan pentingnya semangat (spirit) keberagaman dan kearifan budaya lokal dalam membangun dan memelihara perdamaian guna menciptakan persatuan dan kesatuan menjadi salah satu indikator krisis kepercayaan masyarakat adat yang berdampak pada terbentuknya eksklusivitas etnis, kelompok, golongan dan agama yang kemudian memunculkan potensi konflik sosial-kultural di masyarakat dan faktanya dalam beberapa dasawarsa terakhir ini justru mengakibatkan konflik komunal (Kasus Poso). Ketegangan dan bentrokan (Konflik) umumnya digerakkan oleh budaya dan pola hidup yang berbeda, karena setiap etnik membawa mereka pada kebudayaan mereka sendiri. Persaingan dalam pemanfaatan sumberdaya alam yang berorientasi ekonomi kapital telah juga menambah rentannya potensi konflik di area (Sulawesi Tengah) ini.<br /><br />Saat ini terdapat banyak sekali organisasi adat, baik yang dibentuk oleh pemerintah maupun organisasi non pemerintahan (Ornop/LSM), tetapi keberadaan setiap organisasi itu memiliki tujuan dan maksud berbeda. Sangat mungkin keberadaan dan kepentingan berbeda-beda itu memiliki maksud yang sama, yakni menumbuhkan lagi kesadaran atas identitas kultural dan norma-norma yang menyertainya agar kehidupan ini berlangsung aman dan damai serta berkeadilan sosial. Dalam praktiknya, organisasi adat yang ada itu justru bukan berangkat dan bekerja untuk memenuhi maksudnya, melainkan sekadar menunjukkan eksistensi dan saling memperkuat legalitasnya masing-masing secara tradisional. Ini sesungguhnya merupakan salah satu faktor yang bisa menjelaskan, bahwa di daerah (khususnya Sulawesi Tengah yang diwakili Kabupaten Poso yang mengalami konflik kemanusiaan) masih bersemayam bibit konflik laten. Gejala Etnosentrisme (mengunggulkan dan menganggap budaya sendiri paling baik) masih kuat, dan ironisnya terjadi dalam sebuah “kultur besar” dan “etnik besar”, yakni di antara sub-etnik. Ini belum termasuk perbauran berbagai kultur dan sub-kultur yang berasal dari daerah lain. <br /><br />Gagasan hadirnya KONGRES KEBUDAYAAN MULTI-ETNIK UNTUK PERDAMAIAN Di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten  Parigi Moutong, Kabupaten Sigi (PALAPAS) Provinsi Sulawesi Tengah ini dilatarbelakangi realitas di atas dan berbagai perspektif tentang realitas itu.<br /><br /><br />)*yayasan Tadulakota' Document<blockquote></blockquote></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-4850523612761218581?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 11/28/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sfirly.wordpress.com/2009/11/27/bandung-banjar-yang-kukenal/">Bandung-Banjar yang Kukenal…</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Di bawah ini beberapa “perbandingan” antara kota BANDUNG dan BANJAR (Kalimantan Selatan). Tentu saja ini hanya berdasarkan pengamatan dan analisis dangkal saya yang baru sekian bulan tinggal di BANDUNG (sedangkan di BANJAR cukup lama, bertahun-tahun). Bagi yang mengenal kedua kota ini, boleh bersepakat juga boleh tidak. Boleh “meralat” juga boleh menambahkan. Silakan…');
document.write('BANDUNG: Setiap sekira 2 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=293&subd=sfirly&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sandi, 11/27/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/11/laksa-cerita.html">Laksa Cerita</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'>TAKDIR KEMBANG DIBURU LIMBANG<br /><br /><br /><br />ia tidak pernah lupa merenda harinya yang muram<br />dengan kain sisa milik para tetangga<br />usang dan pasi<br /><br />: kami berkenalan di karnaval tahun baru tiga tahun lewat pesta topeng<br />kupenuhi bopeng disekujur diri<br />lalu ilusi mengejarku hingga kami sama-sama berlari<br />menuju gemintang<br /><br />mereka yakin bila hari diterjang limbang<br />ombak di laut lepaspun takkkan mampu menghalangi<br />takdir tuhan yang malang<br /><br />ia tidak pernah lupa merenda harinya yang muram<br />dengan kain sisa milik para tetangga<br />usang dan pasi<br /><br />Kabonena, Juli 2009<div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-3598737085252746988?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 11/25/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/11/dari-antologi-puisi-bhsbanjar-terjmhn.html">Dari Antologi Puisi Bhs.Banjar & Terjmhn dlm.Bhs.Indons : BURINIK Karya Arsyad Indradi</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><span style='font-weight: bold;'>Bakantan</span><br /><br />Amun nyawa manusia tahu arti kahidupan nyawa musti tahu<br />Bahua nagri ini mangasihsayangi buhannya<br />Mambari’i rumah nang manghijau<br />Gunung riam guntung nang damai<br />Berabad tahun hidup tentram<br /><br />Amun nyawa manusia nang baadap nyawa musti tahu<br />Di higa batubatu guha<br />Buhannya méndam wan marista<br />Malihat parigal nyawa manabangi rumah buhannya<br />Mambulangkir gunung riam wan guntung<br /><br />Amun nyawa manusia nang bahatinurani nyawa musti tahu<br />Buhannya bapuluh tahun hidup <br />Barumah ranggay<br />Bagunung bariam baguntung si’im<br /><br />Amun nyawa manusia nang baparikamanusiaan<br />Maka nyawa kada sampaihati<br />Manggariti buhannya<br />Manangkapi buhannya<br /><br />Tapi nyawa manusia nang paling hina<br />Kerna kada suah tahu<br />Buhanya nangitu mascot nagri ini<br /><br />Bbaru, 2007<br /><br /><span style='font-weight: bold;'>Indonesianya :</span><br /><br /><span style='font-weight: bold;'>Bakantan </span><br /><br />Jika kau manusia tahu arti kehidupan kau akan tahu<br />Betapa negeri ini mengasihsayangi mereka<br />Memberi rumah yang menghijau<br />Gunung lembah riam yang damai<br />Baabad tahun hidup tantram<br /><br />Jika kau manusia yang beradap kau akan tahu<br />Di balik batubatu gua<br />Mereka tercenung dan miris<br />Melihat kau menebangi rumah mereka<br />Membredel gunung lembah dan riam<br /><br />Jika kau manusia yang berhatinurani kau akan tahu<br />Mereka berpuluh tahun hidup <br />Berumah ranggas<br />Bergunung berlembah beriam lengang<br /><br />Jika kau manusia yang berprikemanusiaan<br />Maka kau tak akan<br />Memburu mereka<br />Menculik mereka<br /><br />Tetapi kau manusia yang paling hina<br />Karena tak pernah tahu<br />Mereka adalah mascot negeri ini<br /><br />Bbaru,2007<br /><br />**** bakantan =  sejenis kera berhidung panjang<br />                          lambang fauna Kalimantan Selatn<br /><br /><br /><span style='font-weight: bold;'>Saékong Bakantan Bini</span><br /><br />Saékor bakantan bini<br />Di sasala jaruji wasi matanya luka<br />Manjanaki kawankawannya di batubatu di munggumunggu<br />Manjanakinya lawan muhamuha sayung<br /><br />Saékong bakantan bini<br />Mamaluk pisit anaknya  nang manyambunyiakan muhanya<br />ka awahnya<br />lantaran takutan kada sakira<br /><br /><br />Saékong bakantan bini<br />Tamsil kuitan nang paling kuitan<br />Waktu urangurang itu manggariti<br />Paharatan wan kawanannya bukahan manyalamatakan diri<br />Anaknya talapas matan géndongannya lalu gugur ka tanah<br />Lalu babulik  maambili anaknya<br />Tahutahu jaring manangkapnya<br /><br />Saékong bakantan bini<br />Anaknya bapiruhut di awaknya<br />Matanya luka<br />Meitihi banuanya nang sasain jauh<br />Waktu kurungan itu dibawa orang<br /><br />Saékong bakantan bini<br />Di sasala jaruji wasi<br />Banyumata darah titik<br />Gugur kasisigan anaknya<br /><br />Bbaru, 2007<br /><br /><span style='font-weight: bold;'>Indonesianya :</span><br /><br /><span style='font-weight: bold;'>Seekor Bakantan Betina</span><br /><br />Seekor bakantan betina<br />Di balik jeruji besi matanya luka<br />Menatatap kawankawannya di batubatu dan bukitbukit<br />Menatapnya dengan wajahwajah miris<br /><br />Seekor bakantan betina<br />Memeluk erat anaknya yang membenamkan wajahnya<br />ketubuhnya<br />lantaran takut yang sangat menikamnya<br /><br />Seekor bakantan betina<br />Sosok ibu yang teramat ibu<br />Ketika orangorang itu memburu<br />Sedang bersama kawankawanannya berlarian panik menyelamatkan diri<br />Anaknya terlepas dari gendongannya dan jatuh ke tanah<br />Sang ibu kembali mengambil anaknya<br />Tibatiba jaring menyergapnya<br /><br />Seekor bakantan betina<br />Anaknya melekat erat di tubuhnya<br />Matanya luka<br />Menatap habitatnya yang semakin jauh<br />Ketika kerangkeng itu dibawa pergi<br /><br />Seekor bakantan betina<br />Di balik jeruji besi<br />Airmata darah titik<br />Jatuh keisak anaknya<br /><br />Bbaru, 2007<div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-5496693402310126764?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 11/11/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.net/dari-antologi-puisi-bhsbanjar-dan-terjmhn-bgsindons-burinik/">Dari Antologi Puisi Bhs.Banjar dan terjmhn Bhs.Indons : BURINIK Karya Arsyad Indradi</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Nagriku Saribu Sungai');
document.write('');
document.write('');
document.write('');
document.write('');
document.write('Duduk di ujung lanting manjanaki banyu baarus sindum');
document.write('Mendam marasaakan banua bangaran saribu sungai');
document.write('Kaya apa batawas juakah lagi kenanya');
document.write('Rumah lanting nang maulah asa banua sorang  pina si’im');
document.write('Dahulu nyaman banar handak batutukar apa nang diperluakan');
document.write('Wayahini ngalih malihat jukungjukung lalu mambawa dagangan');
document.write('Banyak sungainya ditajaki rumah sampai basampuk burit');
document.write('Mun sudah kabanjiran anyar pina tumbur');
document.write('Manjanaki kasubarang tajanaki [...]</p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>arsyadindradi, 11/11/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/10/dari-seorang-sahabat.html">Dari Seorang Sahabat</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><h2 class='title'>Jarak Menamakannya Sepi</h2> <div class='widget-content'> <p class='MsoNormal'><br /></p><p class='MsoNormal'>Arlika dan ariwa</p>  <p class='MsoNormal'>mungkin kalian belum terlalu mengerti</p>  <p class='MsoNormal'>malam benarbenar mendingin ketika hujan bersamaan</p>  <p class='MsoNormal'>menulis beberapa cerita lelaki yang tak bisa cepat berbuai mimpi</p>  <p class='MsoNormal'>dengan kelopak mata selalu menggantung tinggi tanpa tiang</p>  <p class='MsoNormal'>rebahkan hatinya sepasrah mungkin dilumat sepi</p>  <p class='MsoNormal'><o:p> </o:p></p>  <p class='MsoNormal'><br /></p><p class='MsoNormal'>Arlika dan ariwa<span style=''>  </span><span style=''> </span></p>  <p class='MsoNormal'><br /></p><p class='MsoNormal'>jarak menghapus bagian yang harusnya kalian tahu <span style=''> </span></p>  <p class='MsoNormal'>sekata yang kini piatu </p>  <p class='MsoNormal'>lalu waktu meyatimkan tanpa babibu</p>  <p class='MsoNormal'>mengubahnya menjadi sederet huruf mati.</p>  <p class='MsoNormal'><o:p> </o:p></p>  <p class='MsoNormal'><br /></p><p class='MsoNormal'>Ariwa </p>  <p class='MsoNormal'><br /></p><p class='MsoNormal'>memang diam tak selalu berikan arti pada malam yang begini</p>  <p class='MsoNormal'>sebab dengan lidah siapa mampu terbacakan huruf mati piatu</p>  <p class='MsoNormal'>hanya untuk pahamkan definisi belaka kepada telinga mereka </p>  <p class='MsoNormal'>yang lebih melogika ketimbang nurani seperti kita</p>  <p class='MsoNormal'>bukankah sepi itu adalah hati, bukan masalah sendiri dan hujan ini</p>  <p class='MsoNormal'>malah tidur kalian pun permainan sepi.</p>  <p class='MsoNormal'><o:p> </o:p></p>  <p class='MsoNormal'><br /></p><p class='MsoNormal'>Arlika</p>  <p class='MsoNormal'><br /></p><p class='MsoNormal'>sepakat sajalah bahwa pergantian malam itu pasti</p>  <p class='MsoNormal'>tak perlu perdebatkan lebih jauh dengan ariwa</p>  <p style='text-indent: 0.5in;' class='MsoNormal'>pun jika lelaki itu pernah terlelap sebentar menjenguk mimpi </p>  <p style='text-indent: 0.5in;' class='MsoNormal'>pahami saja sebagai pergantian yang begitu itu </p>  <p class='MsoNormal'><span style=''> </span><span style=''>           </span><span style=''>            </span><span style=''> </span><span style=''> </span>lupakan malam abaikan siang jangan perdulikan angka angka kalender</p>  <p class='MsoNormal'>cukup pahami saja sebagai pergantian.</p> </div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-3220941518431627800?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 10/12/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sfirly.wordpress.com/2009/10/09/bandung-apa-yang-anda-pikirkan/">Bandung; Apa yang Anda Pikirkan?</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Kenyataannya memang tak banyak kembang yang kita jumpai di banyak jalan di kota ini – terkecuali “kembang-kembang” berjalan atawa neng geulis.');
document.write('Bila Anda asli urang Sunda (baca: Bandung), pernahkah menanyakan kepada orang lain apa kira-kira yang  terlintas di benaknya ketika pertama kali disebutkan nama Kota Bandung? Mungkin jawabnya adalah Kota Kembang—sesuai dengan julukan kota ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=289&subd=sfirly&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sandi, 10/9/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/09/lebaran-di-pelabuhan-pantoloan.html">Lebaran di Pelabuhan Pantoloan</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><div style='text-align: center;'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://1.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/Sr81dkYV-CI/AAAAAAAAAP0/WMomIXlS4wI/s1600-h/Image019.jpg'><img style='margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;' src='http://1.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/Sr81dkYV-CI/AAAAAAAAAP0/WMomIXlS4wI/s320/Image019.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5386082461456660514' border='0' /></a><br />(kita akan bersinggah di simpang waktu: sementara waktu masih menyisakan kenang. seoga ramadhan berikutnya masih bisa kupeluk dengan senyuman dan pisah sesegukan liralira)<br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-2645948453761172173?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 9/27/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/09/kompilasi-pembacaan-puisi-penyair.html">Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><div style='text-align: center;'><span style='font-size:180%;'><span style='font-weight: bold; font-family: times new roman;'>“BISIKAN HATI ANAK NEGERI”</span></span><br /></div><br /><br /><br /><div style='text-align: justify;'>Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri adalah kumpulan (antologi) puisi para penyair Indonesia yang direkam dalam keping CD Audio dan berisi suara-suara penyair yang membacakan puisinya sendiri.<br /><br />Tanpa bermaksud asal beda, diharapkan, dengan terwujudnya antologi ini akan mampu membawa pencerahan (atau setidaknya warna lain) dalam wacana perpuisian Indonesia. Dasar pemikirannya sederhana, yakni sebagai ajang silaturahmi antar penyair dari lintas generasi yang berbeda. Sekaligus menawarkan bentuk lain dari antologi puisi dari yang biasanya hanya berupa media cetak visual (buku) menjadi media yang bisa dinikmati secara audio.<br /><br />Bahkan tidak menutup kemungkinan pada perkembangan selanjutnya antologi bersama ini bisa berupa <a href='http://www.youtube.com/watch?v=67WdRIg5oyc'>audio visual (video art/video klip)</a> seperti yang pernah dilakukan oleh Almarhum WS Rendra beberapa tahun silam. Nah, format audio dipilih karena sangat memungkinkan untuk memuat banyak karya serta secara ekonomis biaya produksinya lebih hemat.<br /><br />Kami sadar, pekerjaan ini tidaklah akan mudah diwujudkan. Mengingat akan segala keterbatasan panitia secara materi dan tentunya membutuhkan dukungan serta kerjasama dari banyak pihak yang peduli. Sekedar informasi, hingga sekarang panitia belum mendapatkan sponsor dari pihak manapun. Panitia hanya mampu memberikan sumbangan tenaga, pikiran serta berusaha semaksimal mungkin guna mewujudkan misi yang cukup berat ini. Tentu saja peluang tersebut bisa direspon oleh siapa saja.<br /><br /><span style='font-weight: bold;'>Persyaratan :</span><br />1.Event ini terbuka untuk penyair WNI (Warga Negara Indonesia) dengan tanpa dibatasi usia, ras, kasta, agama atau golongan tertentu,<br />2.Domisili penyair masih di wilayah Indonesia,<br />3.Karya puisi yang direkam adalah karya puisi terbaik (menurut penyairnya sendiri) dan sudah pernah dipublikasikan ke khalayak luas meskipun dalam bentuk lain diluar rekaman suara. Misalnya telah dimuat di media cetak atau telah masuk dalam buku kumpulan puisi tertentu (tidak termasuk yang dipublikasikan di internet). Maksudnya, supaya memberikan gambaran kepada publik sastra itu sendiri tentang perjalanan (proses) sebuah karya termasuk pula akan menjadi gambaran eksistensi sang penyairnya itu sendiri,<br />4.Melampirkan photo copy kliping puisi bersangkutan (bagi puisi yang pernah dimuat media cetak) atau photo copy sampul buku kumpulan puisi bersangkutan (bagi puisi yang pernah dimuat di dalam kumpulan puisi),<br />5.Karya yang dikirim adalah karya asli dan dibacakan sendiri oleh penyair bersangkutan dan bukan hasil jiplakan, saduran, hasil adaptasi maupun terjemahan dari karya orang lain,<br />6.Tema bebas, asal tidak mengandung unsur-unsur yang mencedrai SARA, Susila (pornographi dan pornoaksi) serta bukan sebagai bentuk kampanye politik praktis,<br />7.Menggunakan bahasa Indonesia,<br />8.Durasi rekaman minimal 1 menit dan maksimal 5 menit/judul,<br />9.Diperbolehkan memakai ilustrasi musik atau latar suara lainnya yang mendukung, dengan catatan pemuatan musik atau ilustrasi tersebut tidak merugikan pihak lain,<br />10.Jumlah karya yang dikirim minimal 3 judul dan maksimal 5 judul,<br />11.Lampirkan <a href='http://www.scribd.com/doc/19676295/Surat-Pernyataan-Peserta-Kompilasi-Pembacaan-Puisi-Penyair-Indonesia'>surat pernyataan pribadi</a> yang menyatakan persetujuan mengikuti event ini dan tunduk pada semua peraturan (persyaratan) yang ditetapkan panitia,<br />12.Lampirkan juga photo copy KTP / SIM atau bukti identitas lainnya yang masih berlaku,<br />13.Pengumpulan karya akan dimulai pada tanggal 17 Oktober 2009 dan ditutup pada 27 Desember 2009,<br />14.Karya bisa dikirimkan sendiri atau via Pos/jasa pengiriman paket ke alamat:<br />PANITIA Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri<br />d/a Irvan Mulyadie, Jl. Nagrog Kidul Indihiang RT.008 RW.002<br />Kel: Indihiang Kec: Indihiang Kota Tasikmalaya Jawa Barat 46151<br />Contak Person: 08180 212 8581 (irvan mulyadie) e-mail: vanmydie@yahoo.co.id<br />15.Persyaratan lain yang harus dikirim dalam bentuk file dalam kepingan CD, berisi:<br />File rekaman suara pembacaan puisi yang dibacakan langsung oleh penyairnya sendiri dalam format WAV, tapi lebih diutamakan dengan format MP3,<br />File naskah puisi yang dibacakan penyair bersangkutan dalam format doc / rtf,<br />File Biodata diri penyair bersangkutan, termasuk alamat lengkap, alamat e-mail, alamat website/blog pribadi dan No HP/Telp,<br />File Potret diri penyair bersangkutan (close up),<br />16.File Materi yang telah dikirim ke panitia (diluar hak cipta karya), menjadi milik panitia,<br />17.Pengumuman selanjutnya akan dipublikasikan pada 1 Januari 2010 di alamat http://irvanmulyadie.blogspot.com<br /><br /><span style='font-weight: bold;'>Hak Peserta:</span><br />1.Setiap penyair yang karyanya dimuat akan mendapatkan 1 buah master antologi puisi digital dengan tajuk: <a href='http://www.scribd.com/doc/19676776/Pamplet-Kompilasi-Pembacaan-Puisi-Penyair-Indonesia'>Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri</a><br />2.Setiap penyair yang karyanya dimuat diperbolehkan memperbanyak, menyebar-luaskan, serta memperjual-belikan Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri tersebut sepanjang tidak menggunakan cara-cara yang melanggar hukum seperti pemaksaan dan merugikan pihak lain,<br />3.Keuntungan yang didapatkan dari hasil memperbanyak, menyebarluaskan, serta  memperjualbelikan antologi digital <a href='http://www.scribd.com/doc/19676776/Pamplet-Kompilasi-Pembacaan-Puisi-Penyair-Indonesia'>Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri</a> ini seluruhnya diberikan kepada penyair masing-masing (sebagai royalty).<br /><br /><span style='font-weight: bold;'>Kewajiban lain Peserta:</span><br />1.Memberikan dana partisifasi Rp. 50.000,- /orang.<br />2.Melaporkan kepada panitia (cukup melalui e-mail) jumlah antologi yang diperbanyak oleh masing-masing penyair secara berkala (maksimal 3 bulan sekali) dengan maksud sebagai kontrol peredaran antologi yang menyebar di masyarakat,<br />3.Melaporkan kepada panitia (cukup melalui e-mail) apabila akan mengadakan launching terbuka Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri yang meliputi waktu, tempat, serta jumlah peserta yang mengikutinya.<br /><br />CATATAN :<br />-Meski dengan sangat berat hati, dana partisifasi dipungut sebagai pengganti biaya untuk proses pembuatan Mastering (penggandaan), pencetakan materi pendukung, publikasi dan ongkos kirim antologi ke alamat masing-masing peserta,<br />-Dana partisifasi dihimpun di Bank Mandiri 13104 KC Tasikmalaya Ottoiskandar-dinata dengan Nomor rekening : 131 – 00 – 0633214 – 4 a/n Irvan Mulyadie,<br />-Dana partisifasi diserahkan paling lambat 5 hari setelah pengumuman atau tanggal 6 Januari 2010,<br />-Pengiriman master <span style='font-weight: bold;'>Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri</span> ke alamat peserta masing-masing paling lambat 2 hari setelah dana partisifasi diterima. Dan diperkirakan akan sampai ke alamat tujuan (khususnya di luar pulau Jawa) paling lambat dalam 3-5 hari,<br />-Bagi peserta yang belum atau tidak menyerahkan dana partisifasi tapi telah memenuhi persyaratan, karya-karyanya tetap akan diikutsertakan dalam <span style='font-weight: bold;'><a href='http://www.scribd.com/doc/19676776/Pamplet-Kompilasi-Pembacaan-Puisi-Penyair-Indonesia'>Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri</a></span>,<br />-Dari data yang pernah ada dalam event serupa (pembuatan antologi bersama), target peserta yang akan mengikuti kegiatan ini dapat mencapai lebih dari 200 peserta.<br /><br /><br /><br />(irvanmulyadie.blogspot.com)<br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-1085140136263185008?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 9/27/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sfirly.wordpress.com/2009/09/06/setelah-pinggul-paha-apalagi/">Setelah Pinggul, Paha, Selanjutnya..?</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Barangkali memang lebih banyak wanita yang lebih percaya diri dengan apa yang dipakainya daripada apa yang dipikirkannya.');
document.write('');
document.write('Rasanya baru kemarin kita menyaksikan pinggul-pinggul wanita yang berkibaran lantaran model bawahan hipster (celana atau rok yang dikencangkan di bawah pinggul) yang dipadukan dengan baju agak pendek. Kini, gaya baru yang kita lihat di jalan-jalan, mal, atau malah di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=284&subd=sfirly&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sandi, 9/6/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/09/sesenda-ringan.html">Sesenda Ringan</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><div style='text-align: center;'><span style='font-family: arial; font-weight: bold;'>Ideologinya Sastra</span><br /><span style='font-family: arial; font-weight: bold;'>(Merunut Pembentukan Komunitas Sastra dan Tradisi Lisan Indonesia di Palu)</span><br /><span style='font-family: courier new;'>: Hudan Nur )*</span><br /></div><br /><br /><div style='text-align: justify;'>PALU secara krusial berada dalam ‘kegelisahan’ akan eksistensi sastra yang mulai kehilangan warnanya, ditambah lagi para pelakunya dalam konteks internal. Munculnya keberagaman versi dan pola pikir mengakibatkan perkembangan sastra secara terpadu mengalami kemunduran. Tidak hanya pada karya-karyanya, tetapi juga terhadap lintas generasi berikutnya yang secara perlahan ikut terbunuh karena tidak mempunyai wadah untuk menyalurkan bakatnya. Jika dibandingkan dengan kota lain di Sulawesi ini, Palu sungguh jauh tertinggal. Di tanah air ini sudah mempunyai wadah aspiratif untuk para sastrawan ‘berladang’ yakni Komunitas Sastra Indonesia (KSI).<br />Ketika dirunut ke belakang KSI terbentuk sebelas tahun yang lalu pasca presiden Soeharto lengser dari jabatannya sebagai kepala Negara karena pada masa kekuasaanya karya sastra kurang berkembang disebabkan tekanan militer yang selalu waspada terhadap kegiatan sastra seperti pembacaan puisi yang dicurigai akan merusak integrasi bangsa. Namun sejak tahun 1998 resmilah KSI sebagai rumah komunitas yang mempunyai akta notaris sekaligus sebagai yayasan legal di Indonesia. Sastrapun mempunyai peranan mulia dalam mengusung jati diri bangsa yang sekarang bisa kita lihat faktanya bahwa Indonesia mulai kehilangan ke‘aku-an’nya.<br />Komunitas sastra adalah bentuk pelaksanaan kegiatan sastra yang khas di Indonesia. Sebenarnya, jika kita menganggap bahwa komunitas sastra sebagai sarana produksi atau mengkonsumsi sastra secara kolektif, hal ini sudah terlihat umum di banyak Negara selain Indonesia pada zaman pertengahan Perancis, ataupun pada abad ke-19 di Jepang, membaca buku secara berkelompok adalah hal yang umum, sebab buku adalah benda yang masih sangat berharga dan langka di wilayah tersebut pada zaman tersebut. Namun keunikan di Indonesia adalah pada pola menikmati sastra secara kolektif yang tetap saja digemari hingga kini meskipun buku sudah dapat diperoleh di masyarakat tanpa dengan banyak kesulitan. Di Indonesia, komunitas sastra berupa sekelompok atan sejumlah orang yang bertujuan untuk melakukan sastra. Sebetulnya, kelompok sejenis ini telah eksis di nusantara setidaknya sejak zaman kolonial, supaya orang bisa mendapatkan akses untuk membaca dan membahas buku bersama-sama, ketika kebanyakan orang yang mengalami kesulitan mempunyai buku. Kelompok tersebut seringkali memiliki sebuah tempat untuk berkumpul, dimana para anggotanya bisa saling belajar dan berdiskusi untuk berkarya lebih baik. Istilah ‘komunitas’ untuk menggambarkan kelompok seperti ini mulai digunakan pada tahun akhir 1980an dan berbagai aktivitas komunitas mulai terlihat dalam masyarakat sejak awal tahun 1990an. Setelah orde baru runtuh, jumlah komunitas sastra mulai bertambah drastis lagi dengan jenis kegiatan yang lebih bervariatif. Pertumbuhan komunitas sastra ini sebagian didukung oleh perkembangan ekonomi dan perbaikan standar pendidikan warganegaranya selama satu dekade terakhir, serta sebagai akibat perkembangan sosial yang memungkinkan bertambahnya populasi yang mampu membeli buku atau sudah terbiasa menulis dan membaca. Menurut Ahmadun Yosi Herfanda (Ketua KSI Pusat Jakarta), ideologi kesusastraan adalah paham, teori, atau tujuan terpadu yang terkandung di dalam teks-teks yang disebut karya sastra – baik prosa (esai, cerpen atau novel) maupun puisi. Definisi tersebut merujuk pada penjelasan dari ideology Perancis, Desstutt de Tracy (1976), yang menciptakan istilah ‘ideologi’ guna menunjukkan suatu ilmu baru yang meneliti ide-ide manusia, asal mulanya, sifat-sifatnya, serta hukum-hukumnya. Dalam kacamata politik, ideologi adalah paham, teori atau tujuan terpadu yang merupakan satu program sosial-politik. Namun, dalam arti umum ideologi adalah ide-ide yang mendasari sebuah sistem filsafat atau pandangan hidup suatu kelompok tertentu, yang menampak pada pola aktivitas, ekspresi dan tujuan kekaryaannya.<br />Di sisi lain, Budi Darma berkata kalau ingin tahu komunitas sastra tanpa label ‘komunitas’, cobalah berkunjung ke makam Sutan Takdir Alisyabana di Tugu, Bogor. Makamnya di sana berdampingan dengan makam isterinya sendiri, tidak jauh dari sebuah lereng sungai. Makam ini terletak di pekarangan sebuah rumah besar milik Sutan Takdir Alisyahbana (STA). Dalam sejarah sastra Indonesia, rumah ini mungkin tidak tercatat, namun sebetulnya rumah ini mempunyai andil yang sangat besar terhadap perkembagan sastra. Dulu, ketika STA masih muda, sekali-sekali dia mengundang sastrawan-sastrawan yang umurnya lebih muda daripada dia, antara lain Mochtar Lubis. Rumah itu dijadikan tempat ngobrol dan berdiskusi. Lalu pada angkatan ‘45 pada hakikatnya bukan komunitas. Tengok sedikit perihal kehidupan mereka. Ada sepasang tokoh sentral yakni, HB Jassin sebagai penemu bakat dan Khairil Anwar sebagai pembeharu. Dua orang ini dan teman-temannya sering berkumpul-kumpul, berdiskusi dan langsung ataupun tidak, diskusi mereka masuk ke dalam karya mereka. Tengoklah misalnya; surat Idrus kepada HB Jassin dan jawaban HB Jassin kepada Idrus.<br />Berbeda dengan Anis Sholeh Ba’asyin yang menganggap bahwa ada banyak sudut pandang yang bisa dipakai untuk membedah gejala komunitas sastra, mulai dari yang paling sederhana; terbentuk karena seorang sastrawan ingin membagi ilmunya pada orang-orang yang mencoba berguru padanya, atau karena sekelompok orang bersepakat menajamkan kemampuan sastranya dalam satu wadah; sampai dengan yang paling rumit: sinergi sastrawan-satrawan yang merasa butuh wadah untuk menegaskan posisinya dalam peta sastra Indonesia, atau sinergi dari para sastrawan yang punya musuh bersama dengan kegiatan sastranya. Tapi, di luar niat awal semacam ini, posisi sastra Indonesia sendiri dalam peta sosial budaya sebenarnya sudah cukup untuk menjadi alasan untuk memaklumi kehadiran komunitas sastra. Sebagai sebuah spesies baru, sastra Indonesia bukan cuma harus berjuang menemukan capaian-capaian estetikanya saja, tapi juga sekaligus harus berjuang merebut khalayak pembacanya.<br />Akhirnya dengan pemahaman yang matang akan eksisensi tersebut di atas dan beragamnya tradisi etnik di tempat kita berpijak ini. Maka perlulah dibentuk sebuah wadah aspiratif bagi insan sastra di kota Palu yakni: Komunitas Sastra dan Tradisi Lisan Indonesia yang nantinya akan menjadi pionir dan sambung akar ke penerus berikutnya agar kelestarian budaya dan keberlangsungan sastra secara keseluruhan dapat dipertahankan dengan berbagai ragam sastra ataupun tradisi lisannya.[]<br /><br /><br /></div><br /><br />)* Anggota Wanita Penulis Indonesia (WPI)<div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-3106630210378163719?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 9/6/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sfirly.wordpress.com/2009/09/02/homesick/">homesick</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">..aku masih mengingat kampung kecil itu; angin yang datang dari tepi laut, musala dengan pohon sawo berdaun lebat &#8211; tempat waktu kecil menunggu bedug berbuka dan salat tarawih, pelita di depan rumah, dan tegur sapa ramah kerabat tetangga. Akhirnya, selalu, semuanya bermuara pada dua pasang batu kembar di tanah lapang&#8230;.[]');
document.write('      [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=282&subd=sfirly&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sandi, 9/1/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/08/temu-sastrawan-indonesia-di.html">Temu Sastrawan Indonesia di Pangkalpinang</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://1.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/So-uvS6GaBI/AAAAAAAAAPs/6ID1sg_OPQ4/s1600-h/DSC00769.JPG'><img style='margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;' src='http://1.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/So-uvS6GaBI/AAAAAAAAAPs/6ID1sg_OPQ4/s320/DSC00769.JPG' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5372705008028903442' border='0' /></a><br /><div style='text-align: center;'>Reza Fahlivie dan Zurriyati Rosyidah: Teamwork AUK (Menikmati salah satu pantai di Pangkalpinang, 2 Agustus 2009)<br /></div><br /><div style='text-align: center;'><br /></div><div style='text-align: center;'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://2.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/So-uPNa8DKI/AAAAAAAAAPk/vt1L2RVnaLk/s1600-h/PICT0019.JPG'><img style='margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;' src='http://2.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/So-uPNa8DKI/AAAAAAAAAPk/vt1L2RVnaLk/s320/PICT0019.JPG' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5372704456800210082' border='0' /></a><br />Seumlah rekan dari tanah air: Budhi Setyawan, M. Mus'ab, Sandi Firly, Hudan Nur, Sisiy, Reza Fahlivie, Samyong, Bojes, CS<br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-3266721147383615829?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 8/22/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/08/pasca-tsi2.html">Pasca TSI#2</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><span style='font-weight: bold;'><br />CATATAN  SINGKAT TEMU SASTRAWAN INDONESIA DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG</span><br /><span style='font-weight: bold;'>: Hudan Nur)*</span><br /><br /><br /><br /><div style='text-align: justify;'>KEGIATAN Temu Sastrawan Indonesia (TSI) yang kedua di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung sudah selesai. Kegiatan yang berlangsung pada 30 Juli-2 Agustus 2009 lalu mengantungi banyak catatan bagi masing-masing peserta yang notabenenya sebagian besar adalah penulis. Ada banyak hal yang bisa dibawa pulang setelah perhelatan tersebut yang eksistensinya bagi sebagian kalangan yang ada di Indonesia masih abu-abu bahkan kurang diakui keberadaannya sebagai suatu ajang (pertemuan) yang sekaliber nasional. Betatapun kegiatan tersebut sudah tergolong berhasil dimana mendatangkan seratus limapuluhan peserta yang berasal dari penjuru tanah air dengan menghadirkan sejumlah pembicara dialog sastra antara lain: Agus R. Sarjono, Saut Situmorang,  Yasraf Amir Piliang, Katrin Bandel, Zen Hae, Nenden Lilis Aisyah, Nurhayat Arif Permana, Radhar Panca Dahana, Zurmailis, John McGlynn, dsb. Pada TSI 2 kali ini meluncurkan dua antologi sastra yakni Pedas Lada Pasir Kuarsa (Puisi) dan Jalan Menikung Ke Bulit Timah (Cerpen), penerbitan antologi sastra semacam ini serupa dengan penerbitan di TSI 1 yang berlangsung tahun lalu di Propinsi Jambi.<br /> Terlepas dari output kegiatan TSI 2 pada penulis generasi berikutnya, ada baiknya kita selaku pegiat sastra tahu bahwa kesusstraan Indonesia memang terfirkah-firkah adanya. Hal ini disebabkan berbagai kepentingan baik individu maupun kelompok, perbedaaan cara pandang, dan tingkat penempatan terhadap eksistensi diri selaku sastrawan yang eksklusif dan sangat berlebihan. Namun di luar itu semua perlu kita kembali kepada makna penulis dalam dunia kepenulisan yang sebenarnya. Penulis yang berhasil pastilah insan pengaruh, baik kepada individu tertentu maupun massa, eksplisit maupun insan. Penulis bahkan bisa melampaui zamannya, artinya pengaruh mereka melebihi ruang dan waktu setempat. Tulisan, ide, pemikiran, bisa menelusup dan mempengaruhi orang secara diam-diam, sampai akhirnya pemikiran itu mengendap dan menguat, menjadi sikap. Dengan pemikirannya, penulis menawarkan kesadaran tertentu, bahkan lewat sikap dan perbuatannya, penulis menawarkan nilai kepada banyak orang, terutama sekali pembaca dan peminat seni dan sastra. Entah pemikiran, sikap, cara pandang, dan perbuatan tersebut diterima atau ditolak masyarakat, itulah yang akan menjadi warisan budaya generasi berikutnya.<br /> Tetapi hal tersebut nampaknya sudah dikesampingkan, dikalahkan oleh eksistensi para sastrawan dengan paham pemikiran yang beraneka pula. Sejak majalah sastra Indonesia; Horison diterbitkan dengan dua versi, sejak itu pulalah perbedaan menjamur di dunia sastra Indonesia, dampak yang sangat signifikan dapat dirasakan para pegiat sastra di daerah, terlebih yang kurang menyelami sejarah dan kebenaran dari dalam diri sastra itu sendiri. Parahnya lagi, sastra dijadikan ajang politik bagi elitenya dan pengkultusan diri lebih berkualitas dari yang lain menyebabkan jarak antar lintas generasi berikutnya yang seharusnya dibina justru terbinasakan karena satu dan lain hal. Sayangnya, bagi sebagian besar kalangan generasi muda tidak tahu benang merah akan kehadiran sastra Indonesia yang sebenarnya. Masih banyak diantara mereka yang tahunya hanya menulis saja (penulis yang lahir dari bakat alam) dan celakanya apa yang mereka tulis tanpa mengetahui kaidah dalam bersastra sehingga substansi dan eksotisitasnya terabaikan. Sebuah karya harus mengikuti tata aturan baku yang ada dan ini mutlak dalam berkarya, apapun jenisnya tak terkecuali dalam dunia sastra.<br /> Berkaitan dengan kegiatan TSI 2 di Pangkalpinang, ada sejumlah kegiatan yang dibuat dalam rangka peningkatan kualitas khususnya pendatang baru di dunia sastra antara lain: Sastra Kepulauan, Ode Kampung, Aruh Sastra Kalimantan Selatan, Ubud Writers Award, Biennale Festival, dll. Khusus bagi Biennale Festival International, festival ini dikultus bagi internalnya sebagai temu sastrawan dalam dan luar negeri. Bagi yang pernah mengikutinya, maka dialah sastrawan Indonesia namun jika tidak diundang ataupun terlibat berarti bukan sastrawan dalam kacamata mereka. Hal ini kontan membuat lintas generasi berikutnya menjadi menjauh, belum lagi sejumlah media cetak yang memuat rubrik sastra dikelola oleh redaktur yang berpaham golongan. Inilah yang menjadikan keberagaman dalam citra penulisan, khususnya puisi sehingga eksploitasi kualitas terabaikan. Selera dan keberpihakan kepada golongan sangat mempengaruhi perjalanan sastra Indonesia yang didokumentasikan dalam bentuk cetakan karya di media Koran, majalah dan bulletin Indonesia.<br /> Ini juga penyebab hampir gagalnya kegiatan TSI 2 di Pangkalpinang, adanya sinyalemen dari pihak tertentu yang menganggap TSI 2 bermuatan politik bahkan blokade pihak baru bagi kesusastraan Indonesia. Namun, TSI 2 tetap berjalan sesuai amanah TSI sebelumnya di Propinsi Jambi. Beruntunglah bagi penulis yang berasal dari daerah yang masih murni, tidak terjebak dalam kebermaknaan golongan yang berlapis-lapis. Eksotisitas alam dalam nuansa lokal adalah fentilasi utama dalam menelurkan maha karya abadi yang hanya bisa diangkat oleh putra daerah. Berkenaan keberlanjutan TSI 3 tahun 2010 akan kembali di gelar di Sumatra tepatnya di Tanjung Pinang. Mudah-mudahan ada perubahan yang lebih baik dalam karya sastra. Semoga! []<br /><br /></div><br /><br /><br />)* Ketua Divisi Sastra dan Tradisi Lisan<br />Yayasan Tadulakota’ Propinsi Sulawesi Tengah<div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-1857913913712011864?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 8/22/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.net/puisi-perancis-indonesia-1-musset-musset-sang-penyair/">Puisi Perancis-Indonesia (1) : Musset & Musset Sang Penyair</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Catatan Ringkas oleh : A.Kohar Ibrahim');
document.write('BUKAN tak jarang orang dikisruhkan oleh nama-nama penyair serupa tapi beda seperti Musset dan Musset sang penyair yang menggores lembaran sejarah perpuisian Perancis. Terutama sekali bagi para pemula dalam mempelajari bahasa dan sastra bahasa Molliere itu. Lantaran dalam kenyataannya memang ada dua penyair Musset. Yang pertama hidup dalam pertengah Abad [...]</p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>arsyadindradi, 8/18/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/07/launching-buku.html">LAUNCHING BUKU</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://1.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/SmU2XpwfgCI/AAAAAAAAAPc/Otr_xsp0q5Q/s1600-h/PICT0002.JPG'><img style='display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;' src='http://1.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/SmU2XpwfgCI/AAAAAAAAAPc/Otr_xsp0q5Q/s320/PICT0002.JPG' border='0' alt=''id='BLOGGER_PHOTO_ID_5360750711428579362' /></a><br />LAUNCHING WAJAH DEPORTAN<br />: Antologi Penulis Muda Lintas Propinsi 2009<br /><br /><br />PADA awalnya Antologi Wajah Deportan (WD) ini ditujukan untuk menjalin silaturrahmi penulis puisi pada lingkup yang lebih luas. Tetapi karena satu dan lain hal, akhirnya diputuskan untuk membukukan karya penulis muda yang berada di tanah air. Hadirnya antologi ini dalam klasifikasi penulis muda (penulis yang berusia di bawah 40 tahun) dikarenakan adanya persinggungan dalam takaran penulis senior dan junior, hal ini sangatlah beralasan sebab kecenderungan eksistensi penulis muda yang berbakat khususnya penulis-penulis muda di daerah dipandang sebelah mata. Ketika pertama kali diwacanakan mengenai pembukuan puisi-puisi ini kepada rekan-rekan seluruh tanah air, respon positif diterima oleh tim kerja dalam antologi ini.<br /> Tak kurang dalam hitungan bulan, karya rekan-rekan penulis muda terkumpul di markas besar Komunitas Teras Puitika. Pengiriman tersebut diterima melalui e-mail, surat, dan ada juga yang langsung mendatangi markas tersebut. Uniknya puisi yang dikirimkan tersebut memuat kultur geografis, khazanah budaya, dan eksotika daerah yang sangat kental namun tetap nyaman untuk dibaca. Selain itu, unsur perlawanan juga mewarnai di antologi ini. Setiap penulis di antologi ini memekikkan kegelisahan dan pengenangan terhadap apa yang dialaminya pada situasi negara sekarang ini. <br /> Antologi ini memuat 44 penulis muda Indonesia dengan kecakapan pengetahuan yang beragam sesuai dengan kondisi wilayah mereka masing-masing. Inilah yang menjadi kebhinekaan yang dimiliki Indonesia. Daya pikir yang mereka refleksikan ke dalam puisi tidak semata-mata torehan tinta di atas kertas. Melainkan sebuah upaya untuk menggugah para pembacanya untuk bersama-sama merenungi apa saja titik-titik komplekstitas hidup dan kulminasi moral yang diramu menjadi satu dalam rangka memanusiakan manusia untuk makna yang sesungguhnya. <br /> Tak dapat dipungkiri bahwa karya-karya puisi yang menjadi mahakarya dan sangggup merubah tatanan sosial ditulis oleh golongan muda, bisa kita lihat angkatan-angkatan penulis puisi sejak boomingnya karya Chairil Anwar. Sayangnya, dominasi golongan senior menyebabkan arus warna yang mempengaruhi karya penulis-penulis baru tersebut. Sehingga mereka tidak mempunyai ciri khas dalam pencitraan puisi-puisinya. Selalu saja ada bayang-bayang karya pendahulunya. Hampir seluruh puisi yang tergabung di WD adalah puisi-puisi yang lahir pada tahun 2000an, semoga kelak ada dobrakan baru untuk membawa perpuisian Indonesia khususnya puisi yang ditulis penulis muda ke arah perubahan dalam rangka pencarian jati dirinya. <br /> Pada Acara Temu Sastrawan Indonesia di Bangka Belitung (30 Juli-2 Agustus) tepatnya di Pangkalpinang WD akan diluncurkan mengingat pada moment tersebut merupakan ajang dan tempat berkumpulnya sebagian besar dari sastrawan tanah air tak terkecuali. Mudah-mudahan dengan launchingnya WD dapat menggugah semangat menulis dan baca semua kalangan yang ada di nusantara.<div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-656845966631337879?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 7/20/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.net/tiga-penyair-dunia-4/">Tiga Penyair Dunia ( 4 )</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">');
document.write('');
document.write('');
document.write('');
document.write('George Noel Gordon Lord.Byron');
document.write('Lahir di London, meninggal di Yunani (Missolunghi).Pelopor aliran Romantik di Eropah.Tulisannya adalah Fugitive Pieces (1806), Poems on Various Occasions (1807), Hours of Idleness (1807). Sajaknya yang terkenal adalah Childe’s Harold Pilgrimage, The Giaour, The Corsair, Lara. Salah satu sajaknya :');
document.write('JADI TAK KAN LAGI KITA NGEMBARA');
document.write('Jadi tak kan lagi kita ngembara');
document.write('Masuk malam begitu [...]</p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>arsyadindradi, 7/19/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/07/foto-bareng.html">Foto Bareng</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://2.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/SlRWdfb-55I/AAAAAAAAAPU/FsWL3InoKBY/s1600-h/putu+wijaya+in+cafe+winabeach+(32).JPG'><img style='display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;' src='http://2.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/SlRWdfb-55I/AAAAAAAAAPU/FsWL3InoKBY/s320/putu+wijaya+in+cafe+winabeach+(32).JPG' border='0' alt=''id='BLOGGER_PHOTO_ID_5356000921505425298' /></a><br /><br />Hudan Nur cs bersama Putu Wijaya<div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-1059922835681980863?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 7/8/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/07/artikel-ringan.html">Artikel Ringan</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'>MENYOAL KRISIS BUDAYA DAN SASTRA BERSAMA PUTU WIJAYA<br />: Hudan Nur)*<br /><br /><br /><br />DALAM rangka peningkatan kualitas pemahaman secara konteks terhadap sastra secara universal kepada guru-guru sekolah menengah, Balai Bahasa Sulawesi Tengah mendatangkan I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang kita ketahui ia adalah seorang yang menguasai berbagai bidang antara lain: teater, penyutradaraan, film, sastra, sekaligus penulis novel dan naskah drama. Sulawesi Tengah, memang masih kurang bergolak dibidang sastra (teater, prosa, dan puisi) dibandingkan beberapa daerah di pulau ini. Untuk itu perlu penumbuhkembangan terhadap minat untuk kader muda (khususnya para pelajar sekolah) yang disampaikan dan diajarkan oleh guru di sekolah. Hal ini sangat beralasan karena banyak di luar sana, guru bahasa Indonesia tidak mengerti terhadap sastra sedangkan sastra adalah kesatuan dari bahasa yang relevansi sangat mempengaruhi terhadap sikap, pola dan budaya anak didiknya di sekolah. Belum lagi merebaknya beragam teknologi dan degradasi kultur yang sama sekali tidak ada filteralisasi (langsung di adopsi) karena labilitas dan tidak pernah tahu akan pemahaman budaya menyimpang dan hal ini tidak pernah terlintas bahwa awal penurunan kebudayaan itu berawal dari kurangnya perhatian dari lembaga pendidikan sebagai wadah formal bagi pelajar (setidaknya tempat mengenal dunia dan pergaulan lebih luas).<br /> Kebudayaan dan sastra adalah hal yang sangat kompleks sehingga cukup sulit untuk bisa diejawantahkan dalam kehidupan. Padahal ini adalah fondasi untuk menjadikan manusia seutuhnya. Ada tiga hal yang bisa menjadikan manusia sebagai insan mulia yakni: agama, etika dan sastra. Apabila ketiga hal ini sudah dimiliki seorang manusia, maka mulialah ia dimata manusia yang lain maupun pencipta kita. Tetapi bila kita tengok ke kenyataan yang ada, justru berkebalikan. Budaya dan sastra menjadi ikon yang dipandang sebelah mata, apalagi bagi kalangan elite, pejabat dan instansi pemerintahan. Mari kita tengok juga, beberapa  nsane di Eropa sana, atau Jepang dimana memandang seni sastra adalah kebudayaan yang wajib untuk diperhatikan dan lihat juga betapa negara-negara tersebut menghasilkan sumber daya manusia brilian yang sangat memperhatikan keberlangsungan sumber daya alam. Bertentangan dengan kita, begitu banyak orang yang cerdas tapi sayang tidak punya empati terhadap lingkungan. <br /> Kemerosotan dunia sastra juga bisa kita rasakan sekarang, para kritikus sastra sudah jarang kita temukan bahkan karya yang juga dihasilkan sudah mengalami pengunduran bila dibandingkan pada era terdahulu. Mari bersama kita telaah ulang karya-karya A.A Navis, HAMKA, Umar Khayam, Pramoedya Ananta Toer, dan sebagainya yang mempunyai nilai eksotisitas yang mencerminkan budaya kita. Kita bandingkan dengan beberapa karya sastra yang ‘disastrakan’ di era ini seperti Ayat-Ayat Cinta yang dipoles sedemikian rupa agar kelihatan komplek dan eksotis, hal ini sangat bertolak belakang dengan cerita Siti Nurbaya yang ditulis Marah Rusli karena eksotisitasnya natural tidak dipaksakan dan alur ceritanya runtut, klimaks tidak dibuat-buat, berjalan secara alami. Atau tetralogi Laskar Pelangi yang kalau kita kupas sangat bertentangan dengan logika. Padahal karya sastra (non-scince fiction) harus logis. Ditambah lagi karya-karya ‘pop’ yang pada akhirnya merusak pola pikir remaja lewat cerita yang digambarkannya. <br /> Di sisi lain, ketika hal ini akan disikapi oleh simpatisan budaya dan sastra malah beberapa instansi terkait bersikap apatis. Barangkali, karena hal ini tidak membawa hasil positif bagi kantong pribadinya. Sangat disayangkan instansi kebudayaan dan pendidikan tidak mau melibatkan personnya ke masalah ini. Padahal notabenenya adalah instansi pelindung dan bertanggungjawab yang menaungi segenap apapun yang mengansung unsur budaya (sastra). Di dalam tubuh budaya terkandung nilai sastra untuk memanusiakan manusia. Di dalam sastra ada tanggungjawab moral untuk melindungi manusia dari kebobrokan, ada filteralisasi yang tidak sengaja menjadi tameng manusia dalam berkehidupan.<br /> Ujung dari eksistensi budaya dan sastra adalah kepenulisan. Barangkali ini jualah yang menjadikan Putu Wijaya sebagai maestro seni karena selain aktor kawakan, terlibat langsung di lapangan, dia juga berhasil menuangkan apa yang ada di pikirannya ke dalam tulisan. Menyoal mengenai kepenulisan, penulis yang berhasil pasti insan pengaruh, baik kepada individu tertentu maupun massa, eksplisit maupun insan. Penulis bahkan bisa melampaui zamannya, artinya pengaruh mereka melebihi ruang dan waktu setempat. Tulisan, ide, pemikiran, bisa menelusup dan mempengaruhi orang secara diam-diam, sampai akhirnya pemikiran itu mengendap dan menguat, menjadi sikap. Dengan pemikirannya, penulis menawarkan kesadaran tertentu, bahkan lewat sikap dan perbuatannya, penulis menawarkan nilai kepada banyak orang, terutama sekali pembaca dan peminat seni dan sastra. Entah pemikiran, sikap, cara pandang, dan perbuatan tersebut diterima atau ditolak masyarakat, itulah yang akan menjadi warisan budaya generasi berikutnya. Di sinilah pentingnya mencatat dan mendokumentasi agar penelitian dan kesinambungan generasi berikutnya cukup mudah ditelusuri. Salah satu kelemahan umum dari gerakan seni yang terjadi di Indonesia buruknya dokumentasi, yang pada gilirannya akan menyulitkan generasi selanjutnya kesulitan menelaah signifikansi gerakan tersebut bila gerakan tersebut sudah mati atau inaktif. Inilah yang sudah dilakukan oleh Putu wijaya disepanjang kariernya dalam dunia seni. <br /> Kehadiran Putu Wijaya di Palu pada 24-27 Juni 2009 ini  dijadikan bom sastra untuk bisa menyastrakan bumi teluk ini secara perlahan. Selain itu, ada agenda yang sudah direncanakan pada malam-malam maestro ini di palu. Ada diskusi panel dan tawuran seni yang di gelar di sejumlah tempat, antara lain: Café Nyoman Kampung Nelayan , Taman Budaya, dan Taman Ria. Diharapkan, setelah terjadi sharing, silang dan tukar informasi dengan maestro ini, ada bola-bola api yang akan dikembangkan dan dilakukan oleh insan seni ataupun kaderisasi untuk harmonisasi seni sastra dan budaya dengan eksistensi lokalitas setempat. Selain itu, harapan rekomendasi konkret untuk pembentukan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) cabang Sulawesi Tengah, bahkan pengalihtempatan kegiatan Sastra Kepulauan tahun 2010 dan beberapa rekomendasi tak terduga lainnya. Semoga![] <br /><br /><br />)* diterbitkan di Media Alkhairat<div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-8104939236644065274?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 7/3/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/06/selamat-datang-putu-wijaya-di-palu.html">Selamat Datang Putu Wijaya di Palu</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://4.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/SkG3qPnIJcI/AAAAAAAAAPM/0bTPuSu-Vbk/s1600-h/Palu_Bridge_3_by_adminasik.jpg'><img style='display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 226px;' src='http://4.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/SkG3qPnIJcI/AAAAAAAAAPM/0bTPuSu-Vbk/s320/Palu_Bridge_3_by_adminasik.jpg' border='0' alt=''id='BLOGGER_PHOTO_ID_5350759768665892290' /></a><br /><br />DISKUSI PANEL BERSAMA PUTU WIJAYA :PALU, 25-27 JUNI 2009<br /><br /><br />Dinamika kebudayan yang kemudian hadir dalam perjalanan proses kebudayaan-kesenian (sastra) kita dirasakan telah sampai pada titik jenuh, lemahnya pengelolaan (kebijakan) atas keberagaman seni-budaya yang ada oleh negara/daerah membawa dampak terkoyaknya persatuan dan kesatuan bangsa, berbagai konflik sosial yang terjadi hampir diseluruh wilayah di Indonesia (Sulawesi Tengah yang oleh Yayasan Tadulakota’ teridentifikasi 23 Komunitas Asli/Lokal dan 13 komunitas Urban ), krisis identitas yang dirasakan semakin memudar serta minimnya pengelolaan kekayaan budaya yang kasat mata (tangible) dan tidak kasat mata intangible dan berbagai masalah mendasar lainnya yang kian memberi dampak akan rapuhnya pemahaman, kesadaran, apresiasi kita atas kekayaan keragaman seni-budaya.<br />Untuk mencapai sebuah hasil yang diinginkan, pengawalan terhadap pola pengembangan dan adanya kesepahaman bersama dimana kebudayaan juga harus menjadi salah satu prioritas utama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara karena kebudayaan-kesenian;  merupakan sebuah jalan yang akhirnya akan memberikan gambaran bahwa begitu beragamnya kondisi yang ada dimasyarakat menunjukan identitas kita dalam pembangunan karakter bangsa.<br />Sehingga perlu diadakannya sebuah kegiatan yang bisa merangkul seni-budaya yang ada di ranah kita ini agar eksistensinya bisa terlestarikan dan menumbuhkan cikal bakal kader muda yang berbaya nalar kritis, analitis, dan kreatif dalam konteks kontemporer kesenian khususnya sastra dan kebudayaan.<br />Menyoal Otoritas Kebudayaan dan Sastra Dalam Proses Kreatif maka ada beberapa perihal yang mencuat dibenak kita anatara lain seperti:  sastra kontekstual, sastra dan ekonomi kreatif, pertunjukan film dan lumbung alihterasi. Untuk implementasinya maka Yayasan Tadulakota Palu, Sulawesi Tengah akan menggelar diskusi panel dan tawuran seni yang dilaksanakan pada:<br />   Tanggal : 25-27 Juni 2009<br />   Pemateri: I Gusti Ngurah Putu Wijaya<br />   Tempat : Auditorium Taman Budaya Palu, Kampung Nelayan, <br />       Taman Ria Hasan Bahasuan.<br /><br />Penanggungjawab Pelaksana:<br />- Yayasan Tadulakota<br />- Koordinator Pelaksana: Hudan Nur<br />- Sekretaris: Moh. Rivai S<br />- Koor: Yan Suprandy, Khais Al Faritzy, Handoko, Ary Al Ghifary, Emhan Saja, Fatmawati<br /><br />Informasi lanjut bisa ditanyakan langsung ke Sekretariat di Komplek Maleo Jalan Kasuari (Belakang Walikota Palu) Atau CP: Moh. Rivai S 081341209173, Hudan Nur 08170781239.<div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-574589897225059099?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 6/23/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/05/kegiatan-auk-organizer.html">Kegiatan AUK Organizer</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://4.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/Sf01n379kEI/AAAAAAAAAO8/zmVGrWf3PLo/s1600-h/ASLI+LOGO+AUK.JPG'><img style='margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 251px; height: 265px;' src='http://4.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/Sf01n379kEI/AAAAAAAAAO8/zmVGrWf3PLo/s320/ASLI+LOGO+AUK.JPG' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5331476493023154242' border='0' /></a><br /><div>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-size: 16pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>AUK ORGANIZER<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-size: 16pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Komunitas Pecinta Seni Banjarbaru<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><b style=''><span style='font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-size: 14pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>FESTIVAL MUSIKALISASI PUISI <o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-size: 14pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>TINGKAT SMA/SEDERAJAT 23-24 MEI 2009<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-size: 14pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Se-Kalimantan Selatan<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-size: 14pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Auditorium Museum Lambung Mangkurat<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><b style=''><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>LATAR BELAKANG<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 4.5pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Sebagai komunitas kalangan muda yang mencintai seni dan segenap kehidupan seni dan asas kekeluargaan di dalamnya dan berkomitmen untuk memajukan sastra puisi secara berkala di Bumi Lambung Mangkurat dalam artian memperkenalkan kepada khalayak ramai tentang ragam pemusikalisasian puisi yang sampai hari ini mempunyai pakem yang sangat beragam antar daerah satu dengan daerah lainnya. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 4.5pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Melalui Festival Musikalisasi Puisi ini diharapkan setiap peserta dapat mempelajari dan membuat kreativitas dalam pemusikalisasian. Hasilnya diharapkan agar para pemenang menemukan rekadaya yang berkaitan dengan kreatifitas dalam unsur musikalisasi. Sehingga lahir kader baru dalam ruang yang baru dengan ide yang lebih kreatif, mengusung budaya Kalimantan Selatan.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>TUJUAN<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>1.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>      </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Meningkatkan kecintaan terhadap seni khususnya Puisi.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>2.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>      </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Memberikan pencerahan tentang ragam musikalisasi puisi se-Kalimantan Selatan.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>3.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>      </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Mengasah kreativitas yang mereka punyai lewat pakem inovatif musikalisasi puisi.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>TEMA<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify; text-indent: 0.5in;'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Pada kesempatan ini tema yang diangkat adalah “Membangun Kreativitas Anak Banua Untuk Mengusung Tradisi Budaya Dalam Warna Musikalisasi Puisi”.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>PESERTA<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>            </span>Peserta pada festival ini adalah pelajar SMA/SMK/MA/Sederajat di Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>PERSYARATAN</span></b><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>1.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>      </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Peserta Festival Musikalisasi Puisi adalah Kelompok yang mewakili sekolah (SMA, SMK, MA) di wilayah Kalimantan Selatan.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>2.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>      </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Setiap Kelompok maksimal terdiri dari 6 orang dan seorang guru pembimbing.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>3.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>      </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Pendaftaran Musikalisasi Puisi dari tanggal 10 April 2009 – 16 Mei 2009.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>4.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>      </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Peserta dan pembimbing harus menyerahkan alamat lengkap, fotocopy identitas diri, surat pengantar dari kepala sekolah kepada panitia pelaksana.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>5.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>      </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Setiap sekolah diperbolehkan mengirim lebih dari satu kelompok sebagai peserta.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>6.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>      </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Peserta harus memilih satu buah puisi yang telah disediakan oleh panitia.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>7.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>      </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Peserta harus membawa alat music sendiri (alat music tradisional/akustik nonelektris)<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>8.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>      </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Waktu tampil setiap kelompok maksimal 8 menit.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>9.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>      </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Panitia tidak menyediakan akomodasi.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>10.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>  </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Setiap peserta membayar regsitrasi sebesar Rp. 100.000,00<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>PENILAIAN<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>1.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>      </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Penilaian dan penentuan pemenang dilakukan oleh Dewan Juri.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>2.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>      </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Penilaian mencakup: penafsiran puisi, vokal, komposisi musikal, keselarasan, dan penyajian.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;'><!--[if !supportLists]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>3.<span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;'>      </span></span></span><!--[endif]--><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Putussan tim juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify;'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in;'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>      </span>Kegiatan ini akan dilaksanakan di Auditorium Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan di Banjarbaru Pada 23-24 Mei 2009.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>HADIAH<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify;'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>      </span>Pemenang I, II, II harapan I, II, III akan mendapatkan hadiah berupa piala, uang pembinaan dan piagam penghargaan dari Walikota Banjarbaru.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify;'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>      </span>Total Hadiah Rp. 5. 000.000,00.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify;'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>PENYERAHAN HADIAH<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in;'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>      </span>Penyerahan hadiah akan dilaksanakan pada 24 Mei 2009.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: center;' align='center'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>PENDAFTARAN<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify;'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>      </span></span></b><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Peserta festival bisa mendaftakan di ke Book Café Rumah Cerita Banjarbaru, Jalan Rajawali Samping Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan di Banjarbaru Pukul 10.00 - 16.00 WITA.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>PERTEMUAN TEKNIS<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify;'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>      </span>Pertemuan Teknis akan diadakan pada hari Sabtu, 16 Mei 2009 Pukul 15.00 WITA di Auditorium Museum Lambung Mangkurat.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: center;' align='center'><b style=''><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>LAIN-LAIN<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify;'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><span style=''>      </span>Apabila ada hal-hal yang kurang jelas bisa ditanyakan langsung ke Saudari Hudan Nur (0817 078 1239) atau via email ke </span><span style='color: rgb(227, 108, 10);'><a href='mailto:kanatoshi_ariwa@yahoo.com'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10); text-decoration: none;'>kanatoshi_ariwa@yahoo.com</span></a></span><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>/ </span><span style='color: rgb(227, 108, 10);'><a href='mailto:aukorganizer@yahoo.com'><span style='font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10); text-decoration: none;'>aukorganizer@yahoo.com</span></a>.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='margin-left: 0.25in; text-align: justify;'><span style='color: black;'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><b style=''><span style='font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><b style=''><span style='font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><b style=''><span style='font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Lomba Baca Cerpen se-Kalimantan Selatan <o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><b style=''><span style='font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'><o:p> </o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Naskah: Hajriansyah (Monologila), Nailiya Nikmah (Episode Durian), Rismiyana (Hitam Putih Kotaku), Dewi Alfianti (Ujung Musim Penghujan Kali Ini), Ratih Ayuningrum (Dongeng Kesetian) <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>TM: 16 Mei 2009<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Kegiatan: 23-24 Mei 2009<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Pendaftaran: Rp. 35.000<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Durasi: 20 menit termasuk setting<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: rgb(227, 108, 10);'>Peserta: Umum se Kalimantan Selatan, 25 pendaftar pertama mendapat Antologi karya Nahdiansyah Abdi<span style=''>  </span><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><span style=';font-family:&quot;;font-size:12;'  ><span style=''> </span><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><span style=';font-family:&quot;;font-size:12;'  ><span style=''> </span><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><span style=';font-family:&quot;;font-size:12;'  ><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><span style=''><span style=''></span><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><span style=''><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style=''><span style=''><span style=''> </span><o:p></o:p></span></p>  </div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-5107543531880031853?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 5/2/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://penyair-kalsel.blogspot.com/2009/04/budaya-banjar-baayun-anak.html">BUDAYA BANJAR : BAAYUN ANAK</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://3.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/SfltJ-kY1CI/AAAAAAAABG0/Zn7xNQ7RHj0/s1600-h/ayunan+museum.jpg'><img style='margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;' src='http://3.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/SfltJ-kY1CI/AAAAAAAABG0/Zn7xNQ7RHj0/s200/ayunan+museum.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5330411652151563298' border='0' /></a><br /><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://4.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/Sfls588xXAI/AAAAAAAABGs/oTTxj0dQRa4/s1600-h/Baayujn+anak.jpg'><img style='margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 132px;' src='http://4.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/Sfls588xXAI/AAAAAAAABGs/oTTxj0dQRa4/s200/Baayujn+anak.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5330411376839056386' border='0' /></a><br /><div style='text-align: justify;'>Adalah tradisi ibu-ibu masyarakat banjar jika menidurkan anak bayinya dengan cara mengayun, sejak zaman dahulu sampai sekarang. Ayunan itu terbuat dari <span style='font-weight: bold;'>tapih bahalai</span> atau <span style='font-weight: bold;'>kain kuning </span>dengan ujung –ujungnya diikat dengan <span style='font-weight: bold;'>tali haduk </span>( ijuk ). Ayunan ini biasanya digantungkan pada palang plapon di ruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan <span style='font-weight: bold;'>Yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur,</span> dengan maksud dan tujuan sebagai penangkal hantu – hantu atau penyakit yang mengganggu bayi. Posisi bayi yang diayun ada yang dibaringkan dan ada pula posisi duduk dengan istilah <span style='font-weight: bold;'>dipukung.</span> Mengayun anak ini ada yang mengayun biasa dan ada yang <span style='font-weight: bold;'>badundang</span>. Mengayun biasa adalah mengayun dengan berayun lepas sedang mengayun badundang adalah mengayun dengan memegang tali ayunan. Yang lebih menarik adalah menidurkan anak ini sang ibu sambil bernyanyi, bernyanyi dengan suara merdu berayun-ayun atau mendayu-dayu. Lirik lagu ini sangat puitis. Liriknya seperti ini :<br /><br /><span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>Guring – guring anakku guring</span> <span style='font-weight: bold; font-style: italic;'><br />Guring diakan dalam pukungan</span> <span style='font-weight: bold; font-style: italic;'><br />Anakku nang bungas lagi bauntung</span> <span style='font-weight: bold; font-style: italic;'><br />Hidup baiman mati baiman</span><br /><br />Catatan : Jika anaknya posisi berbaring lirik “ <span style='font-weight: bold;'>pukungan</span> “ diganti dengan “<span style='font-weight: bold;'> ayunan</span> “.<br />Isi lirik ini adalah pujian anaknya yang cantik ( cakap ) dan doa agar anaknya kelak kuat imannya dalam agama sampai akhir hayatnya.<br />Seandainya anaknya masih rewel tidak juga mau tidur, biasanya sang ibu berkata : His ! cacak ! anakku jangan diganggu inya sudah guring.<br /><br />Maayun anak ini terkadang sengaja diadakan pada acara Mauludan yakni tanggal 12 Rabiul Awwal. Dengan maksud agar mendapat berkah kelahiran Nabi Muhammad SAW<br />Pada perkembangannya, maayun anak ini menjadi sebuah tradisi budaya yang setiap tahun digelar dengan istilah <span style='font-weight: bold;'>“ Baayun Maulud”</span> Baayun Maulud ini sungguh berisi pesan-pesan <span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>religiusitas, filosofis dan local wisdom ( kearifan local ).</span><br />Baayun Maulud ini setiap tanggal 12 Rabiul Awwal yakni menyambut dan memperingati Maulud Rasul, oleh masyarakat Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara selalu mengadakan upacara Baayun Anak atau Baayun Maulud. Tradisi budaya ini mulai popular sejak tahun 1990-an.<br />Baayun Anak ini adalah salah satu agenda tahunan bagi Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan. Yang lebih unik lagi pesta Baayun Anak ini bukan hanya baayun anak tetapi pesertanya juga dari manula yakni nenek-nenek dan kakek-kakek. Mereka sengaja ikut baayun karena nazar. Nazar ini karena sudah tercapai niat atau tujuannya seperti sudah kesampaian naik haji, mendapat rejeki yang banyak atau untuk maksud agar penyakitnya hilang dan panjang umur.*****  Arsyad Indradi<br /><br /><br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4339077913601940326-2450253642024787932?l=penyair-kalsel.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>merayusukma@gmail.com (Arsyad Indradi), 4/30/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sastrabanjar.blogspot.com/2009/04/budaya-banjar-baayun-anak.html">BUDAYA BANJAR :  BAAYUN ANAK</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/SfljQfHZkcI/AAAAAAAAAeg/xri4O3LGs_U/s1600-h/ayunan+museum.jpg'><img style='margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/SfljQfHZkcI/AAAAAAAAAeg/xri4O3LGs_U/s200/ayunan+museum.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5330400768851284418' border='0' /></a><br /><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://1.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/Sfli3qQXtQI/AAAAAAAAAeY/ecNLpr6idkg/s1600-h/Baayujn.jpg'><img style='margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 159px; height: 200px;' src='http://1.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/Sfli3qQXtQI/AAAAAAAAAeY/ecNLpr6idkg/s200/Baayujn.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5330400342344971522' border='0' /></a><br />BUDAYA BANJAR : BAAYUN ANAK<br /><br /><div style='text-align: justify;'>Adalah tradisi ibu-ibu masyarakat banjar jika menidurkan anak bayinya dengan cara mengayun, sejak zaman dahulu sampai sekarang. Ayunan itu terbuat dari tapih bahalai atau kain kuning dengan ujung –ujungnya diikat dengan tali haduk ( ijuk ). Ayunan ini biasanya digantungkan pada palang plapon di ruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur, dengan maksud dan tujuan sebagai penangkal hantu – hantu atau penyakit yang mengganggu bayi. Posisi bayi yang diayun ada yang dibaringkan dan ada pula posisi duduk dengan istilah dipukung. Mengayun anak ini ada yang mengayun biasa dan ada yang badundang. Mengayun biasa adalah mengayun dengan berayun lepas sedang mengayun badundang adalah mengayun dengan memegang tali ayunan. Yang lebih menarik adalah menidurkan anak ini sang ibu sambil bernyanyi, bernyanyi dengan suara merdu berayun-ayun atau mendayu-dayu. Lirik lagu ini sangat puitis. Liriknya seperti ini :<br /><br />Guring – guring anakku guring<br />Guring diakan dalam pukungan<br />Anakku nang bungas lagi bauntung<br />Hidup baiman mati baiman<br /><br />Catatan : Jika anaknya posisi berbaring lirik “ pukungan “ diganti dengan “ ayunan “.<br />Isi lirik ini adalah pujian anaknya yang cantik ( cakap ) dan doa agar anaknya kelak kuat imannya dalam agama sampai akhir hayatnya.<br />Seandainya anaknya masih rewel tidak juga mau tidur, biasanya sang ibu berkata : His ! cacak ! anakku jangan diganggu inya sudah guring.<br /><br />Maayun anak ini terkadang sengaja diadakan pada acara Mauludan yakni tanggal 12 Rabiul Awwal. Dengan maksud agar mendapat berkah kelahiran Nabi Muhammad SAW<br />Pada perkembangannya, maayun anak ini menjadi sebuah tradisi budaya yang setiap tahun digelar dengan istilah “ Baayun Maulud” Baayun Maulud ini sungguh berisi pesan-pesan religiusitas, filosofis dan local wisdom ( kearifan local ).<br />Baayun Maulud ini setiap tanggal 12 Rabiul Awwal yakni menyambut dan memperingati Maulud Rasul, oleh masyarakat Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara selalu mengadakan upacara Baayun Anak atau Baayun Maulud. Tradisi budaya ini mulai popular sejak tahun 1990-an.<br />Baayun Anak ini adalah salah satu agenda tahunan bagi Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan. Yang lebih unik lagi pesta Baayun Anak ini bukan hanya baayun anak tetapi pesertanya juga dari manula yakni nenek-nenek dan kakek-kakek. Mereka sengaja ikut baayun karena nazar. Nazar ini karena sudah tercapai niat atau tujuannya seperti sudah kesampaian naik haji, mendapat rejeki yang banyak atau untuk maksud agar penyakitnya hilang dan panjang umur.*****  Arsyad Indradi<br /><br /><br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4645463629457162104-2591198104630553039?l=sastrabanjar.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sastrabanjar@gmail.com (Sastra Banjar), 4/30/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/04/kenduriku.html">Kenduriku</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://1.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/Seq9YBAEF8I/AAAAAAAAAO0/wftxqZJrfhQ/s1600-h/far.jpg'><img style='margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 315px; height: 320px;' src='http://1.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/Seq9YBAEF8I/AAAAAAAAAO0/wftxqZJrfhQ/s320/far.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5326277729602246594' border='0' /></a>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>Undangan buat seluruh pengunjung hudannur.blogspot.com.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><br /></span></p><div style='text-align: center;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'> Dimohon restu dan kehadirannya pada resepsi perkawinan saya yang akan dilaksanakan:<br /><br /></span><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'></span></div><div style='text-align: center;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'> Pada hari Minggu, 10 Mei 2009, Pukul 09.00 WITA-selesai, Bertempat di Gedung Serba Guna Jalan A. Yani KM 32,5 Loktabat Banjarbaru, Kalimantan Selatan Dimeriahkan Oleh Grup Panting Banjarbaru, Mamanda,  Japin Bakisah, Musikalisasi Puisi dan berbagai tarian klasik Banjar. </span><br /><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'></span></div><p class='MsoNoSpacing' style='text-align: center;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'> Ditunggu kedatangannya. Tabik<o:p></o:p></span></p><div style='text-align: center;'> <br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-7309511348397287466?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 4/18/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/04/jangan-tiru-nabi-muhammad.html">JANGAN TIRU NABI MUHAMMAD</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>Kawan, perjalanan itu berat, kau saksikam itu. Liku-liku, darah jatuh menganak sungai. Miris…setiap kepak buarng camar serta Nazar, mentasbihkan bahwa hidup hanyalah urusan waktu. Aku rindu sosok Syekh Siti Djenar, yang dipenggal oleh kesombongan manusia yang menganggap dirinya “Waliyullah”.<br />Kawan, jangan contoh Nabi Muhammad, tapi contohlah Machiaveli. Bukan Musa tapi dekati Hitler. Sungguh…aku tak mengada ada. Menjadi Nabi Muhammad, berarti kita harus berani memperhatikan sekeliling, menyantuni, dan tidak lagi berpikir demi diri sendiri. Pun ketika keu memutuskan menjadi Musa, berarti kau siap merasakan sakit akibat usahamu menegakan kalimat Tuhan.<br />Terlalu berat kawan, tiru saja Machiaveli dan Hitler, walau mereka sombong, bengis, tapi mereka lakukan itu kareana diri mereka sendiri. Dan merekapun bertanggung jawab atas kesombongan dan kebengisan yang mereka tunjukkan.<br />Kawan, tak pantas kita meniru Nabi Muhammad atau Rosul Musa. Tingkah laku kita terlalu jauh dari apa yang mereka lakukan dulu. Jangan kau mengelak dengan berkata bahwa hidup adalah proses perbaikan. Terlalu sombong ketika kita berucap itu. Meniru Machiaveli dan Hitler saja belum bisa bagaimana mungkin mengekor nabi nabi.Bertanggungjawab atas apa yang dilakukan diri sendiri saja tak bisa, apalagi memperbaiki sekelilikg kita.<br />Kawan, jangan tiru Nabi Muhammad.Kawan, ini semua perenungan. kembali pada diri kita. Selama ini kita telah menemukan Tuhan, selama berabad-abad lamanya, engan masing-masing perspektif pencarian dan pemahanan di era tertentu mulai majusi, era pertengahan hingga paham akan konsep diri  abad yang lalu. Semua renungan ini aku cuplik dari [sangmerdeka.blogspot.com] sebagai kontemplasi diri. </span></p><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-161922151780900179?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 4/11/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://blogsainulh.wordpress.com/2009/04/07/bahasa-peraturan-pelbagai-bangsa-dan-budayanya/">Bahasa Peraturan Pelbagai Bangsa dan Budayanya</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Kebudayaan suatu bangsa antara lain bisa dilihat dari bahasa peraturan yang ada di dalamnya. Walau kitab hukum dan perundangan dibuat dengan serius, ternyata ada juga yang isinya unik, lucu dan konyol.  Mari kita baca persoalan tersebut.');
document.write('THAILAND :');
document.write('Dilarang keluar rumah tanpa mengenakan celana dalam. (ketauan pake ngga pakenya gimana dong?)');
document.write('FILIPINA:');
document.write('Untuk mengurangi tingkat kemacatan lalu lintas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogsainulh.wordpress.com&blog=4047226&post=790&subd=blogsainulh&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>blogsainulh, 4/6/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/04/sultanah.html">Sultanah</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SdOxBdEybLI/AAAAAAAACLI/8R9d8kwTvd4/s1600-h/Fahmi+F+copy.jpg'><img style='margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;' src='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SdOxBdEybLI/AAAAAAAACLI/8R9d8kwTvd4/s200/Fahmi+F+copy.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5319790223397383346' border='0' /></a><br /><span style='font-weight: bold;'>Dari : Fahmi Fakih</span><br /><br /><div style='text-align: justify;'>Bagi yang mengira tingginya derajat dan kemuliaan hanyalah milik lelaki, kiranya layak untuk menyimak cerita ini. Cerita dimana cinta dan kasih sayang, sikap adil serta kearifan, bersipadu dalam diri seorang ibu.<br />Alkisah, malam itu udara kota Mekkah begitu dingin, angin tajam terasa perih menggerus kulit. Seorang lelaki tua, seorang sufi yang masyhur namanya, Abdul Qadir Jailani, berjalan sendirian memasuki gerbang kota yang gelap menuju Ka’bah, rumah Tuhan itu. Dalam hati, Abdul Qadir membatin dengan penuh rasa syukur. “Ya Allah, terima kasih atas cuaca baik yang telah Kau datangkan untuk menemaniku bersujud kepadaMu.”<br />Beginilah sifat dan perilaku manusia yang hatinya telah dipenuhi oleh cinta. Situasi yang jelas-jelas tidak bersahabat, yang seringkali kita mengeluh karenanya, di hadapan orang seperti ini malah diterima dengan kegembiraan yang tulus sebagai karunia.<br />Setelah melewati gerbang kota, Abdul Qadir tiba-tiba dikejutkan oleh satu sinar terang yang terlihat berputaran mengelilingi Ka’bah. Abdul Qadir tidak bisa memastikan benda apakah yang ada di sana, karena jarak antara dirinya dan Ka’bah masih jauh dari langkah. Namun perlahan, seiring tapak kakinya yang semakin dekat, Abdul Qadir tahu, bahwa sosok putih itu bukanlah sebuah benda, melainkan manusia!<br />Keterkejutan Abdul Qadir kiranya tak hanya sampai di sini. Yang lebih membuat sufi besar ini takjub, adalah kenyataan bahwa manusia yang dilihatnya itu seorang perempuan setengah baya dengan sebelah kaki yang buntung pula! Sisa darah masih terlihat jelas di lukanya. Perempuan itu berthawaf - ibadah dengan cara mengelilingi Ka’bah sambil berdo’a - terlihat begitu khusuk hingga tidak merasakan kehadiran seseorang yang berdiri takjub memandanginya. Abdul Qadir seketika mengurungkan niatnya untuk berthawaf dan memilih menunggui perempuan itu menyelesaikan thawafnya.<br />Setelah perempuan itu selesai dengan thawafnya, Abdul Qadir lalu datang menghampiri sambil memberi salam padanya. Perempuan itu berpaling seraya menjawab salam sang guru. Abdul Qadir kemudian bertanya. “Siapakah engkau wahai perempuan salehah, dari mana asalmu, dan apa yang menyebabkan sebelah kakimu buntung?” Perempuan itu lalu bercerita tentang dirinya, dan sebab yang menjadikan kebuntungan kakinya.<br />“Wahai Abdul Qadir, saya tinggal di luar kota, arah utara dari Baitullah ini. Saya seorang janda dengan anak yang masih kecil. Beberapa hari lalu, saya dirundung perasaan rindu yang sangat untuk datang ke rumah suci ini. Namun, karena anak saya selalu menangis jika malam tiba, rasa rindu itu hanya bisa saya simpan dalam hati. Sebab walau bagaimanapun, wahai Abdul Qadir, saya tidak mungkin meninggalkan anak saya dalam keadaan menangis, meski untuk sebuah rindu yang bersangatan. Dan saya yakin, Tuhan pasti tidak akan berkenan menerima ibadah yang saya kerjakan dengan menelantarkan anak saya.<br />Sampai tadi malam selepas menunaikan salat isya, anak saya kembali menangis. Bahkan kali ini tangisannya begitu keras melolong-lolong, seakan ada sesuatu yang menakutkan dalam penglihatannya. Dengan hati sedih, saya lalu mengambil anak itu dari tilam tipis yang kami punya. Saya pangku ia, saya coba menenangkannya dengan syair puji-pujian yang dulu sering dinyanyikan almarhumah ibu saya ketika saya masih kanak-kanak.<br />Saya terus bernyanyi. Saya terus bernyanyi dengan syair puji-pujian itu sambil mengusapi kepala anak saya. Perlahan-lahan, tangisan itu mereda, mata itu mulai redup, dan nafas yang mulanya tersengal itu, mulai tenang kembali. Anak saya tertidur, anak saya tertidur di atas paha saya. Dan bersamaan dengan itu pula rasa rindu saya semakin tak tertahankan. Laksana gunung, ia terus-menerus menghimpit perasaan saya. Saya ingin pergi mengejawantahkan rindu saya, saya ingin secepatnya menghadap Tuhan, saya ingin berkhidmat di rumah suciNya. Tapi bagaimana dengan anak saya yang sedang tidur?<br />Dalam kebingungan itu, saya teringat pedang almarhum suami saya yang tergantung di dinding tempat saya bersandar duduk. Jaraknya hanya sejengkal dari kepala saya. Tanpa pikir panjang, lalu saya ambil pedang itu dan saya potong paha yang jadi bantal tidur anak saya! Wahai Abdul Qadir, kamu tahu apa yang saya rasakan ketika pedang itu mulai memotong paha saya? Sedikitpun saya tidak merasakan sakit! Yang ada hanya perasaan lega karena dengan demikian saya bisa pergi menunaikan kewajiban saya kepada Tuhan dengan tetap bertanggung jawab atas kewajiban saya sebagai seorang ibu kepada anaknya.”<br />Mendengar pengakuan ini, diceritakan, ruh Syeikh Abdul Qadir Jailani naik ke Lauhul Mahfudh - suatu tempat di langit ketujuh di mana nama-nama dan peristiwa tercatat. Akan tetapi sesampainya di sana, Abdul Qadir tidak menemukan nama perempuan itu. Ini sangat aneh bagi Abdul Qadir. Sebab menurut kebiasaannya, setiap orang yang dipilih Tuhan menjadi walinya di muka bumi, nama mereka pasti tercatat di Lauhul Mahfudh!<br />Belum lagi selesai rasa heran atas kenyataan ganjil yang ditemuinya, ketika ruh itu kembali ke jasadnya, sebelum Abdul Qadir menanyakannya, perempuan itu, ibu yang teramat penyayang itu, sudah mendahului Abdul Qadir dengan perkataan. “Wahai Abdul Qadir, engkau tidak perlu bersusahpayah mencari tahu namaku ke Lauhul Mahfudh. Namaku Sultanah. Dan Tuhan telah menuliskan namaku bersanding dengan para nabiNya di Ummul Kitab, tempat yang lebih tinggi dari Lauhul Mahfudh.”<br />Setelah mengatakan ini, ibu itu pun pamit, kembali pulang ke rumahnya. Pulang kepada anak tercinta yang tidur lelap di atas potongan pahanya. Tak lama kemudian meneteslah airmata Abdul Qadir, tak kuasa menahan perasaan hatinya yang bahagia karena telah dipertemukan dengan perempuan mulia seperti Sultanah.<br /><br />Karang Menjangan, 17 Maret 2006<br />Fahmi Faqih<br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-2472628989151437638?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 4/1/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/03/apresiasi-puisi.html">Apresiasi Puisi</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style='font-weight: bold;'>Sunlie Thomas Alexander</span><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style='font-size:130%;'><span style='font-weight: bold; font-family: courier new;'>TUBUH KAMPUNG</span></span><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span><i>: olaf<o:p></o:p></i></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>1/<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>mereka, yang tak kasat mata<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>mengibarkan panji panji pelarian<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>di kepala kanak kanakku<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>     </span>ke rawa rawa, kami susun hikayat kampung<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>yang hangus oleh meriam lanun<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>hingga tubuh kami kejang<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                                </span>oleh mantra, oleh nujum<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                                </span>sebagai pewaris kubur keramat,<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                                </span>sumur harta karun, kampung tenung<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>riwayat kami lahir<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>dari gunjing lepau dan kebun,<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>tanah tandus yang dikencingi wedana dan padri<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>di tepi teluk, di tepi teluk<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>    </span>kami merawat mimpi bagai porselin cina.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                                                </span><span style=''> </span><span style=''>  </span>bagai syair syair di kitab tua<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>ah, lihatlah tubuh kami menjadi lembab<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>bukan oleh birahi, bukan oleh gairah muda<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>    </span>tapi semata mata amanat<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                                </span>dan kilau dosa leluhur kami,<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>mambang yang berdiam di batu batu,<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                                </span>di gunung, sungai, dan belahan pohon<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>di tepi teluk, di tepi teluk<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>     </span>kami berjumpalitan bagai tongkol<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>ke sampanmu<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>di tepi teluk, di tepi teluk<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>    </span>kami dirikan rumah rumah panggung<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>    </span>dan gazebo, surau dan tapekong,<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>kapel dengan lonceng tembaga dan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                                                </span>tulip tiruan berwarna terong<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>sambil menyantap bakar kerang, udang satang:<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>ai, carilah silsilah kami<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                                </span>di reruntuhan benteng para siluman,<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                                </span>wahai tuan pelancong yang budiman!<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>2/<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>demikian, selalu aku kembali bertamasya<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>ke muasal mimpi, muasal luka<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>yang konon tumbuh dewasa<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>    </span>dalam serapah-gurau pasar yang anyir<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>mari tuan, kita susuri<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>ini kota remang yang bangunkan kami saban pagi<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>dengan cuaca nyinyir, <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>gelak ruko ruko bernama ganjil<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>sebelum angin buruk mengusikmu,<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>     </span>sebelum angin buruk memadamkan lampu lampu<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>ah, kenangan yang berpusing serupa gasing<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>    </span>merabuk tubuh kami, kanak kanak <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>yang bau air payau dan kapur barus<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>: dan andai kau temukan dunia tercipta begitu saja<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>dari teriak tukang sayur dan pengiklan film...<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>3/<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>di ladang, kami belajar membaca peta<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>sampai musim panen melimpah ruah<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>memenuhi kapal kapal berlambung lapar<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>ke bioskop tua, kami berburu masa depan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>membayangkan musim salju dan taman taman<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>di negeri yang jauh di angan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>di pasar malam, kami belajar tenung<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>melempar bola nasib yang kerdil<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>bagai kerlip bintang di malam dingin<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>hingga menjelma kami<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>     </span>jadi anak rantau<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>yang sesekali pulang, entah datang<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                                </span>pada mata waktu, kampung yang membatu,<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                                </span>menyerukan ibu...<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>atau mimpi kami bakal tetap tersesat di kebun<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>mencangkok pisang<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>     </span>hingga berbuah angan bertandan tandan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>: bumi hanya sepetak halaman!<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>tapi dunia sejak awal bermula di sini:<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>di sungai sungai penuh ikan, <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>di tambang tambang legam bijih timah<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>di ladang ladang merdu kicauan burung<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>bawalah tuan,<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>     </span>sekadar tanda mata<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>     </span>dari hati kami yang rawan;<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>serpihan batu mambang,<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>akar pohon hutan bunian<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>sebelum kapal kapal kembali <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>mengangkat sauh,<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                                </span>mengangkut mimpi kami<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>ke negeri asing, ke negeri asing...<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>: di teluk yang biru, langit begitu kelabu!<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>4/ <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>karena itu, lupakanlah tuan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>jampi jampi gaib gunung pelawan,<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>hikayat kampung samar samar<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>atau borok borok lubang di sekujur tubuh<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                                </span>ini pulau angan angan!<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>ceritakan saja pada mereka, sebuah negeri<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>     </span>yang terbentang dalam mimpi kanak kanak kami<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>     </span>seperti asap dari hutan yang terbakar:<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>barangkali tak ada dalam peta<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>barangkali tak kasat mata<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>barangkali di sana, kanak kanak <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                                </span>tak pernah tumbuh dewasa<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>sebagaimana di bagan tak ada lagi udang,<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>di ladang tak ada lagi rumpun sahang,<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>di sumur batu, riwayat kami amat gamang<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>di saing, wahai tuan!<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                </span>selain biduan, selain biduan dan keluh ibu<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>                                                                                </span>yang tertahan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>mimpi kami pun perlahan karam<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><span style=''>     </span>seusai pesta pernikahan...<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='' lang='IN'>: di rawa, di rawa!<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><i><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></i></p>  <p class='MsoNoSpacing'><i><span style='' lang='IN'>Saing-Belinyu, Agustus 2007<o:p></o:p></span></i></p><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-2497617371117710223?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 3/26/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/03/pasca-yudisium.html">Pasca Yudisium</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://1.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/Scs9soW9fhI/AAAAAAAAAOs/Y0kcWLK5L0I/s1600-h/PICT0156.JPG'><img style='margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;' src='http://1.bp.blogspot.com/_2MGoMZZUPGI/Scs9soW9fhI/AAAAAAAAAOs/Y0kcWLK5L0I/s320/PICT0156.JPG' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5317411621998263826' border='0' /></a><br /> <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Sekadar berbagi, setelah hiruk pikuk perjuangan dan perjalanan sementara di dunia mahasiswa akhirnya aku harus melapangkan jalan untuk hengkang dari dunia kampus untuk sementara waktu. Aku didampingi Bapak Elang dalam ceremony tersebut. Bravo!!!</p><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-4389636247814870987?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 3/26/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/03/plakat-pembuka.html">Plakat Pembuka</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><p class='MsoNoSpacing'><b style=''><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>Wajah Deportan</span></b></p><p class='MsoNoSpacing'>(Eko Putra)<br /><b style=''><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNoSpacing'><b style=''><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><o:p> </o:p></span></b></p><p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>paman, tunggu sebentar<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>jangan beranjak dari bangkumu<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>aku ingin bicara<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>tentang gambar-gambar kebudayaan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>yang kita jadikan reklamasi<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>tempat tanahair menceritakan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>dukalara nenekmoyang, melalui<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>tangan-tangan kita dan teror-teror kita<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>(dalam kamar sejarah<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>kita menyulap anak-anak<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>sebagai ritus-ritus hedonis<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>yang kita lahirkan berabad-abad<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>lewat kata dan kemiskinan yang<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>membatu)<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>paman, apakah engkau akan <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>melukis wajah kita dalam <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>carut-marut ini, pada<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>lapar dan dahaga<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><span style=''>            </span>di tanah subur ini<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>lalu kita berteriak dalam gema<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>yel-yel, selebaran, spanduk, televise<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>koran, majalah, radio…<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“ mari kita revolusikan cinta ini !”<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>tapi kemiskinan telah ngalir<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>di tubuh kita, di kolong jembatan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>di sawah-sawah, di gunung-gunung,<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>di sungai-sungai, hotel dan gedung bertingkat<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>paman<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>semuanya menggumpal <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>dalam usus saudara kita<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>yang selalu kesakitan, mengenang<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>janji-janji kita, dan masih <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>menyala pada harapan mereka<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>menjadi darah busuk kita dalam denyut nurani kita<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>yang terpenjara<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>(paman, kumatian televisi<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>agar anak-anak belajar<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>menghitung masa lalu)<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>dan akhirnya kita akan mengerti<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>bahasa dan kebudayaan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>yang telah porak-poranda<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>dari tempat dudukmu<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>dari wajah telanjang kita<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>Sekayu, 2008<o:p></o:p></span></p><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-5203207943590740449?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 3/26/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/03/pengaduan-seni.html">Pengaduan Seni</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>LAGI, aku terus berlari. Pokoknya aku harus bertemu dengan kau. Betapapun caranya. Kulalui sejengkal demi sejengkal satu-satu sisa desahan nafasku yang kian saat kian melemah, apapun yang terjadi kutemui kau. Sebelum waktuku habis. Denyut jantungku pun semakin kencang, mengalahkan langkahku berlari. Saking lelahnya berlari, aku tidak memperhatikan pandanganku ke depan, mataku hanya tertuju ke tanah karena menurutku cuma tanahlah yang kini dapat menyaksikan perjuanganku untuk bertemu dengan kau. Adakah peluang itu berpihak ke tanganku? Aku tak tahu. Siapakah yang peduli dengan harapanku?<span style=''>  </span><span style='position: relative; top: 5.5pt;'><o:p></o:p></span></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>Aku sudah lupa berapa lama sudah aku berlari, karena keberadaan waktu bagiku bukan apa-apa. Aku tidak mau diperalat waktu, meskipun demikian akupun sadar bahwa hidup itu sendiri tidak dapat terlepas dari kekakuan sang waktu. Akh, buat apa memikirkan dia, karena dialah juga, aku begini. Hidup terlunta-lunta, bersembunyi dari satu malam ke malam berikutnya dan hanya kaulah satu-satunya yang bersedia menjadi sahabatku, mendengarkanku. Aku sangat berhutang budi pada kau. Sekarang aku harus menemukan kau. Oh… kau di mana keberadaanmu sekarang ???! Aku sudah tidak tahan lagi…<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>Tidak. Aku tidak boleh memporsir pikiran hanya demi umpatanku atas ketidakberdayanku melawan segala. Apakah segenap upaya harus diakhiri pengorbanan? Kalau begitu, pengorbanan apa yang pantas membela kehadiranku. Sementara kebenaran dianggap sebagai sebuah anggapan. Sesuatu yang benar belum tentu benar begitupun kesalahan. Di mana letak kebenaran yang sebenar-benarnya? Lalu, tiba-tiba semuanya gelap, udara terbius pekat padahal malam belum saatnya menjelma. “Ada apa ini?”<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>*****<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“Sen! kamu mencariku seperti sebelumnyakah? Karena awan buru-buru menjemputku. Katanya, kamu tidak sadarkan diri. Jangan bergerak!, kondisimu belumlah purna! Istirahatlah!,” pinta kau, disaat Seni mencoba menggerakkan anggota tubuhnya.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“Ternyata, aku masih bernafas!,” kilah Seni tanpa menjawab pertanyaan kau.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“Sen, duka apa lagi yang kamu rasai berbagilah denganku?, ceritakanlah! aku selalu siap mendengar pengaduanmu!?!!”<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“Aku minta maaf kau!, karena selama ini aku terlambang hanya bersamamu disaat aku dilanda kepiluan, seperti aku dikecewakan kekasihku dulu. Tapi sungguh bukan begitu hasratku, karena di jalananku ini hanya ada satu sisi yakni minus. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku terlahir dalam keadaan seperti ini. Aku tidak tahu kau! Aku malu…,” keluh Seni.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“Sen, bagiku semua itu tidaklah penting. Yang penting, diriku dan dirimu masih tetap bisa memandang senja tenggelam berdua, aku tidak peduli apapun keadaanmu?,” hibur kau.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>Kehambaran hati Seni terobati oleh kata-kata itu, “Terima kasih kau. Setidaknya masih ada yang mau mendengarkanku. Aku tidak tahu harus memulainya darimana?<span style=''>  </span>Jujur saja kau!, aku sudah penat. Orang-orang di bumi semuanya… mereka memfitnah aku. Aku yang tidak tahu apa-apa!??, aku bingung mengapa hal ini bisa demikian??”<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“Bisa demikian? Maksudmu apa Sen???, aku tidak paham!,” tanya kau heran.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“Ketahuilah kau, bahwasanya semua manusia telah memakaiku sebagai tameng. Semua kelakuan buruk apalagi! Aku… Aku…benci! Sementara aku tidak mengenal siapa mereka? Tapi atas perilaku mereka itu disebut-sebutnyalah aku. Seni!”<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>kau semakin heran, “Sen, mengapa demikian? Aku tidak mengerti penjelasanmu itu?”<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“Akupun demikian kau. Ketika aku berjalan di stasiun kereta api yang dipenuhi kerumunan penumpang, satu di antaranya berteriak ‘Jambret… Jambret….!!!’, lalu orang di sampingku tertawa sementara yang lainnya asyik mengejar si penjambret tersebut ‘Bodoh! andainya saja ia tahu seni mencopet manalah mungkin ia ketahuan, dasar payah!’ dan aku hanya diam mengartikan maksudnya. Aku berjalan lagi, entah kemana? Kulihat orang-orang berdesakan. Aku merasa heran ada apa? Lalu kudekati mereka, salah satu di antaranya mengatakan bahwa sebentar lagi pertunjukan seni teater akan segera dimulai. Akupun terdorong oleh desakan orang-orang di belakangku. Aku masuk ke tempat itu. Tempat yang sangat gelap dan yang ada hanyalah lampu-lampu kecil yang menyoroti dari atas sebuah podium dengan ukuran yang maha besar.<span style=''>  </span>Kudengar mereka menyebutnya panggung arena. Satu-satu orang keluar dari bilik podium raksasa itu serta merta lenggak-lenggok bergaya sambil berkata-kata. Sebuah tontonan yang mengaysikkan yang mengisahkan seorang lelaki dengan bolanya, ia gelindingkan dan sesekali dilemparkannya. Suatu ketika bola itu melayang menyambar ke arah salah satu jendela di keliling podium itu, lalu pecah. Lagi, aku diam. Lagi, mengartikan maksudnya. Kemudian aku berjalan lagi, lagi-lagi aku bertemu orang-orang. Ada seorang betina menangis, dengan tak sehelai kainpun membalut tubuh eloknya. Ia terus menangis dan meronta. Ia histeris dan berkata dalam tangisannya yang sebisa-bisanya itu; ‘Keperawananku telah dirampok, kemaluanku telah dijarah, diriku sudah disahaya…, biadab! <i>Bangsat</i>!’ lagi-lagi aku hanya diam. Dan lagi-lagi, mengartikan maksudnya. Aku tidak kuat menahan amarahku, aku teriak lepas, tanpa peduli dengan sekelilingku. Lalu aku berlari… berlari… dan berlari mencarimu! Aku pusing, aku bingung dengan apa yang terjadi!?”<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“Begitukah???, begitukah mereka??? Memakaimu atas dasar hal yang dianggapnya lumrah. Mereka benar-benar telah memfitnahmu!,” iba kau.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“kau, setiap apa yang mereka lakukan berazaskan aku. Orang memperkosa orang dikatakan seni memperkosa, Orang mengikuti lomba tari dikatakan mengusung dan membudayakan seni tari. Ada juga orang yang bercinta mereka mengatakan seni bersenggama. Bahkan mereka menjabarkannya lagi dalam sebuah buku yang berjudul <i>69 seni bersenggama, khusus bagi anda yang ingin menikmati kenikmatan lebih.</i> Penasaran, apa isinya lalu kubuka halaman perhalaman ternyata? Jijik aku melihatnya. Sepasang insan dengan kebugilannya berdekapan, sang betina dipeluk lawan jenisnya dari arah belakang menuju ke kiri. Ini dinamakan teknik menyamping. Bulshit, pantaskah buku semacam itu beredar dengan kandungan yang memuakkan? Parahnya lagi, aku membaca spanduk yang bertuliskan <b><i>seni adalah seni. seni berkebebasan. lakukanlah apa yang kau mau sesukamu! Hidup seni!!!</i></b> nanar aku melihatnya, sedemikian burukkah sudah seni di mata mereka. Lalu diinjak-injak oleh mereka yang mengaku-ngaku bagian dari seni. Padahal tahu apa sih mereka tentang aku? namaku dijual dimana-mana. Diseluruh belahan dunia ini. Bahkan mungkin sudah merambah ke luar angkasa sana. Katakan kau, aku harus berbuat apa?”<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“Sen, tenanglah. Ini adalah ujian dari Tuhan bagi hambaNya dan Ia masih memberikan kesempatan bagimu untuk membeberkan semuanya kepada manusia-manusia itu, mengubah persepsi yang salah kaprah atas dirimu Seni. Aku percaya kamu pasti mampu melakukannya. Tapi……!!!???”<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>Mendengar jawaban yang menggantung dari kau, Seni bertambah bingung “Tapi…, tapi apa kau?”<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“Maaf Sen, bukan apa-apa. Tapi, Tuhan sendiri memakaimu atas apa yang ia kehendaki. Ia membuat dunia ini dengan seni. Tanpa seni, aku tak tahu apa jadinya tempat kita menginjak ini? Ayat-ayat yang diturunkanNyapun memakai seni bahasa yang indah-indah. Bahkan ada umat agama yang menuliskan ayat-ayat kitab suci agamanya ke dalam seni kaligrafi dan ajakan untuk mengerjakan perintah Tuhannya dengan seni azan!,” papar kau pelan dan berhati-hati.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>Sedang Seni hanya diam, ia merasa hidup tidak adil untuknya. Batinnya terus berontak, ia merasa dilakukan semena-mena oleh apa saja yang mengaku-ngaku atas dasar seni. Ia membenci semuanya, termasuk Tuhan. Ia merasa dimanfaatkan oleh semua. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“kau, dengan kata lain apa yang kita lakukan ini juga kamu katakan seni? seni mengadu!,” Seni mengapi-api bersama gaya laut merahnya.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>Namun kau hanya diam. Seakan-akan ia mengiyakan pernyataan Seni.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“kau, kukira kau dapat menolong aku. Kukira hubungan kita dapat menjadi abadi. Aku salah menilaimu. Kamu sama saja dengan mereka. Kamu sama dengan kekasihku yang meninggalkan aku setelah puas mendapatkan apa yang dikehendakinya dengan atas dasar seni, ya… seni menghancurkan perasaanku. Seperti kamu, kau!!! Kamu jahat kau, Aku benci semua, aku benci SEMUA!!!”<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“Sen, kontrol semua emosimu! Dengar!, sisi minus yang kau keluhkan tadi adalah sisi plus bagi yang mau memahaminya! Sadarilah segala kata-kata yang terdengar manis pada hakikatnya adalah mimpi. Kedamaian, keadilan dan kebahagiaan salah satunya. Bukankah kamu juga berupaya mewujudkannya? Kamu lupa, damai, adil dan bahagia adalah kebohongan belaka, untuk mengatasi kemelut pertahanan agar tetap senantiasa menetap untuk hidup. Adakah yang mampu menggapainya? Tak satupun. Apakah damai, jika di luar sana peperangan menggema? Apakah adil, jika di sekeliling kita masih terdapat gadis peminta-minta yang mengharap pasokan makanan demi menempa hari berikutnya? Apakah bahagia, jika duduk di punggung yang lain sementara yang didudukinya merasakan sakit yang maha. Seni sahabatku!, aku, kamu, mereka yang berada pada kehidupan adalah sama, bertahan bukan demi mimpi-mimpi itu. Tetapi demi luka!,” setelah mengucap luka kau menangis. Apakah baginya bertahan itu berarti menangis?<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>“Tidak… tidak… tidak kau!, kamu bicara sekenanya saja bukan? Menurutmu, segala seni, termasuk; damai, adil, bahagia merupakan semacam teka-teki yang berkutat di situ-situ juga. Layaknya labirin. Menurutmu, segala perlakuan tentang seni itu wajar?<span style=''>  </span>Haruskah semua jalan di lalui nestapa. Segenap derita. Demi luka?,” Seni menggeram, karena saat hanya berkeliling untuk kesia-siaan. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>*****<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>Lagi, aku terus berlari… aku harus menjelaskan pada mereka bahwa aku adalah Seni yang tidak rela melihat perbuatan dengan mengatasnamakan aku, Seni. Aku tidak seperti yang mereka pikirkan, Jangan fitnah diriku lagi… kumohon, Mengertilah!!! Sambil berlari akupun menangis seperti yang dilakukan kau untuk bertahan, aku tak peduli. Sesekali kutengok ke atas, mengapa<span style=''>  </span>malam selalu dipenuhi kebungkaman. Tapi tidak dengan bintang yang berhamburan yang tidak bisa dijabarkan dengan hitungan tetapi diukur dengan perkiraan karena tak satupun yang tahu berapa jumlah bintang-bintang itu. <o:p></o:p></span></p>    <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><br /></span></p><p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'>Hudan Nur, Guntung Payung, 20 Juli<span style=''>  </span>2005 04:25 PM<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNoSpacing' style='text-align: justify;'><span style='font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;'><o:p> </o:p></span></p><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-8666735921669876492?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 3/26/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://hudannur.blogspot.com/2009/03/maklumat-penting.html">MAKLUMAT PENTING</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><div style='text-align: justify;'><br /></div><br /><div style='text-align: center;'><span style='font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;' >FABEL</span><br /></div><br /><br />O… coba binatang berkenan. Berbusana baju manusia. Entah jas, safari, kebaya dan yang lain. Yang lumrah orang pakai.<br /><div style='text-align: justify;'>O… coba binatang berkenan berkeliling pakai protokol, ajudan, bodyguard. Saatnya kuangkat sebagai menteri. Gajah menteri sosial, Kelinci menteri riset, Orangutan Menlu, Siamangnya Mendagri.<br />Gajah tinggi besar, pantas ngurus sosial. Agar rakyat nyangka, betapa tinggi besar perhatiannya pada keadilan sosial, kuping gajah sangat lebar sekali agar rakyat nyangka ia sangat peduli. Ia selalu ingin mendengar soal keadilan sosial. Yang penting jangan sampai dia cuma ambil pusing sekolah gajah di Lampung.<br />Kenapa Kelinci menteri riset dan teknologi? Karena saking banyaknya sangat banyak percobaan. Cobaan di negeri sendiri. Kalau rakyat nggak taha. Tidak tahan cobaan. Biar menteri sendiri, hayo, jadi kelinci percobaan.<br />Orangutan jadi Menlu, Siamang Mendagri. Kenapa kok Orangutan? Kenapa mesti Siamang? Tanya saja pada Kancil, yang sedang mencuri timun, beliau adalah Sekretaris Kabinet.<br />O… sori pak Kancil sedang sakit, Tanya saja sama pak Kambing, beliau itu menteri juga lho, menteri Kesehatan merangkap Sekretaris Kabinet Ad Interi, O ya kenapa kok Kesehatan? Karena kambing itu hebat lho, semua rakyat takut kolesterol. Rakyat takut stroke, persis takut amerika, nggak berani makan kambing, padahal kambing seluruh badannya kolesterol semua, gak papa tuh, jangan jadi kambing hitam.<br />Tikus ngurus Industri, Ular ngatur Jaksa, Bekicot Perumahan, Kuda menteri Wisata.<br />Tikus ngurus Industri tahukah kau kenapa? Supaya gudang-gudang tak digerogoti tikus, karena sungkan kepada pak menteri, yang masih terhitung sanak family sendiri.<br />Ular jadi Jaksa, itu sudah jelas, alasannya jelas, kenapa-nya jelas, itu sudah jelas. Karena jaksa perlu urat leher, urat leher panjang untuk terus menuntut siapa saja tak pandang bulu_leher ular sudah panjang karena sepanjang badannya leher semua.<br />Bekicot jadi teladan bawa rumah kemana-mana oooo pantes banget jadi menteri Perumahan, oooo sehingga rumah-rumah  aman, nggak ada garong, oooo biar pak polisi nganggur…nemenin anaknya ngerjain pr.<br />Di tempat-tempat wisata , bayak kuda-kuda ngangkut anak-anak beputar-putar oooo senangnya, lebih senang lagi kalau menterinya yang kuda, turun ke bawah sendiri, turba turba, turun ke bawah, wah nanti anak-anaka akan cerita di kelas, di depan bu guru, “Bu, kemarin aku, di tempat wisata naik punggung menteri, menteri pariwisata, hebat ya… hebat ya…” ya pansti semua orang tergiur berwisata.<br />Kadal dan Kambing Hitam, Bunglon, Louhan dan Teri, Beo dan Kuda Hitam, semua kulantik sebagai menteri. Walau kerja tak becus, tapi yang yang paling cocok. HEWAN GAMPANG DIURUS, LEBIH SUSAH DISOGOK!<br /><br />…. Demikianlah sumbangsih pra pesta demokrasi yang saya kutip dari karya seorang Maestro Sujiwo Tejo. Meski terkesan prontal, tetapi inilah anekdote nyata yang cukup relevan dengan suhu di Nusantara. Ketika Tuhan menciptakan Flora, manusia lebih memilih Fauna untuk dicontoh, tetapi lebih lajut kalau boleh kita berpikir lebih intens, binatang lebih baik daripada manusia. Terlepas bekal akal yang sudah dikarunianya yang bisa meramu pekerti, manusia kehilangan bentuk dalam kadar makna manusia itu sendiri! Menjelang PEMILU 2009, ada kabar gembira bagi para caleg yang stress… gagal dalam Pemilu 2009 yakni telah dibukanya pengobatan alternatif, silakan menghubungi ABAH GOLPUT di www.gilasi@njing.puas.om<br />Sementara kampanye terbuka yang menghabiskan dana yang tak kalah besarnya, melibatkan artis-artis erotis dalam menarik simpatisan, sementara di belahan Indonesia korban Lapindo belum mempunyai tempat tinggal, dengan segala keterbatasan dan pengembirian atas pemerintah bahkan Gubernur Jatim yang baru saja terpilih! Euphoria Indonesia dalam Kategori sangat memprihatinkan. Saatnya kita semua merenung dengan hati. Buka mata lebar-lebar. Tanya diri kita. Apakah masih ada perjungan yang mengatasnakan rakyat tanpa embel-embel selain kawan-kawan mahasiswa dan aktivis???<br /></div><blockquote><blockquote><blockquote><span style='font-style: italic;'><span style='font-style: italic;'><span style='font-weight: bold;'><span style='font-weight: bold;'><span style='font-weight: bold;'></span></span></span></span></span></blockquote></blockquote></blockquote><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5339107308309643451-5930430837167846984?l=hudannur.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>noreply@blogger.com (Hudan Nur), 3/26/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://blogsainulh.wordpress.com/2009/03/25/buku-teori-sastra/">Buku Teori Sastra</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Judul    : Teori Sastra, dari Marxis sampai Rasis');
document.write('Penulis : Sainul Hermawan');
document.write('Tebal    : 220 hal');
document.write('Tahun: 2005');
document.write('');
document.write('Penerbit: PBS FKIP Unlam Banjarmasin');
document.write('Teori sastra merupakan salah satu bagian dari tiga bidang studi sastra. Dua bidang yang lainnya adalah sejarah sastra dan kritik sastra. Sejak lama ketiganya dipandang saling berkaitan erat dalam pengertian ketiganya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogsainulh.wordpress.com&blog=4047226&post=733&subd=blogsainulh&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>blogsainulh, 3/25/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://blogsainulh.wordpress.com/2009/03/25/ragam-kritik-cerpen-dan-novel/">Ragam Kritik Cerpen dan Novel</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Buku ini adalah kumpulan tulisan saya dari beragam sumber, mulai dari jurnal ilmiah, makalah yang tidak dipublikasikan, sampai tulisan yang telah dipublikasikan di harian yang terbit di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) dan sekitarnya. Dengan kata lain, buku ini adalah kumpulan laporan penelitian yang saya lakukan dari 2004 sampai 2008. Upaya pengumpulan ini bertujuan utama untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogsainulh.wordpress.com&blog=4047226&post=729&subd=blogsainulh&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>blogsainulh, 3/25/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://blogsainulh.wordpress.com/2009/03/25/sastra-kalsel-dalam-kritik/">Sastra Kalsel dalam Kritik</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Pada awalnya buku ini hendak diberi judul Kritik Sastra Kalimantan Selatan 2005-2007. Dengan demikian judul buku ini dapat dibaca pada dua tataran sekaligus. Pertama, pada tataran informatif, ia berarti sekadar menginformasikan bahwa buku ini berisi esai kritik sastra terhadap beberapa karya sastra para sastrawan di Kalimantan Selatan (Kalsel) tahun 2005-2007. Kritik di sini tidak perlu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogsainulh.wordpress.com&blog=4047226&post=726&subd=blogsainulh&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>blogsainulh, 3/25/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://blogsainulh.wordpress.com/2009/03/25/tionghoa-dalam-bias-cerita-pribumi/">Tionghoa dalam Bias Cerita Pribumi</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Orang-orang Tionghoa sendiri hampir tidak pernah bercerita mengenai diri mereka sendiri, informasi yang lebih mendalam mengenai mereka terpaksa tetap hanya dapat diperoleh dari penuturan orang lain.');
document.write('Tragedi kemanusiaan 13-14 Mei 1998 mendorong banyak kalangan untuk melakukan refleksi mengenai hubungan antraetnis, terutama antara orang non-Tionghoa yang mengklaim dirinya sebagai pribumi dan orang Tionghoa yang diklaim oleh kalangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogsainulh.wordpress.com&blog=4047226&post=722&subd=blogsainulh&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>blogsainulh, 3/25/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://blogsainulh.wordpress.com/2009/03/25/pelajaran-pewarisan-korupsi/">Pelajaran & Pewarisan Korupsi</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Percaya atau tidak. Di sudut pelosok provinsi                          ini, pernah ada seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) baru yang              [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogsainulh.wordpress.com&blog=4047226&post=720&subd=blogsainulh&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>blogsainulh, 3/25/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://blogsainulh.wordpress.com/2009/03/25/anak-anak-televisi/">Anak-anak Televisi</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Oleh Sainul Hermawan');
document.write('');
document.write('Kalau kita mau menyadari bahwa TV dapat memberi                          banyak dampak bagi anak kita, orangtua sebaiknya              [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogsainulh.wordpress.com&blog=4047226&post=718&subd=blogsainulh&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>blogsainulh, 3/25/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://blogsainulh.wordpress.com/2009/03/25/ruu-bahasa-ruu-basa-basi/">RUU Bahasa, RUU Basa Basi</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Oleh Sainul Hermawan');
document.write('Cerita usang itu berulang lagi. Pusat Bahasa Depdiknas hendak mengatur penggunaan bahasa di ruang publik                 melalui Undang Undang (UU), dengan beragam sanksi dan denda. Alasannya adalah pengutamaan Bahasa Indonesia dalam segala sektor kehidupan seperti terjadi   [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogsainulh.wordpress.com&blog=4047226&post=715&subd=blogsainulh&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>blogsainulh, 3/25/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://blogsainulh.wordpress.com/2009/03/23/mengajar-anak-menulis-puisi/">Mengajar Anak Menulis Puisi</a></h4>');
document.write('<p class="fjitembody">Adaptasi oleh Sainul Hermawan');
document.write('Linda St. Cyr dalam artikelnya How to teach poetry to kids  (akses 24 Maret 2009) menyatakan bahwa anak-anak suka dengan kata-kata, rima, irama, dan nada. Mereka sebenarnya adalah para pecinta puisi. Ibu mereka sebenarnya telah mengajarkan puisi saat mereka dilahirkan dengan cara mengidungkan lagu nina bobo dan membacakan cerita saat anak-anam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogsainulh.wordpress.com&blog=4047226&post=699&subd=blogsainulh&ref=&feed=1" /></p>');
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>blogsainulh, 3/23/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/03/problematika-pengajaran-sastra-di.html">Problematika Pengajaran Sastra di Sekolah</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/ScJhssZ_uHI/AAAAAAAACHQ/RLytV1DUMcw/s1600-h/Mahmud+JA.jpg'><img style='margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 79px; height: 113px;' src='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/ScJhssZ_uHI/AAAAAAAACHQ/RLytV1DUMcw/s200/Mahmud+JA.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5314917930712938610' border='0' /></a><br />Oleh: Mahmud Jauhari Ali<br /><br /><div style='text-align: justify;'>Di tengah ramainya tuntutan guru untuk mendapatkan kesejahteraan yang layak bagi mereka, sudahkah mereka itu berkontemplasi.<br /><br />Maksudnya adalah merenungi atas hal yang telah mereka perbuat dalam dunia pendidikan, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Sastra merupakan bagian intergral dalam dunia pendidikan tersebut yang diajarkan di tiap jenjang pendidikan di Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan.<br /><br />Pengajaran sastra mencakup ketiga genre sastra, yakni prosa fiksi, puisi, dan drama. Dalam pengaplikasiannya, ketiganya disintesiskan dengan kegiatan menyimak dan membaca sebagai aktivitas reseptif siswa. Disintesiskan juga dengan kegiatan berbicara dan menulis bagi siswa, yang merupakan aktivitas produktif mereka. Hal itu berlangsung hingga pada tahap evaluasi.<br /><br />Dalam pengajaran sastra itu, terdapat beberapa problematika yang harus segera diatasi oleh guru bahasa dan sastra di sekolah. Hal itu kita pandang perlu, karena problematika pengajaran sastra menyebabkan kurang optimalnya pengajaran sastra di sekolah. Akhirnya, siswa pun kurang cerdas dalam hal bersastra.<br /><br />Kita tidak hanya mengharapkan output dalam pembelajaan sastra. Lebih dari itu, kita menginginkan outcome yang bagus. Contoh, proses belajar-mengajar terjadi dan akhirnya siswa memiliki pengetahuan tentang sastra. Banyak orang beranggapan bahwa contoh itu telah selesai. Padahal, dalam contoh itu hanya sampai pada output. Kita menginginkan siswa di lapangan dapat mengapresiasi, menganalisis, dan juga dapat memproduksi karya sastra sebagai outcome dalam pengajaran sastra di sekolah.<br /><br />Selama ini, pengajaran sastra di sebagian besar sekolah hanya terjadi dalam ruang yang diapit dinding kelas. Hasilnya, daya imajinasi dan kreasi siswa kurang berkembang optimal. Misalnya, ketika siswa mendapatkan tugas membuat puisi berkenaan dengan alam. Namun, guru yang bersangkutan tidak mengajak mereka ke alam terbuka. Padahal di ruang tertutup dinding kelas, kurang mendukung dalam menumbuhkembangkan daya imajinasi dan kreasi mereka dalam proses penciptaan puisi.<br /><br />Itu merupakan salah satu problematika dalam pengajaran sastra di sekolah. Seharusnya, guru mengajak siswa keluar, ke alam terbuka dan membantu mereka dalam proses penciptaan karya sastra.<br /><br />Problematika yang lain, sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah kurang menumbuhkembangkan minat dan kemampuan siswa dalam hal sastra. Sebenarnya guru Bahasa dan Sastra Indonesia dapat mengusahakan karya sastra siswa dimuat di media massa, dalam bentuk buku sastra, melalui media elektronik yakni internet dan radio.<br /><br />Hal terakhir ini sangat bagus dalam menumbuhkembangkan potensi sastra yang ada dalam diri siswa. Mereka akan tertantang untuk membuat dan memublikasikan karya sastra mereka secara luas dan kontinyu. Kenyataan yang lebih memprihatinkan, sebagian besar guru bahasa dan sastra tidak menjadi contoh sebagai orang yang aktif membuat dan memublikasikan karya sastra di media massa, dalam buku sastra, dan media elektronik.<br /><br />Selain itu, sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah juga sangat kurang memperkenalkan sastrawan Kalimantan Selatan kepada siswa. Oleh karena itu, wajar jika sebagian besar siswa tidak mengenal sastrawan Kalimantan Selatan. Padahal, biodata dan karya sastrawan Kalimantan Selatan merupakan pengetahuan sastra yang harus dimiliki siswa di tiap jenjang pendidikan di sekolah. Seharusnya, guru bahasa dan sastra tidak hanya memperkenalkan sastrawan dari Pulau Jawa, Sumatera, atau dari pulau lainnya kepada siswa.<br /><br />Perlu kita ketahui, bahwa sebagian sastrawan Kalimantan Selatan juga sudah menjadi sastrawan nasional di Indonesia. Sebut saja dua contohnya, Jamal T Suryanata dan Arsyad Indradi. Karya sastrawan Kalimantan Selatan pun layak menjadi bahan pelajaran sastra di tiap jenjang pendidikan di provinsi ini.<br /><br />Dengan demikian, siswa juga dapat membuat karya sastra berbahasa Banjar karena sastrawan Kalimantan Selatan juga ada yang menggunakan Bahasa Banjar dalam berkarya sastra. Bahasa Banjar pun akhirnya bertambah lestari. Problematika yang ketiga itu juga harus segera diatasi, agar pengajaran sastra di sekolah dapat berlangsung secara baik dan benar.<br /><br />Hal yang tidak kalah memprihatinkannya dalam pengajaran sastra di provinsi ini, adalah berkenaan dengan sastra daerah Kalimantan Selatan. Banyak guru bahasa dan sastra yang kurang menyinggung apalagi membelajarkan sastra daerah Kalimantan Selatan, seperti mamanda, lamut, dan madihin kepada siswa. Padahal sastra daerah Kalimantan Selatan perlu sekali diajarkan dengan porsi yang memadai di semua sekolah. Hal itu sangat bagus dalam rangka melestarikan khazanah kekayaan sastra dan bahasa Banjar di provinsi ini. Problematika keempat itu merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan. Sastra daerah Kalimantan Selatan seharusnya diajarkan oleh guru bahasa dan sastra kepada siswa.<br /><br />Kini, saatnya guru bahasa dan sastra di sekolah mengatasi problematika pengajaran sastra seperti paparan di atas. Hal itu guna kemajuan sastra di provinsi kita. Bagaimana menurut Anda?<br /><br />Pengurus Komunitas Sastra Indonesia Cabang Kertak Hanyar<br />Terbit di Banjarmasin Post, Senin, 2 Februari 2009 |<br /><br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-212306056665777761?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 3/19/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/03/kalalatu-ekspresi-arsyad-indradi.html">"Kalalatu" Ekspresi Arsyad Indradi Dlm.Intrinsik Puisi</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SbdM3sNyJVI/AAAAAAAACFw/VDkhCZobiiU/s1600-h/noor+hana.jpg'><img style='margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 195px; height: 200px;' src='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SbdM3sNyJVI/AAAAAAAACFw/VDkhCZobiiU/s200/noor+hana.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5311798805152277842' border='0' /></a><br />Oleh : Noor Hana<br /><br /><div style='text-align: justify;'> Bahasa lisan selalu dituntun oleh pengujar atau pembicaranya. Sedangkan sebuah teks tertulis memiliki maknanya sendiri setelah dipublikasikan. Artinya, kalau kita terlibat dalam suatu pembicaraan lisan maka maksud pembicara yang belum jelas dapat dipertegas dengan mengajukan pertanyaan kepada pembicara tersebut. Sebaliknya, sebuah teks, dalam hal ini puisi, tidak lagi sepenuhnya tergantung pada penjelasan yang diberikan oleh penyair tetapi tergantung pada tafsir pembaca atas puisi tersebut.<br />Antologi Puisi “Kalalatu” karya Arsyad Indradi yang kental dengan nuansa tanah Banjar ini  mengajak saya untuk menjelajahinya baik dari situasi bahasa, tema, bahasa puisi mau pun bentuk puisi. Baca selanjutnya<a href='http://estikaler.blogspot.com/'> klik disini,-<br /></a></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-5432189993467875123?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 3/10/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/03/situs-baru-saya.html">Situs Baru Saya</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'>Harapan saya Anda dapat juga berkunjung ke situs saya yang baru dan mohon saran dan masukkannya. Klik <a href='http://arsyadindradi.net'>http://arsyadindradi.net </a> Terima kasih. A.Indradi ***<div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-8986904191440147931?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 3/7/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/03/aruh-blogger-09.html">Aruh Blogger 09</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/Sa5IeDYRQTI/AAAAAAAACDw/XVd47x8-vnA/s1600-h/baliho1-tile.jpg'><img style='margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 121px;' src='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/Sa5IeDYRQTI/AAAAAAAACDw/XVd47x8-vnA/s320/baliho1-tile.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5309260691856769330' border='0' /></a><br /><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/Sa5ITiH6s4I/AAAAAAAACDo/ToepIVJ7nxo/s1600-h/baliho3.jpg'><img style='margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 157px;' src='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/Sa5ITiH6s4I/AAAAAAAACDo/ToepIVJ7nxo/s320/baliho3.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5309260511131120514' border='0' /></a>Bulan Maret 2009 mendatang Blogger Kalsel Kayuh Baimbai bekerja sama dengan Speedy Telkom akan mengadakan “ Aruh Blogger  09 “ yakni Ajang Terbuka Bagi Blogger dan Masyarakat Kalimantan Selatan dengan beberapa kegiatan lomba  :<br />• Posting Contest<br />• Photo Contest<br />• Blogger Action Week<br />• Blogger Gathering<br /><br />Hadiahnya ? Wow Jutaan Rupiah ! Jangan ketinggalan ayo daftar !!!!!!!!!<br />Tempat mendaftar dan petunjuk lainnya klik situs <a href='http://www.aruhblogger.com/'>www.aruhblogger.com<br /></a><br />Salam blogger<br />Arsyad Indradi<div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-6910714119325791033?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 3/4/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/02/pemilu-janji-dan-nasib-kita-5-tahun-ke.html">" Pemilu, Janji dan Nasib Kita 5 Tahun ke Depan "</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><div style='text-align: justify;'>Membaca artikel di atas oleh<a href='http://sailakotabaru.blogspot.com'> <span style='font-weight: bold;'>http://sailakotabaru.blogspot.com </span></a>sungguh sangat menarik. Dan timbul pemikiran saya untak memberikan tanggapan.berupa tulisan kecil ini. ( Agar pengunjung dapat membaca artikal di atas klik saja pada situs di atas)<br />Sebenarnya kita punya parlemen seperti dalam UUD 1945 segenap perangkatnya. Namun inilah buah si malakama bagi rakyat Indonesia. Dan buah si malakama inilah yang menjadikan penderitaan rakyat yang tidak pernah berkesudahan. Memilih, berbuah kekecewaan karena yang dipilih tidak betul-betul melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya setelah terpilih. Tidak memilih, maka ia tidak menjadi warga negara yang baik, bahkan MUI mempatwakan haram. Dalam hal ini seyogyanyalah bagi caleg-caleg intropeksi pada dirinya sendiri dan menyadari sepenuhnya apakah ia layak dan betul - betul sanggup mengemban amanat penderitaan rakyat. Dan pihak KPU harus benar-benar selektif dengan kereteria dan persyaratan  yang ketat untuk meloloskan   seorang caleg.   Seorang caleg  bukan seseorang yang memiliki  banyak “ iming-iming “ dan “ uang pelicin “. Tetapi punya “ Visi dan Misi “ realistis sebagai seorang negarawan untuk bangsa dan Negara. Dipihak lain adalah rakyat sendiri. Rakyat hendaknya sudah tidak bodoh lagi untuk menentukan pilihannya. Rakyat sudah pintar membaca apakah layak atau tidak siapa – siapa figur yang terpampang baik di Poster, spanduk atau pun di Baliho dengan slogan - slogannya.<br />Seorang caleg yang bertitel dari perguruan tinggi atau caleg yang  berpakaian agama. tidak jadi jaminan yang mutlak, tetapi titel berkepribadian yang luhur, jujur, berjiwa semangat  membangun, penuh dedikasi, bertanggung jawab adalah pangkal utama untuk bangsa dan negara. Seorang  legislatif, eksekutif dan yudikatif adalah manusia yang sadar dan tahu apa kehendak rakyat, bangsa dan negara ini. Semoga Tuhan memberikan jalan yang terang bagi kita semua. Amin.*** Arsyad Indradi.<br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-5991621634265209335?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 2/6/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/02/sastra-sufi-sastra-psikoterapi.html">Sastra Sufi, Sastra Psikoterapi</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'>Oleh: Syarif Hidayat Santoso<br /><br /><div style='text-align: justify;'>Dunia sastra memang unik, dia menampung beraneka citarasa yang terbenam dalam pikiran manusia. Berbagai citarasa itu kemudian terhampar dalam ekspresi dialogis dalam relasinya dengan realitas di lapangan. Seorang sastrawan sebenarnya merupakan juru bicara zamannya, entah dia gelisah, kecewa, sedih ataupun justru terpesona dan menjadi supporter zaman tempat dia hidup.<br />           Beraneka ragam fungsi sastra. Sebagai pembenar zaman terkadang ia harus secara vulgar berpihak terhadap kepentingan ideologi dimana ia merasa terpayungi. Konsistensi sastra kontemporerpun menunjukkan betapa kayanya tujuan spesial dari hamparan sastra di area publik. Mulai dari sastra pesantren, sastra sufi, sastra etnis, maupun sastra yang terpaksa lahir karena kepentingan membela sebuah rezim tertentu.<br />           Tapi, adakah yang berpikir fungsi sastra bagi kesehatan kejiwaan manusia. Apakah inovasi kreatif terbaru  sastra selain korelasi sinergisnya dengan kepentingan publik selaras kesamaan logika sang sastrawan. Secara fitriah, sastrapun dapat digunakan untuk memperkaya bingkai kemanusiaan kita tentunya dengan sebuah syarat mutlak, sastra yang menyehatkan mental adalah sastra yang berketuhanan. Sastra yang lekat dengan kedaulatan humanistik yang dikaruniakan Tuhan kepada manusia sejak zaman azali. Sastra yang menurut Quran diajarkan oleh penyair yang beriman dan beramal saleh dan banyak dzikrullah (QS 26:227)<br />           Sudah saatnya, dunia sastra mengambil varian seperti ini. Korporasi kejiwaan manusia dalam Islam memang telah terbukti dari perjalanan sastra sufistik yang terlegalisasikan dalam tarekat sejak lama. Beragam syair religius dibacakan disela-sela ritual majelis dzikir. Pada Manaqib Syekh Abdul Qadir Jaelani yang biasanya dipraktekkan tarekat-tarekat yang berafiliasi kepada ordo Qadiriyah minimal terdapat tiga pembacaan doa yang berirama sastrawi dan berseni. Pertama pada  istighotsah pembuka, berupa syair Yaa Arhamar Rahimin yang dilagukan. Kedua, pada pembacaan lafal asmaul Husna yang diiramakan dengan sangat syahdu, serta pada fase terakhir pembacaan Nazam Manaqib, biasanya syair seruan Ibadallah Rijalallah.<br />Eksotisme ini bahkan menjadi lebih menarik kalau kita mencermati tarekat Maulawiyah dimana pembacaan syair tentang Tuhan justru merupakan puncak ritual diantara beraneka gaya berdzikir. Dimulai dengan azan, kemudian dzikir tarekat, dilanjutkan dengan The Whirling Darwisy (tarian berputar khas Darwis) kemudian diakhiri puisi-puisi yang dihadirkan mursyid yang terkadang berada dalam kondisi ekstase. Ketika itulah jamaah tarekat merasakan tajalli dan penyingkapan hijab dengan Tuhan. Menurut mereka, ketenangan jiwa yang luar biasa mereka rasakan saat itu.<br />Dalam era modern, sastra dan religiusitas lebih banyak dikotomis dan memilih areanya sendiri-sendiri. Kekuatan-kekuatan tarekat tak banyak lagi menelurkan irama sastrawi selain yang telah terpakemkan. Sementara biosfer sastra kontemporer malah terkadang mepertanyakan keabsahan Tuhan. Sastra modern sebagian membuat demarkasi antara Tuhan dan keindahan sastra. Invasi sastra barat yang mengejek eksistensi Tuhan, sedikit banyak mewarnai lunturnya estetika sastra religius. Meskipun  apologi mereka dapat dibenarkan bahwa dunia sastra jangan terjebak pada “kebajikan kata-kata”, tapi sejauhmana pesan universal yang diniatinya dapat dihijrahkan. Memang, pada tataran dunia sastra sekular, logika ini dapat diterima, tapi dalam perspektif sastra “surgawi” hal ini bisa dituding pemubaziran kata-kata semata-mata.<br />Kegersangan spiritualitaspun dapat diobati dengan penerjunan sastra religius dalam bingkai psikoterapi. Hal ini didasari pandangan bahwa nilai psikologi modern telah mempertanyakan keabsahan postulat liberal yang mereka anut. Sementara di sisi lain, telah bermunculan aliran psikoterapi yang menggunakan ajaran agama sebagai pondasi terapi mental. Klub seperti association of Mormon Counselor and Psychoteraist, Christian Association For Psychological Studies, American Chatolic Psycological Association telah lebih dulu berkembang di barat, meskipun tidak menggunakan sastra sebagai salah satu faktor penyembuhnya.<br />Kini, saatnya sastra sufisme yang berjalin dengan dzikrullah digunakan sebagai terapi mental  keringnya lahan kemanusiaan modern. Dalam tataran ini, sastra dalam bentuknya yang beragam baik puisi, syair, hikayah dan sebagainya dapat digunakan sebagai pengantar menuju dzikrullah. Nuansa sakralitas Tuhan ala sufisme seperti tajalli, muraqabah, mujahadah, mukasyafah, hijab dan sebagainya dapat diperjelas dengan ungkapan estetik bernuansa sastrawi. Tanpa interpretasi melalui dunia sastra, sulit bagi “manusia biasa” menyelami keindahanNya. Tidak ada yang dapat menggambarkan keindahan Tuhan kecuali kalimat sastra yang tidak menegasikannya. Penerjemehan aspek ketuhanan dalam sastra adalah ekspresi eksoteris dari tasawuf, sementara kedahsyatan dzikir adalah imbangan esoterismenya.<br />Kita perlu menghidupkan tradisi sastra tasawuf yang dapat menggambarkan Tuhan tidak dalam bentuk sakralitas parsial namun diutarakan dengan sangat indah maknawi. Ekologi tarekat yang dulu rajin menggaungkan sastra tentang Tuhan wajib dihadirkan kembali. Bukan tidak mungkin, ini dapat mengerem laju deras sastra atheis  yang eksistensinya justru mereduksi keberagamaan kita.<br />Kepribadian meaningless karena peranan sastra yang melulu bertipe machine model akibat referensi ideologis membabi buta bukan tidak mungkin dapat menyebabkan existensial frustation yang dapat mempercepat arus apatisme terhadap keberagamaan. Bukannya malah mencerahkan dalam cita-cita zeitgeist zaman, sastra tanpa cita-cita memuliakan fitrah ketuhanan malah bisa membuat ruwet dan kebosanan (boredom)  kejiwaan kita. Sastra tasawuf yang kaya dengan dialektika jiwa dengan Tuhan di masa kini, dapat diandalkan untuk menyelami urgensi degradasi humanisme yang kian membelit religiusitas publik. Namun, persebaran sufisme dalam dunia sastra harus berpondasikan kepada krusialitas tasamuh (toleransi )<br /><span style='font-weight: bold; font-style: italic;'><br />Penulis adalah Alumnus Hubungan Internasional FISIP UNEJ.</span><br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-3247556635467624253?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 2/6/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/02/pantun-banjar-aindradi.html">Pantun Banjar ( A.Indradi )</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'>Rumah Banjar batawing papan<br />Lawangnya bapalang watun<br />Assalamulaikum kami ucapkan<br />Handak bamula marangkai pantun<br /><br />Anak punai maurak alar<br />Bajalan bajingkit-jingkit<br />Umai-umai pangéntén Banjar<br />Basésérétan tangan bakait<br /><br />Maracik pandan wan pudak<br />Lalu dihambur kapatataian<br />Urang malihat badaraw surak<br />Pangénténnya kasisipuan<br /><br />Burung bilatuk duduk baréndéng<br />Baréndéng di kayu jati<br />Pangénténnya duduk basanding<br />Rupa bungas baik budi<br /><br />Makan mangga buah kesturi<br />Maméncok asam balahan<br />Baik-baik mambawa diri<br />Hidup baiman mati baiman<br /><br />Setanggi bunga kenanga<br />Harum baunya di tanah Banjar<br />Barupa bungas apalah artinya<br />Adat pusaka mun dilanggar<br /><br />Baunya harum kambang melati<br />Kambang bogam kambang untaian<br />Sembah sujud sapuluh jari<br />Doa restu ulun harapkan<br /><br />Ayu ja Ding lakasi luruh kalambu<br />Imbahitu bujurakan buncu-buncunya<br />Apik-apik  Dinglah mamacul baju<br />( ai napa garang Ka. Badidiam ja Dingai )<br />Kéna supan katahuan abah wan uma<br /><br />Daun si daun dadap<br />Gugurnya ka atas watun<br />Ada salah ampun maap<br />Sampai disini untaian pantun<br /><br /><span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>Pantun ini kubacakan pada acara Perkawinan adik Bupati Kab.Banjar</span><br /><span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>Di gedung Pangeran Suriansyah Banjarmasin, l Feb 2009.  </span><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-6357868535390412174?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 2/2/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/01/arsyad-indradi-mistik-tradisional.html">Arsyad Indradi : Mistik Tradisional Banjar Masih Kental Dalam Cerpen " Kuyang " Karya Harie Insani Putra</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SYROePib0kI/AAAAAAAACBo/TlGM4ahyRI0/s1600-h/Cerpen+Kuyang+copy.jpg'><img style='margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;' src='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SYROePib0kI/AAAAAAAACBo/TlGM4ahyRI0/s200/Cerpen+Kuyang+copy.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5297445343168549442' border='0' /></a><br /><br /><br /><br /><div style='text-align: justify;'>Cerpenis muda Harie Insani Putra berhasil mengangkat kejadian  nyata dalam masyarakat Banjar   yaitu “ Kuyang “. Kuyang adalah salah satu kejadian horror yang benar – benar terjadi dalam masyarakat Banjar sampai sekarang ini masih ada. Sebagian besar generasi masyarakat Banjar terutama daerah perkotaan,  banyak yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Kuyang itu. Kuyang, sejenis hantu jadi-jadian. Manusia yang dapat mengubah dirinya menjadi hantu dengan minyak yang bernama “ minyak kuyang “. Minyak tersebut dioleskan ke lehernya maka terpisahlah kepalanya dangan raga badannya. Kepalanya  itu bersama isi perutnya terbang mengangkasa pada malam hari dengan sinar kebiru-biruan yang berkelap-kelip. Kuyang mencari mangsanya manakala ia mendengar ada yang akan melahirkan. Sebab makanan kuyang itu adalah darah yang keluar dari sang ibu yang melahirkan. Bahkan sang ibu bisa celaka karena kehabisan darah dihisap kuyang. Harie dalam cerpennya begitu bagus meramu ceritanya antara mistik tradisional Banjar dan relegius  Sebenarnya kedua hal ini sangat bertentangan Namun Harie berhasil mempertemukannya dengan tidak saling bersinggungan. Cerpen Kuyang, menceritakan keluarga Irham dan Tanti.  Tanti isterinya kesakitan yang luar biasa mau melahirkan. Irham agak panik. Tanti menyuruh Irham untuk mencari dukun beranak dan ke puskesmas minta pertolongan medis. Sebelum berangkat  Irham berdoa minta pertolongan Allah atas keselamatan isterinya dan menyerahkan tongkat kayu “ palawan “ kepada isterinya. Tongkat Palawan adalah penangkal kuyang pemberian Acil Midah, bibinya. Padahal dia sangat berat atas pemberian itu karena dia lulusan pesantren. Agar bibinya senang hati, diterimanya juga pemberian bibinya itu. Irham bertemu Masitah dukun beranak. Di rumah, Tanti menjerit kesakitan atas pijatan-pijatan dukun beranak yang kasar terhadap dirinya, sehingga banyak mengeluarkan darah. Masitah dengan menyeringai diselingi tertawa-tawa menjilati darah yang keluar dari tubuhnya. Tanti melihat kelakuan Masitah ini takut setengah mati dan menjerit sekuatnya minta tolong.  Masitah ternyata Kuyang.  Tanti meronta dan melempari Masitah dengan bantal dan guling. Masitah sangat marah karena tidak dapat membujuk Tanti.. Kemudian dia mengambil sebuah botol kecil berisi minyak yang ada di balik bajunya lalu dioleskan kelehernya seketika itu juga berubahlah dia menjadi Kuyang, hantu yang mengerikan, rambutnya yang panjang posisi terbalik  hampir menutupi mukanya. Jeritan Tanti terdengar oleh tetangga. Dan berbondong – bondong berusaha menolongnya dengan mencoba mendobrak pintu yang terkunci. Padahal tadinya pintu itu tak berkunci tetapi terkunci dengan sendirinya. Ketika kuyang terbang mengitari Tanti dan akan menerkamnya, Tanti ingat tongkat kayu palawan lalu dipukulkan kepada kuyang itu. Kuyang melolong kesakitan dan menjerit – jerit. Timbul keberanian Tanti. Usus kuyang itu dibetotnya sehingga kuyang itu jatuh terjerembab. Bertepatan, Irham datang  bersama tetangganya masuk setelah pintu terbuka. Dan tetangganya itu memukuli kuyang itu hingga tak berdaya. Kemudian mencari tubuh Masitah, ternyata ada di dalam lemari pakaian. Dengan mengucapkan syukur kepada Allah atas pertolongannya, Irham langsung membawa Tanti dengan ambulace ke puskesmas<br />Cerpen Kuyang ini niscaya akan memenangkan pemenang terbaik dalam lomba menulis cerpen se Kalsel dalam acara Aruh Sastra V se Kalsel Desember 2008 di Kabupaten Balangan tetapi hanya menduduki Harapan II. Sebab menurut penjelasan salah satu dewan juri ada kesalahan yang dianggap patal yaitu di bagian ketiga suami Tanti tertulis nama lain.<br />Tapi kita patut mengacungkan jempol pada Harie. Bahwa Harie menulis cerpen ini langsung di laptop dengan waktu yang relative singkat, satu malam setengah hari persis batas waktu penutupan peserta, langsung diantar ke panitia lomba. Jadi, Harie hampir – hampir tidak ada kesempatan untuk mengedit secara sempurna, tambahan lagi dalam keadaan sudah mengantuk. Pada acara Aruh Sastra V tersebut peserta dari Kabupaten, banyak memilih Kuyang untuk diangkat dalam lomba Pertunjukan Sastra.***<br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-5931352632605423760?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 1/28/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/01/ultah-blogger-kalsel-kayuh-baimbai-ke-1.html">Ultah Blogger Kalsel Kayuh Baimbai ke-1</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SXiQkIf8PXI/AAAAAAAAB9I/48C0u-AxWV8/s1600-h/ultahkb1.jpg'><img style='margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 243px;' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SXiQkIf8PXI/AAAAAAAAB9I/48C0u-AxWV8/s320/ultahkb1.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5294140312405163378' border='0' /></a><br /><br />Membentuk suatu wadah yang dinamakann komunitas adalah dorongan untuk menyamakan visi dan misi, persatuan dan kesatuan untuk mencapai tujuan.<br /><div style='text-align: justify;'>Tujuan adalah kehendak yang dirumuskan dengan azas kebersamaan. Hal ini terjadi pada komunitas blogger Kalsel yang bernama Kayuh Baimbai. Komunitas yang relatif masih muda ini berdiri pada tanggal 20 Januari 2008 hingga 20 Januari 2009 telah berusia 1 tahun. Walau pun masih muda namun telah menunjukkan kemajuan yang pesat baik pertumbuhan anggotanya, kegiatan positifnya di dunia cyber khususnya internet, saling tukar informasi, berbagi ilmu pengetahuan di bidang teknologi internet maupun silaturahmi di maya dan di nyata. Kayuh Baimbai telah memperingati hari ulang tahunnya yang ke-1. Nampak keharuan dan kebahagiaan memancar dari wajah-wajah anggotanya dalam suatu acara yang cukup sederhana namun meriah. Pada acara itu hadir  pula orang-orang Telkom dan simpatisan Kayuh Baimbai, tak beranjak sampai acara usai.<br />Tak ada kata lain yang dapat kita ucapkan selain : Selamat Ulang Tahun yang ke-1. Semoga Tuntung Pandang Ruhui Rahayu. Salam kreatif buat Blogger Kalsel Kayuh Baimbai (A.Indradi)<br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-5543679847505578171?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 1/22/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/01/memanfaatkan-internet-di-dunia-sastra.html">MEMANFAATKAN INTERNET DI DUNIA SASTRA</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'>: Arsyad Indradi  ( Maungkai gagasan Sainul Hermawan ketika di Aruh Sastra Kalsel III        <br />                             di Kotabaru )<br /><br />Selama ini sastrawan telah memanfaatkan media cetak untuk menampilkan karya – karyanya seperti buku, koran atau pun majalah. Maka, di era  globalisasi yang melaju pesatnya perkembangan teknologi ini, apa salahnya kalau kita juga ikut serta memanfaatkan teknologi ini sebagai salah satu media alternatif  untuk  menampilkan karya – karya sastra.<a href='http://ansepadang.blogspot.com'><span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>Baca selanjutnya klik disini.</span></a><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-1349921613232807253?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 1/20/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/01/menghayati-peran-komunitas-sastra.html">Menghayati Peran Komunitas Sastra</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><div style='text-align: justify;'>Akhirnya pesta itu usai. Sebuah pesta sastra yang melibatkan sekitar 500 orang peserta. Mereka adalah sastrawan (penyair, esais, cerpenis, dan kritikus) bersama para penggemar sastra dan guru bahasa Indonesia. “Meningkatkan Peran Komunitas Sastra Sebagai Basis Perkembangan Sastra Indonesia”, demikian tema yang digelar. Sepanjang tiga hari kegiatan berlangsung demikian padat di gedung DPD Kudus. Sungguh sayang bila dilewatkan begitu saja.<span style='font-weight: bold; font-style: italic;'> <a href='http://ansepadang.blogspot.com'>Baca selanjutnya klik disini.</a></span></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-5734924177817774165?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 1/20/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/01/kemampuan-anak-bergelombang.html">Kemampuan Anak Bergelombang</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><div style='text-align: justify;'>Oleh : Aliansyah Jumbawuya ( Wartawan Serambi Ummah )<br /><br />Penyair Igbal pernah mengatakan, betapa banyak anak – anak yang pintar di kelas ternyata berjatuhan dalam ujian kehidupan. Kenyataan ini seyogyanya patut menjadi renungan bagi orang tua.<br /><br />Tidak jarang terjadi karena orang tua berambisi anaknya dapat rangking kemudian diikut sertakan les. Kadang mereka pulang ke rumah sampai jam 5 sore. Padahal, sebelumnya di sekolah mereka sudah capek. Tak ada lagi waktu untuk istirahat.<br />“ Anak kalau terlalu dipres, akhirnya dia bisa jenuh. Bukan lagi menerima pelajaran, malah kebingungan sendiri,” komentar Arsyad Indradi.“  Bahkan, lanjutnya, ada anak yang setiba di rumah, sepatu belum lagi dilepas, buku dilempar, langsung merebahkan tubuh di ranjang.Tak lama kemudian ketiduran dengan masih mengenakan baju seragam, akibat kelelahan.<br />“ Sebenarnya ikut les itu bagus-bagus saja, tapi jadwalnya diatur jangan sampai terlalu padat. Apalagi maksud les itu sekadar pengayaan, sebab guru yang ideal itu memberikan pelajaran sesuai target kurikulum,” ujar Pengawas Seni Budaya Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar ini. Karena itu, Arsyad Indradi menyarankan sebaiknya anak diikut sertakan les pada bidang  tertentu saja yang kurang dikuasainya. Yang penting itu, sambungnya, menumbuhkan minat anak untuk belajar. Bila belajar sudah menjadi kebutuhan anak, dia akan berinisiatif sendiri untuk memperkaya wawasannya. Misalnya, mencari bahan-bahan pelajaran di internet. Bagus lagi, anak setiap hari belajar dan meresume.<br />Sebagai orang yang bergelut puluhan tahun di dunia pendidikan, Arsyad sering memperhatikan anak-anak yang jenius kebanyakan saat istirahat selalu di perpustakaan. Mereka membaca buku sambil mendengarkan musik.<br />“ Ada paradigma lama, apabila hendak ujian baru bahimat(giat) belajar, padahal cara seperti itu sangat merugikan. Akibat terlalu tinggi malam belajar, akhirnya mengantuk,” kritiknya. Anak yang pintar, kata Arsyad, dua hari menjelang ujian justru istirahat, tidak belajar lagi. Ia mengumpulkan energi supaya pas ujian fit, karena sebelumnya tiap hari sudah belajar.<br />Setiap orang tua wajar mengharapkan anaknya dapat rangking di kelas. Tapi, jangan lupa melihat kondisi anak seperti apa. “ Kalau takaran anak terbatas, jangan dipaksakan. Kasihan dia. Yang penting anak naik kelas atau lulus ujian,” tegas mantan Kepsek SMKN 1 Gambut ini.<br />Apalagi prestasi dan kemampuan anak itu bergelombang, kadang bisa jatuh, dan di lain waktu bangkit lagi. “ Intinya, kalau fisik anak sudah lemah jangan dipaksa, itu menyiksa namanya,” wanti-wanti Arsyad Indradi. Sebaliknya, kalau anak memang berpotensi dan punya minat besar untuk rangking adalah kewajiban orang tua untuk memotivasi, imbuh penyair kondang Kalsel ini. ****<br /><br />Dimuat di Tabloid Serambi Ummah Jumat, 16 Januari 2009.<br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-5755604277058917913?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 1/20/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/01/aruh-sastra-v-kalsel-di-balangan.html">Aruh Sastra V Kalsel di Balangan</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><span style='font-weight: bold;font-size:130%;' >Karya Sastra Berseleweran di Dunia Maya</span><br /><br /><div style='text-align: justify;'>Aruh Sastra V  Kalsel di Balangan tgl 12-14 Des 2008 dibuka Wabup Balangan Ansharuddin yg dilanjutkan dengan peluncuran buku biografi sendiri. Menariknya, Ansharuddin juga sempat membacakan sebuah puisi berjudul Balangan karya Amir Husaini Zam Zam, penyair asal Amuntai. “ Bila pada acara-acara disuruh menyanyi, saya tidak bisa. Tapi kali ini saya diminta membaca puisi, saya bisa sedikit-sedikit,”ujarnya sambil tersenyum. Acara pembukaan juga diisi dengan tarian kreasi daerah, pembacaan puisi dan vocal group SMK Balangan. Pada malam harinya diadakan pergelaran sastra yg diangkat dari cerpen karya pemenang lomba. Yakni cerpen Kuyang  karya Harie INsani Putra, Pelangi di Ujung Senja karya Ratih Ayuningrum dan Menanti Masa Depan karya Bayu yoga saputra. Pada dialog sastra, pembicara yg tampil, Alman Syahrani (Kandangan) mengangkat relegiusitas dalam sastra, Tajuddin Bacco (Tabalong) mengangkat seputar sastra lokalitas, Drs.Maskuni (Batola) cendrung menggali sejarah dan perkembangan sastra di Batola, dan Arsyad Indradi (Banjarbaru) tentang sastra cyber. “ Sekarang ini, karya sastra tidak hanya tercatat di buku-buku atau Koran dan majalah, tapi juga berseleweran di dunia maya. Banyak para pemilik blog sekarang ini yang menulis puisi, cerpen dan bahkan novel, dengan kualitas yg juga tidak kalah dengan karya yg terbit di buku dan Koran,” ujar Arsyad Indradi, yg juga dikenal sebagai “penyair gila” lantaran kenekatannya membukukan karya 142 penyair nusantara 2007 dalam sebuah buku tebal. Pada saat bersamaan, siangnya digelar Lomba Bakisah. Pada Aruh Sastra ini juga menampilkan pembicara dari Jakarta Maman S Mahayana yg dikenal sebagai salah satu kritikus dan penulisan esai  sastra nasional. Acara ditutup dengan diskusi dan siding pleno dan ziarah ke makam seniman Balangan. (dif)****<br /><br />Dimuat di SKH Radar Banjarmasin, Minggu 14 Des 2008.<br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-6101703935604324831?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 1/19/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2009/01/arsyad-indradi-menyelesaikan-sepuluh.html">Arsyad Indradi Menyelesaikan Sepuluh Buku Dalam Satu Tahun Dua Bulan</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SW4kLLagZAI/AAAAAAAAB74/6Yz1BFVErRU/s1600-h/Bikin+buku+3.jpg'><img style='margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;' src='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SW4kLLagZAI/AAAAAAAAB74/6Yz1BFVErRU/s200/Bikin+buku+3.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5291206386668037122' border='0' /></a><br />Oleh : Harie Insani Putra<br />                                                                                                 <br /><div style='text-align: justify;'>      Saat RUMAH CERITA menemui Arsyad Indradi dirumahnya jl Pramuka no.16 Banjarbaru ternyata beliau sedang sibuk melipat kertas. Melihat kami datang, Arsyad Indradi langsung menghentikan pekerjaannya.<br />Setelah kami masuk, terbentanglah pemandangan buku-buku yang telah tersusun, alat pemotong kertas, bungkusan buku siap kirim, dan lembar-lembar kertas yang belum selesai dilipat. Di rumah sekaligus tempatnya memproduksi buku, Arsyad Indradi seperti sedang menyiapkan masa tua yang terencana. Kepada kami ia bilang jika tugasnya sebagai pegawai negeri telah selesai, kepada buk<a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SW4sbcCn1lI/AAAAAAAAB8I/xfGmuora4aA/s1600-h/Bikin+buku.jpg'><img style='margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;' src='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SW4sbcCn1lI/AAAAAAAAB8I/xfGmuora4aA/s200/Bikin+buku.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5291215462102193746' border='0' /></a>ulah ia akan mengabdi.<br />Masih banyak karya-karyanya yang belum terdokumentasi, itu disebabkan pada tahun 1970, Arsyad Indradi lebih konsentrasi kepada seni tari.<br />“Karena dulu sibuk menari, banyak karya yang tidak sempat diketik dan sekaranglah kesempatan untuk mengumpulkannya kembali dan dijadikan satu ke dalam buku,” tutur Arsyad Indradi yang pada tahun 2004 pernah diundang oleh kerajaan Malaka dalam acara pesta tari gendang nusantara 7 Malaka, Malaysia.<br />Setelah dirasa cukup berbasa-basi, RUMAHCERITA langsung menanyakan tentang proses pengerjaan buku antologi puisi nu-santara. Sambil mengusap rambut, Arsyad Indradi menerangkan kenapa ia butuh waktu satu tahun dua bulan untuk menyelesa<a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SW4krMBBqNI/AAAAAAAAB8A/w_KjUeEW7Z0/s1600-h/Bikin+Buku+2.jpg'><img style='margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 128px;' src='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SW4krMBBqNI/AAAAAAAAB8A/w_KjUeEW7Z0/s200/Bikin+Buku+2.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5291206936585414866' border='0' /></a>ikan antologi nusantara.<br />“Saya butuh waktu satu tahun dua bulan untuk menyelesaikan buku antologi puisi nusantara karena juga mengerjakan buku yang lain,” ungkapnya.           “Sebenarnya saat ini saya hanya tinggal mencetak ulang saja karena sepuluh buku tersebut sudah habis,” terangnya kemudian. Arsyad Indradi juga mengatakan bahwa kawan-kawan penyair luar daerah menyebutnya sebagai penyair ‘gila’ karena memproses buku sebanyak itu dalam waktu singkat.<br />Sepuluh buku itu tentu bukan hanya karya pribadinya saja tapi beberapa karya komunitas sastra di kota Bandung.<br />“Saya salut dengan keberadaan mereka sebagai komunitas sastra. Sewaktu berada di sana, saya melihat langsung apa yang mereka kerjakan. Semangat menulis mereka tinggi dan<a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SW4yAEIj8AI/AAAAAAAAB8Q/n87jkHr78hM/s1600-h/Bikin+buku+4.jpg'><img style='margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 144px;' src='http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SW4yAEIj8AI/AAAAAAAAB8Q/n87jkHr78hM/s200/Bikin+buku+4.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5291221588897951746' border='0' /></a> hati saya terpanggil untuk menerbitkan karya puisi mereka yang selama ini belum pernah dibukukan,” ceritanya mengenang setahun yang lalu ketika berkunjung ke kota Bandung.<br />Sebenarnya ‘gila’ yang dimaksud tidak saja mengarah karena telah menerbitkan sepuluh buku, tetapi juga karena semua penerbitan buku yang sudah ada dibiayai dari isi dompetnya sendiri, termasuk antologi puisi nusantara yang dalam satu bukunya berjumlah 728 halaman.<br />Mengenai ini Arsyad tenang-tenang saja, ia tidak ingin meminta bantuan, kalau tidak mampu ia akan memilih untuk diam tapi jika ada yang ingin membantu, barang tentu tanpa harus ia memintanya dulu.<br />“Alhamdulillah selama ini berjalan lancar. Meski demikian kendala pasti ada tapi bisa saya selesaikan,” jawabnya tulus.<br />Selama mengerjakan semua buku, tak sekali dua jari tangannya tersayat pisau cutter. Utamanya pada saat mata mulai terasa berat karena kurang tidur. Arsyad akan merasa puas jika buku yang diterbitkannya murni hasil kerja tangannya sendiri. Maka tahap demi tahap, mulai dari melayout, menyusun halaman, mencetak, melipat kertas, sampai menjilid dilakukannya sendiri. Arsyad percaya bahwa tidak ada hasil yang cemerlang tanpa diawali dengan kerja keras.<br />Seandainya ingin dibayangkan, sebagai pegawai negeri, sejak pagi Arsyad harus bekerja seharian. Kembali ke rumah, ia segera membuka layar komputer untuk melanjutkan pekerjaan bukunya  hingga malam. Terus begitu hingga proses penjilidan. Tentu ini sangat melelahkan.<br />Tapi Arsyad selalu memotivasi dirinya sendiri bahwa pekerjaan apa pun akan selesai apabila segera dimulai. Apalagi banyak yang menyangsikan ketika Arsyad Indradi berniat menerbitkan antologi puisi nusantara, kesangsian itu tidak membuatnya patah semangat, sebaliknya menjadi motivasi untuk membuktikan bahwa dirinya mampu. Nyatanya sekarang buku antologi nusantara telah terbit.<br />Setelah cukup panjang lebar, akhirnya RUMAH CERITA undur diri agar beliau bisa melanjutkan pekerjaannya kembali.<br />Selamat bekerja penyair Arsyad Indradi. Lain waktu kami datang kembali.***<br /><br /><br />                                  Harie Insani Putra<br />             redaktur Mini Magazine Rumah Cerita, cerpenis.<br />                            ( Rumah Cerita #01 Mei 2007 )<br /><br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-1897165329783719161?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 1/14/2009</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2008/12/tiga-kutub-senja-yang-tak-berkutub.html">Tiga Kutub Senja’ Yang Tak Berkutub</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><div style='text-align: justify;'>Energik! Itulah ungkapan yang tepat saat ini untuk komunitas sastrawan Banjarbaru, baik yang terhimpun dalam 'Kilang Sastra Batu Karaha' maupun yang aktif secara individual. Bukan tidak mungkin, sentral tulis-menulis puisi sekarang berpusat di Banjarbaru, setidaknya ini dilihat dari keaktifan penyair-penyairnya mereaktualisasikan genre puisi dalam beberapa antologi yang dalam lima tahun terakhir cukup banyak ditampilkan. Salah satu di antara antalogi tersebut adalah, <span style='font-weight: bold;'>'Tiga Kutub Senja’</span> yang memuat puisi-puisi tiga penyair senior; <span style='font-weight: bold;'>Eza Thaberi Husano, Hamami Adaby,</span> dan <span style='font-weight: bold;'>Arsyad Indradi</span>. Tiga sosok ini boleh diacungi jempol, sebab cukup getol menggeluti dunia puisi.<br />Semula kita memang diantar untuk menyelam ke dalam lanskap 'kutub senja' dari tiga penyair ini. Tapi rupanya tidak demikian. <span style='font-style: italic;'>Kita belum mendapatkan lanskap senja itu kecuali beberapa untaian puisi yang ditulis oleh <span style='font-weight: bold;'>Arsyad Indradi</span>. Yang kita temui justru aneka refleksi penyairnya yang menganggap diri usia menjelang senja.</span><br />Aneka obsesi menyeruak dalam antalogi ini, namun sayang antologi terkesan tidak membuhul dalam tematik senja sebagaimana diutarakan dalam pengantar penerbit. Masih terdapat pula karya-karya lama yang dimuat dalam kumpulan ini. Meski begitu, kita agak sedikit terobati oleh pemakluman imaji penyair yang melanglang buana dari pengusungan tema-tema yang variatif.<br /><span style='font-weight: bold;'>Eza Thaberi Husano </span>mungkin lebih kuat dalam perlambangan dan simbol-simbol kehidupan yang merintih. Puisi-puisinya punya maksud serius tentang eskpresi kegelisahan atas kondisi alam, zaman, dan keterpurukan manusia. Lihatlah misalnya dalam 'Urbanisasi Anak-anak Puisiku', ungkapan-ungkapan bumi sakit terkapar, sakit tak ada awal tak ada akhir, seperti khotbah takdir kepada penyair, anak-anak puisiku: hidup itu melayuh duri.<br />Berbeda dengan itu, puisi-puisi <span style='font-weight: bold;'>Hamami Adaby</span> agak reportois pada alam tanpa opini. Ia seorang pengagum alam yang bicara dari langit ke langit dan dari lanskap ke lanskap. 'Pelangi Senja' Cakrawala pelangi selalu kukagumi, karena selingkuh warna, air, matahari dan bumi, meneteskan gula paduan zatnya.<br />Masih kita dapatkan lagi imaji-imajinya pada laut 'Di Atas Kapal' Angin berlomba mengejar Samudera, berlomba menggetar sukma, begitulah seterusnya adinda. Boleh jadi sisa-sisa romantik masih berkesan di jiwa penyair ini sebagaimana kita dapatkan dalam sajak 'Ballada di rumah sakit' aku pamit, kubisiki,kita selalu bersama sayang.<br /><span style='font-weight: bold;'>Arsyad Indrad</span>i, penyair yang juga penari ini memang kelihatan lebih mempertimbangkan kematangan dalam menangkap kelebat imajinya. <span style='font-weight: bold;'>Arsyad Indradi </span>kembali menuranikan obsesinya dalam efek relegiusitas di tempat yang paling tinggi, di puncak nurani.<br />Imajinya menggelandang ke dalam relung hati, menjelajah tubuh dan mengisi nikmatnya dahaga, masuk ke dalam lubuk jantungnya. Asosiasi makna yang terdapat dalam style imagis <span style='font-weight: bold;'>Arsyad Indradi </span>terasa lebih bebas menggiring dan bergerak menekan konteks.<br />Bila kita dapat lebih khusyu dengan idiom-idiom putik kita seakan diajak penyair menelisik mengikuti perjalanan batinnya yang sendu. Tak ada kekakuan idiom (ufoni), bahasanya bergerak manja untuk kita ikuti ke sana kemari.<br />Semua puisi yang beringuh romantis ini ditulis di tahun 2000. Tentu ini prestasi tersendiri. Namun, amat sayang pula kita mesti mencari tahu sistem yang <span style='font-weight: bold;'>lecentia poetica Arsyad Indradi </span>dalam penulisan tanda hubung pengulang yang ditanggalkan begitu saja seperti, mazmurmazmur, akarakaran, gordengorden, gurungurunmu, riakdemiriak, masasilamku, burungburung, awanawan, rindudendam, bayangbayang, bintangbintangMu, karangkarang, langitlangitmu, hentihenti, halamandemihalaman, acuhtakacuh, dan lain-lain.<br />Hampir setiap judul puisi berisi sistem penulisan itu, padahal itu sebuah sistem yang tidak lazim. Tentu ketaklaziman ini sebuah refleksi licentia poetica yang hanya diketahui penyairnya.<br />Pertanyaan kita, mestikah konstruksi ini diciptakan seperti itu tanpa historisitas meaning. Tentu jawaban yang diharapkan bukan sekadar berlindung dalam legitimasi kebebasan penyair, tapi lebih dimungkinkan ada efek semiotik yang ingin disuntikan dari konstruksi itu. Bertebarannya konstruksi ini agak menggangu kenikmatan.<br />Meski demikian, kita perlu salut untuk ketiga penyair <span style='font-weight: bold;'>'Tiga Kutub Senja'</span> atas kerja keras mereka membangun komunitas. Biarlah, komunitas ini lahir, hidup, besar dan mati sendiri di tempat ini, meski orang-orang sana memang tidak peduli untuk kelahiran kita. *****<span style='font-weight: bold;'>Jarkasi,</span> pengamat seni dan budaya, dosen FKIP Bhs Indonesia dan Sastra Unlam Banjarmasin dan dimuat di  http://www2.kompas.com/kesehatan/news/0208/26/000853.htm<br />________________________________________<br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-1879789948157287391?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 12/31/2008</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2008/12/arsyad-indradi_27.html">Arsyad Indradi</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SVY1dvG4zxI/AAAAAAAAB5g/hXTxalDAqfY/s1600-h/Sketsa+A.Ind+copy.jpg'><img style='margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 140px; height: 200px;' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SVY1dvG4zxI/AAAAAAAAB5g/hXTxalDAqfY/s200/Sketsa+A.Ind+copy.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5284469997743689490' border='0' /></a><br /><span style='font-weight: bold;font-size:130%;' >31 Desember ke-59</span><br /><br />Di larat bulan desember<br />Aku masih setia merangkai tubuh<br />Pohon kehidupan dari lembarlembar usia<br />Alangkah jingganya senjakala<br /><br />Kusangga  jiwa sunyi yang luruh<br />Di reranting<br />Mendebarkan riapkerliplampulampu<br />Yang kukalungkan sekujur tubuh<br /><br />Malam pasti akan tiba<br />Apakah aku akan menangis<br />Seperti pertamakali lahir<br />Dari rahim kehidupan<br /><br />Setiap lampu kecil kutabur di tubuh<br />Tak letih jemari merangkai zikir<br />Dalam  cahya kasih namamu<br /><br />Banjarbaru, 2008<div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-1402385435014269582?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 12/27/2008</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2008/12/kota-dalam-puisi-penyair-banjarbaru.html">Kota dalam Puisi Penyair Banjarbaru</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'>Oleh Sainul Hermawan<br /><br /><div style='text-align: justify;'>Dewan Kesenian Daerah Banjarbaru bekerjasama dengan Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru, pada 1997 menerbitkan antologi puisi tujuh penyair Banjarbaru, berjudul Gerbang Pemukiman. Antologi tersebut menghimpun<span style='font-weight: bold;'> 5 puisi karya Aria Patrajaya, 5 puisi Ariffin Noor Hasby, 6 puisi Arsyad Indradi, 6 puisi Eza Thabry Husano, 6 sajak Fakhruddin, 3 puisi M. Rifani Djamhari, dan 5 puisi M. Syarkawi Mar’ie. </span>Semua puisi itu merenungkan beragam tema, tetapi tulisan ini hanya ingin membahas bagaimana beberapa puisi dari antologi tersebut merenungkan kota.<br /><span style='font-weight: bold;'>Sajak-sajak yang membicarakan kota adalah sajak Syair Musim, dan Guman Banjarbaru karya A. Patrajaya (hlm. 6, 7); Syair Manusia karya Ariffin Noor Hasby (hlm. 12); Syair Kota, dan Taman di Tengah Kota karya Arsyad Indradi (hlm. 13, 16);  Sebelum Kota-kota Padam karya Eza Thabry Husano (hlm. 22); Catatan Kota ke-22 karya Fakhruddin (hlm. 28); Ninabobo karya M. Rifani Djamhari (hlm. 34), dan Lukisan Sebuah Kota karya M. Syarkawi Mar’ie (hlm. 41).</span><br />Karya-karya yang belum terlalu lama itu tetap penting untuk kita baca karena secara estetis karya-karya ini telah berupaya mendokumentasikan dinamika mentalitas masyarakatnya. Setiap pembacaan yang dilakukan oleh siapa pun adalah sumber kehidupan bagi karya sastra karena tanpa pembaca karya sastra tidak berarti apa-apa. Sastra yang menyejarah, yang hidup, adalah karya sastra yang dibaca.<br />Kota dalam sajak S<span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>yair Musim </span>adalah tempat yang tidak menyenangkan, tidak sehat: <span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>Musim yang jatuh di balik kotaku/menimpa rumah-rumah,....[..]/ Debu menyapa dengan ganas/Luka. </span>Aku lirik dalam sajak ini menyadari bahwa kegerahan kota adalah hasil negatif dari perwujudan nafsu destruktif manusia-manusianya. Kegerahan kota akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya: [<span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>...] Gerbang tahun menghamili waktu. Dan panas musim ini adalah anak nakal yang lahir dari waktu.</span><br />Dalam sajak berikutnya, <span style='font-weight: bold;'>Guman Banjarbaru,</span> kita dapat mengenal siapa “aku” lirik yang memandang kotanya, Banjarbaru. Aku lirik adalah sesorang dari kelas sosial menengah atas yang kritis pada sekitarnya. Ini terlihat dari selera atau pengetahuannya tentang musik jazz, dan cara ia memposisikan diri dari manusia lain dalam sajak itu: Duduk di pelataran sore mendengarkan ‘Havana’-nya Kenny G., Banjarbaru, teringat aku akan pembersih jalanan. Dengan mempersonifikasikan Banjarbaru, dia menyapa kota itu dan secara tak langsung mengeritik dan mengingatkan betapa buruk rupa kotanya, dan betapa penting arti mereka bagi kebersihan wajahnya: Debu yang beterbangan, daun angsana yang mengisi selokan berpacu dengan denyut nadi mereka/ [<span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>...] mereka sudahkan tubuhmu yang kotor dari tangan runcing dan kusamnya wajah kota. Sunyi nafas mereka memberi harum pada bunga.// Mereka sihir dengan serpihan kaki. Guman: !!?!!...</span>. Ada semacam pembelaan dan penghargaan terhadap jasa pembersih kota yang kurang dihargai oleh masyarakat dan aparat yang seharusnya menghargai perannya. Pembersih jalanan bisa siapa saja yang berupaya membuat Banjarbaru tidak kotor secara fisik dan psikis.<br />Dalam sajak <span style='font-weight: bold;'>Syair Manusia,</span> kota diibaratkan seorang yang kehilangan cahaya karena hidup di dalamnya penuh sandiwara, penuh kebohongan: <span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>Kota-kota bergerak mencari lentera manusia/ lewat pintu yang kau ucapkan dalam bahasa musim/ tapi orang-orang masih menjadi jam/ bersandiwara dengan ruang//[...] </span>Masyarakat kota berkata-kata penuh spontanitas, serba tiba-tiba, tak perlu dipikir dalam-dalam. Manusia kota mudah kehilangan arah: <span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>[...] Kota-kota melewati beribu dalil percakapan/ tapi adakah kita sempat mengatur ruang pikiran/ dalam gerak cepat ataupun lambat/ tanpa kehilangan kodrat tanpa kehilangan kiblat?</span><br />Ungkapan estetik sajak ini mengingatkan bahwa mereka telah tercabik-cabik sebagai manusia karena kata dan perbuatan mereka tak pernah menyatu, tak pernah utuh, hanya meruang dan mewaktu. Kenyataan inilah yang seharusnya jadi pintu masuk untuk menemukan penyelesaian bagi persoalan-persoalan kota yang penting.<br />Sajak <span style='font-weight: bold;'>Syair Kota karya Arsyad Indradi</span> mempertegas hubungan antara kota dan segala sesuatu yang mencemaskan, mematikan, menyedihkan, dan makna yang memudar: <span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>Ada kecemasan tak sempat/ Diungkapkan ketika gugus/ Daun berguguran/ Selaksa duka/ Ilalang mencari makna [...]// Gedung dan rumah batu/ Dalam duabelas sulang asap/ Dunia purba [...] </span>Kota tak hirau lagi pada lingkungan, dan kedamaian hidup menjauhinya. Ketentraman hidup jadi simbolisasi semata: <span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>[...] Lihat tanda tanda kehidupan/ Ketika kaubuka/ menangkap percakapan bunga/ burung-burung kau lepaskan/ dari tangan nestapa. </span><br />Kepedulian, atau lebih tepatnya kerinduan, kota pada lingkungan alamiah yang hidup, manis, indah, dan menyegarkan diwujudkan dalam miniatur, yang serba terbatas dan hanya mampu menampung impian, bukan kenyataan. Hal ini secara tersirat dapat dibaca dalam sajak <span style='font-weight: bold;'>Taman di Tengah Kota karya Arsyad Indradi </span>yang lain: <span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>Ada  taman di tengah kota/ Sejuta impian siapa/ yang tumbuh di sana [...]// ... Bocah bocah melukis/ Kota idamannya/ Di dinding menara/ Ada bocah melukis menara/ Yang kehilangan madu lebah/ dari bungabunga/ yang susah payah ditanamnya// [...]</span><br />Dalam imajinasi sajak <span style='font-weight: bold;'>Sebelum Kota-kota Padam karya Eza Thabry Husano</span>, kota adalah semacam pemerkosa sejarah kemanusiaan yang merampas kenangan masa silam. Kota tak memerlukan sejarah. Karenanya tokoh aku dalam sajaknya memilih cara berkesenian sebagai solusi kultural agar tak digilas oleh godaan pesona kota yang bertubi-tubi: [...] s<span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>eperti kota-kota lain, aku juga mementaskan teater, supaya bisa pulang ke masa kecilku/ [...] </span>kota-kota yang menghamilimu lenyap dari sejarah kemanusiaan dan kerinduan.<br />Namun, si aku dalam sajak ini juga ragu pada keampuhan solusi itu sebab ia pun menghidupkan dan dihidupkan oleh peradaban kota: <span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>[...] sesuap nasi mengalir di matamu, sebagian perahu masa kecilku juga yang lapar sungai kerinduan. namun dalam perutku berdiri kota-kota pendakian yang kesekian</span>. Ia menjadi ambigu.<br />Demikian pula tokoh yang menyaksikan kota, dalam <span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>sajak Fakhruddin, Catatan Kota ke-22. </span>Penyaksi itu menyadari bahwa “keindahan” kota hanyalah dongeng atau fatamorgana. Dalam kenyataannya kota cuma realitas yang angkuh, sumpek, ruwet, dan meresahkan: <span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>memandang kota...burung-burung gelisah menyeberangi gairah pada persimpangan jalan berliku [...] anak-anak berlari keluar masuk hutan merajut kenangan dalam keangkuhan tiang-tiang [...] dan deru mobil [...].</span><br />Dengan cara yang berbeda M. S. Mar’ie, dalam Lukisan Sebuah Kota, tokoh aku mendambakan kota ideal seperti dalam sajaknya. Makna harapan di sini adalah sesuatu yang tidak hadir di dalam teks bertolak belakang dengan yang hadir. Akhirnya, <span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>M. Rifani Djamhari dalam sajak </span><span style='font-weight: bold;'>Ninabobo</span> menawarkan solusi lain, yaitu menerima kota apa adanya karena impian untuk keluar dari kota pada akhirnya cuma jadi mimpi, jadi puisi. Cukuplah menyadari kerusakan kota dan berusaha untuk tidak memperparah kerusakan itu dengan cara tidur sebagai simbolisasi perlawanan terhadap gairah kota yang merangsang segala energi manusia yang hidup di dalamnya: <span style='font-weight: bold; font-style: italic;'>[...] tidurlah kesedihan// milik kita hanya kaki yang letih/ aspal dan debu jalan/ pojok kota dengan taman yang rimbun/ [...]// Tidurlah, sungai sisigan [...] sungai nini-datu yang dituba// Tidurlah mata yang perih/ kampung halaman yang berkabut/ hutan leluhur yang diperkosa// tidurlah, tidurlah/ sebab hanya tidur pelipur kita.</span><br />Kota dalam sajak-sajak di atas adalah kota ini, juga kota-kota lain, dan mungkin juga kota yang pernah ada dan akan ada. Kota memekanisasi segala hal di dalamnya. Rutinitas manusia di dalamnya mengalienasi manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesamanya, dengan lingkungannya karena segala interaksi reflektif dengan dirinya sendiri, dengan sesama dan lingkungannya bersifat kontraktual, tidak emosional, apalagi spiritual. Bahkan emosi dan spirit di kota dialienasikan dengan beragam cara untuk mencapai nilai-nilai kontraktual baru. Mediasi untuk segala norma itu adalah uang.<br />Banjarmasin, 8 Maret 2005<br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-2783481391411475066?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 12/24/2008</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2008/12/astagfirollah.html">Astagfirollah !</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><div style='text-align: justify;'><br /></div><div style='text-align: justify;'>Dimasa lampau sebelum tahun 70-an dimana perayaan 17 Agustus, Hari Kemerdekaan RI dirayakan sedemikian meriah, penuh semangat kebangsaan dan rasa syukur.  Pada waktu itu partai – partai politik dengan seluruh massanya penuh semangat patriotisme membanjiri lapangan upacara hidmat mengikuti upacara. Masing – masing partai mempertunjukkan drum bandnya memeriahkan suasana seusai upacara. Bendera- bendera partai menjadi dekorasi yang indah disetiap pelosok kampung dan kota.  Tetapi setelah  tahun 70-an yakni di zaman Orde Baru keikut sertaan massa partai – partai politik  mulai menipis apa lagi pada masa itu jumlah partai politik masing-masing berfusi menjadi tiga partai yang didominasi oleh salah satu partai paling kuat. Setelah Orde Baru tumbang, di era Reformasi bertumbuhanlahlah partai – partai politik seperti jamur dimusim hujan.  Namun banyaknya partai ini ternyata massanya   tak ada yang menghadiri upacara kecuali petinggi partainya pun berada di tribon atau di dalam tenda.<br />Sungguh ini suatu penomena di mana jaman sudah berganti rupa. Di zaman Reformasi ini jiwa patriotisme juga sudah berubah menjadi ambisi pemburu kedudukan dan jabatan. Di masa kampanye seluruh partai mengerahkan massa dan pendukungnya untuk memenangkan partainya, memenangkan calegnya. Spanduk, pamplet, poster, baliho,  yang  berisikan gambar – gambar caleg seruan, ajakan, rayuan,  slogan, janji – janji,  dipancang dimana-mana. Bagi – bagi baju berlabel partai. Bahkan diam – diam ada yang bagi - bagi uang.  Apa pun caranya masyaallah semua ditempuh dengan tidak lagi memperhatikan etika dan estetika. Yang penting adalah mendapat kemenangan. Ada partai yang menyatakan dirinya bersih dan ada yang membawa-bawa agama, padahal partainya itu tidak sama sekali mencerminkan agama.<br />Ya Allah yang lebih miris lagi, ada partai yang menyatarakan partainya dengan “ Ka’bah “.  Ka’bah adalah tempat yang maha suci bagi umat Islam se dunia.<br />Astagfirollah ! **** Arsyad Indradi.<br /></div><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-4425547144325411501?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 12/24/2008</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://arsyadindradi.blogspot.com/2008/12/ensiklopidia-yang-aneh.html">Ensiklopidia yang aneh !</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><div align='justify'>Membaca tulisan An Siswanto ( <a href='http://www.lakeinnisfree.blogspot.com/'>http://www.lakeinnisfree.blogspot.com</a> ) “Ensiklopidia yang aneh : Sunday Oliseh dalam Citizen Journalism.” An mencari bahan bacaan tentang Citizen Journalism di Google Search pencarian adalah Wikipedia. Tetapi yang An temukan adalah <a href='http://en.wikipedia.org/wiki/Citizen_journalism'>Sunday Oliseh di bawah lema Citizen Journalism!</a> Sunday Oliseh adalah seorang pemain sepak bola asal Nigeria, seangkatan dengan Nkwanko Kanu, mantan striker Arsenal, dan Jay Jay Okocha, playmaker timnas Nigeria. An tahu betul karena An adalah 'gibol'. Nah, masuknya nama Sunday Oliseh ke lema Citizen Journalism membuat An tertarik. Apa hubungan Oliseh dengan jurnalisme? Setelah sekian telusur An tak menemukan keterangan tentang Oliseh yang terkait dengan dunia jurnalisme. Di dalam ensiklopedia yang sama, Sunday Oliseh yang kata-katanya dikutip untuk menerangkan Citizen Journalism adalah Sunday Oliseh yang itu. Dan tidak ada keterangan lain yang menunjukkan hubungan yang jelas antara Sunday Oliseh yang itu dengan Citizen Journalism.Akhirnya, An menarik hipotesis bahwa tak selamanya Wiki, yang banyak dirujuk orang itu, memberikan informasi yang akurat.<br />Setelah membaca tulisan An Iswanto ini, saya ingat pada Balai Bahasa Banjarmasin menerbitkan”Ensiklopidia Sastrawan Kalsel “ ( 2008 ). Ensiklopidia tsb akhirnya mendapat tanggapan yang gencar dan tajam dari Sastrawan Kalsel. Sastrawan Kalsel mengatakan bahwa Ensiklopidia versi BBB tsb antara lain : Kurang lengkap kalau di bandingkan buku “ Sketsa Sastrawan Kalsel “yang dihimpun oleh Jarkasi dan Tajuddin Nur Gani diterbitkan Deppennas Pusat Bahasa Balai Bahasa Banjarmasin, 2001 padahal bahannya banyak diambil dari buku tersebut tapi tdk mencantumkan sumbernya. Menyajikan biodata yang tdk relevan dengan kesastraan, photo yang tertukar. Tdk termuatnya tempat – tempat berdiskusi para sastrawan, jurnal, bulletin sastra, Antologi Puisi, Antologi Cerpen dan Novel yang telah diterbitkan, secara lengkap. Pada lema, masih banyak para sastrawan terkemuka belum dicantumkan. Dan banyak tanggapan lainnya yang sebenarnya dapat dibutiri, tapi ada satu hal yang sangat menarik dan perlu direnungkan adalah “ untuk mewujudkan sebuah ensiklopidia , penyusun memerlukan langkah-langkah kerja yang sistematis, bukan sekedar “memulung” informasi dari sana-sini lantas menyusunnya secara alfabetis. Saya tidak tahu pasti apakah ensiklopidia versi Balai Bahasa Banjarmasin ini sudah tersebar secara umum atau tidak. Tapi mungkin telah dikirim ke Pusat Balai Bahasa di Jakarta. Hemat saya ensiklopidia tsb jangan disebarkan secaca umum, seperti halnya buku Ensiklopidi Sastra Indonesia ( ESI ) terbitan Titian Ilmu Bandung ( 2004 ) agar jangan menyesatkan pembaca, sebelum ada revisi. Dan saran saya secepatnya pihak Balai Bahasa Banjarmasin mengundang sastrawan dan pihak-pihak lain yang terkait untuk bekerjasama merevisi ensiklopidia tersebut.*** Arsyad Indradi </div><a title='Hapus Komentar' href='https://www.blogger.com/delete-comment.g?blogID=254337547454446503&amp;postID=8027641514132467403'></a><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7203659832610452038-4351911839682562769?l=arsyadindradi.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>anggurduka@gmail.com (Arsyad Indradi), 12/21/2008</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sastrabanjar.blogspot.com/2008/07/badudus-acara-adat-mandi-tian-mandaring.html">BADUDUS ACARA ADAT BANJAR  MANDI TIAN MANDARING</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><p class='MsoNormal' style='margin-right: 154.2pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'><o:p> </o:p></span></p><br /><p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'>Badudus adalah acara mandi – mandi.. Acara ini ada tiga jenis, yaitu Mandi – Mandi Tian Mandaring, Mandi – Mandi Pengantin Bsnjar, dam Mandi – Mandi untuk Keselamatan. </span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'>Acara Mandi Tian Mandaring adalah acara Mandi – Mandi perempuan hamil pertama kali yang usia hamilnya Tujuh Bulan. Sesaji yang diadakan berupa kue – kue yang jumlahnya 41 macam. Minyak Likat Buburih adalah sebagai bahan Tapung Tawar.<span style=''>  </span>Air yang dimandikan berupa air yang<span style=''>  </span>berendam beraneka bunga sehingga air ini beraroma harum.****</span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 154.2pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 154.2pt; text-align: justify;'><span  lang='EN-US' style='color:red;'>( Arsyad Indradi )<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 154.2pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'><o:p> </o:p></span></p><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4645463629457162104-8303415357392797812?l=sastrabanjar.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sastrabanjar@gmail.com (Sastra Banjar), 7/20/2008</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sastrabanjar.blogspot.com/2008/07/badudus-acara-adat-mandi-mandi-dan.html">BADUDUS ACARA ADAT BANJAR MANDI-MANDI DAN SELAMATAN TAHUNAN</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><p class='MsoNormal' style='margin-right: 154.2pt; text-align: justify;'>  </p><p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'>Acara <b><i>Badudus </i></b><span style=''> </span>merupakan tradisi masyarakat Banjar terutama<span style=''>  </span>sebagian masyarakat Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara. Acara ini diadakan dua kali setahun yaitu<span style=''>  </span><b>acara Mandi-Mandi</b><span style=''>  </span>dilaksanakan pada pertengahan tahun Hijrah yaitu sekitar bulan Jamadil Akhir dan Selamatan <b>Tahunan</b><span style=''>  </span>diadakan<span style=''>  </span>pada awal tahun Hijrah yaitu bulan Muharram . Masyarakat Amuntai sangat tebal kepercayaannya terhadap Legenda Lambung Mangkurat, bahwa raja-raja Negara Dipa seperti Empu Jalmika, Pangeran Suryanata, Pangeran Suryaganggawangsa dan lain-lainnya itu sampai sekarang masih hidup dan berada di alam gaib dan sewaktu-waktu mereka dapat diundang. Kepercayaan ini dianut secara turun temurun dan jika tidak dilaksanakan maka mengakibatkan malapetaka bagi keluarga mereka misalnya ada yang<span style=''>  </span>kurang waras atau kena penyakit. </span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'>Sesaji yang harus diadakan adalah <b>41 macam kue</b> dan<span style=''>  </span>yang tidak boleh ketinggalan yaitu “ <b>Bubur Habang Bubur Putih</b> “, “ <b>Kopi Pahit</b> “, <b>Cingkaruk Batu</b> “, <b>“ Rokok</b> <b>Jagung</b> “, dan “ <b>Minyak Likat Buburih</b> “. </span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'>Serangkaian acara Badudus Selamatan Tahunan ini diadaakan lagu-lagu Badudus yang diiringi tetabuhan yang terdiri dari biola dan Tarbang Besar atau Tarbang Burdah. <st1:place st='on'><st1:city st='on'>Ada</st1:city></st1:place> beberapa repertoire<span style=''>  </span>dalam acara ini yang susunannya tidak boleh tertukar, yaitu : </span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'>Repertoire pembukaan adalah <b>lagu Kur Sumangat,</b> merupakan lagu mengundang roh – roh dari raja-raja yang gaib di tengah kepulan asap dupa dan kemenyan.<span style=''>  </span>Isi lagu adalah undangan dan ucapan maaf jika ada kesalahan dalam menyediakan sajian atau dalam pelaksanaan terdapat kekeliruan dan sebagainya.selesai lagu ini, diadakan acara <b>Tapung Tawar</b> yang disebut <b>Tatungkal </b><span style=''> </span>dengan memercikkan minyak Likat Buburih d atas kepala pada yang dimandikan dan pada keluarga. </span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'>Repertoire yang kedua <b>Lagu</b> <b>Girang – Girang</b>, pernyataan kegembiraan.</span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'>Repertoire yang ketiga adalah <b>lagu</b> <b>Mandung Mas Mirah</b>, lagu untuk menyambut puteri – puteri yang diundang.</span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'>Repertoire yang keempat <b>Lagu Dundang Sayang,</b> berfungsi<span style=''>  </span>sebagai penghibur pada para undangan yang hadir.</span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'>Repertoire yang kelima adalah <b>Lagu</b> <b>Tarabang Burung</b>, lagu menyambut atau menyongsong para roh – roh<span style=''>  </span>yang datang.</span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'>Repertoire yang terakhir yaitu Lagu Burung Mantuk,<span style=''>  </span>l;agu untuk menghantarkan pulang para roh – roh yang telah<span style=''>  </span>menghadiri upacara tersebut.</span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'>Tidak jarang dalam upacara Badudus ini banyak orang – orang yang hadir kesurupan. Setelah selesai Lagu Burung Mantuk dinyanyikan yang kesurupan tersebut sadar kembali.<span style=''>  </span>Fungsi penyanyi terkadang adalah juga sebagai pawang dan berperan sebagai pemimpin acara. *******</span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 23.3pt; text-align: justify;'><span  lang='EN-US' style='color:red;'>( Arsyad Indradi )<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 88.75pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 88.75pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'><o:p> </o:p></span></p>    <p class='MsoNormal' style='margin-right: 154.2pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 154.2pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'><o:p> </o:p></span></p><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4645463629457162104-7655047224669902372?l=sastrabanjar.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sastrabanjar@gmail.com (Sastra Banjar), 7/19/2008</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sastrabanjar.blogspot.com/2008/07/badudus-acara-adat-mandi-mandi.html">BADUDUS ACARA  ADAT BANJAR MANDI-MANDI PENGANTIN BANJAR</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><p class='MsoNormal' style='margin-right: 32.65pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'><br /></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 32.65pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 32.65pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'>Acara <b>Badudus </b>adalah suatu acara <b>adat masyarakat Banjar</b> yang sampai sekarang ini masih tumbuh dan hidup<span style=''>  </span>dalam masyarakat Banjar. Tempo dulu Badudus merupakan acara penobatan seorang Raja. Acara ini hanya diselenggarakan oleh keturunan raja – raja saja yakni keturunan dari raja – raja Kerajaan Negara Dipa dan Kerajaan Daha, dan yang dapat menghadiri acara tersebut adalah hanya terbatas kepada seluruh keluarga saja. Setelah tidak ada lagi <span style=''> </span>kerajaan di Tanah Banjar (tahun 1860 ) maka acara ini bergeser menjadi acara mandi – mandi Pengantin Banjar. Penyelenggaraan Badudus dilaksanakan oleh kedua pengantin. Dalam acara ini disediakan sesaji 41 macam kue dan <span style=''> </span>minyak likat buburih yaitu bunga – bungaan yang dimasak dengan minyak kelapa dan lilin serta ditambah dengan minyak wangi.<span style=''>  </span>Acara badudus ini umumnya dimeriahkan dengan menyuguhkan lagu – lagu Banjar.****</span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 32.65pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 32.65pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'>( Arsyasd Indradi )</span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 154.2pt; text-align: justify;'><span lang='EN-US'><o:p> </o:p></span></p><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4645463629457162104-5702619476206383017?l=sastrabanjar.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sastrabanjar@gmail.com (Sastra Banjar), 7/19/2008</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sastrabanjar.blogspot.com/2008/07/sastra-banjar-pantun-sebagai-lirik-lagu.html"></a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='font-size: 14pt;' lang='IN'>Sastra Banjar Pantun Sebagai Lirik Lagu Banjar dan Pengiring Tari Banjar<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='' lang='IN'>Oleh : Arsyad Indradi<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='' lang='IN'>Pantun Banjar<span style=''>  </span>sebagai hasil Sastra Banjar merupakan cermin masyarakat Banjar. Lirik- lirik yang tersusun dalam Pantun banjar tampak terlihat alam budaya masyarakat Banjar. Pantun Banjar masih bertahan hidup dalam masyarakat banjar terutama lirik pantun merupakan lirik lagu – lagu banjar dan lagu banjar ini banyak<span style=''>  </span>sebagai pengiring tari daerah banjar. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='' lang='IN'>Beberapa cuplikan contoh Lagu Banjar, di antaranya :<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='' lang='IN'>Pantun pada lagu <b style=''><span style='color: red;'>Gandut Janiah</span></b> <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Aku tahu si sarang warik ai aku pang tahu si sarang warik<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Sarang warik sarang pang warik di pinggir hutan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Aku tahu si urang sarik aku pang<span style=''>  </span>tahu si urang<span style=''>  </span>sarik <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Urang sarik urang pang sarik baparangutan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Tiup api di Gunung lidang tiup pang api di gunung lidang <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Habu – habunya habu – habunya<span style=''>  </span>kutampi jua<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Niat hati tumat dibujang<span style=''>  </span>niat hati tumat dibujang<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Balu – balunya balu – balunya kuhadang jua<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>( dan seterusnya ) <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: black;' lang='IN'>Pantun pada lagu<span style=''>  </span></span><b style=''><span style='color: red;' lang='IN'>Ayun apan<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Ayunapan anak undan kutinjak apan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Ayun salendang anak undan hanyut badiri<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Apan apan anak undan ujarku apan <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Urang bujang anak undan baranak tiri<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Ayun apan anak undan ayun apan anak undan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Dua kali anak undan hujan di Gambah<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Mahujuani anak undan anak papuyu<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Dua kali anak undan mangiau asbah<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Mangawinakan anak undan anak dahulu<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Pantun pada Lagu </span><b style=''><span style='color: rgb(255, 102, 0);' lang='IN'>Amas Mirah</span></b><b style=''><span style='color: navy;' lang='IN'><o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: rgb(255, 102, 0);' lang='IN'>Amas pang mirah amas pang<span style=''>  </span>mirah kasuma dangding<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: rgb(255, 102, 0);' lang='IN'>Pudak malati pudak malati kambang angsana<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: rgb(255, 102, 0);' lang='IN'>Biar pang kawa biar pang kawa dibawa guring<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: rgb(255, 102, 0);' lang='IN'>Kada pang nyaman<span style=''>  </span>kada pang nyaman di dalam dada<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: rgb(255, 102, 0);' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: rgb(255, 102, 0);' lang='IN'>Amas pang mirah amas pang mirah kasuma dangding<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: rgb(255, 102, 0);' lang='IN'>Pudak malati pudak malati campaka susun<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: rgb(255, 102, 0);' lang='IN'>Kalulah rindang kalulah rindang lawan si ading<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: rgb(255, 102, 0);' lang='IN'>Jauh sahari jauh sahari rasa satahun<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: rgb(255, 102, 0);' lang='IN'>( dan seterusnya )<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: rgb(255, 102, 0);' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>    <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Masih banyak lagu Banjar yang berlirik pantun seperti lagu : Di Banua Urang,Ungga-Ungga Apung, Karindangan dan lain - lain.<o:p></o:p><br />Lagu Pantun yang mengiringi tarian Banjar umumnya berupa <b style=''>Pantun Urang Anum </b>yaitu pantun percintaan muda-mudi,<b style=''>Pantun Nasib</b><span style=''>  </span>dan <span style=''> </span><b style=''>Pantun Balucuan.<o:p></o:p></b></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Beberapa cuplikan <span style=''> </span>lagu pantun sebagai pengiring tarian Banjar, antara lain :<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Pada </span><b style=''><span style='color: red;' lang='IN'>Tari Tirik Kuala</span></b><span style='color: red;' lang='IN'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: red;' lang='IN'>Pucuk pisang pucuk pisang adingai daunnya layu daunnya layu<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: red;' lang='IN'>Kamana jua kamana jua adingai maambunakan <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: red;' lang='IN'>kamana jua adingai maambunakan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: red;' lang='IN'>Kuhadang hadang kuhadang hadang adingai baluman<span style=''>  </span>lalu baluman lalu<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: red;' lang='IN'>Kamana jua kamana jua adingai manukunakan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: red;' lang='IN'>kamana jua adingai manakunakan <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: red;' lang='IN'>( dan seterusnya )<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Pada </span><b style=''><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Tari Tirik Lalan<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Jurang mana kakaai jurang baparit<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>parit juranglah marakit wayahini kandangan mayang<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>wayahini kandangan mayang<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Urang mana kakaai datang kamari<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>mari hatiku nang sakit wayahini talabih sanang<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>wayahini talabih sanang<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Sungai rutas kakaai jambatan rangka<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>rangka ditarusakan kakai ka Margasari<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>tarusakan kakaai ka Margasari<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Nangapa<span style=''>  </span>khabar kakai nang manis langkar <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>khabar nang manis langkar kakaai datang kamari<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>nang manis langkar kakai datang kamari<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>( dan seterusnya )<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Pada <b style=''>Tari Japin Kuala<o:p></o:p></b></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Dimapa akal 2x manimai lunta 2x<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Akarlah manggis bakulilingan 2x<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>La la la la la la la la la 2x<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Dimapa akal 2x handak malupa2x<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Nang hirang manis pangurihinganj 2x<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>La la la la la la la la la 2x<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>( dan seterusnya )<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Pada Tari Ahui<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Kucing balang mamakan tapai ading sayang<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>mamakan tapai sing lanjungan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Banih bagayang minta dirapai ading sayang<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>minta dirapai sampai tuntungan<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>Hura ahui , ahui, hura ahui ahui <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'>( dan seterusnya )<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='color: navy;' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><b style=''><span style='color: black;' lang='IN'>***********<o:p></o:p></span></b></p><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4645463629457162104-1311632035807387834?l=sastrabanjar.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sastrabanjar@gmail.com (Sastra Banjar), 7/12/2008</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sastrabanjar.blogspot.com/2008/07/sastra-banjar-ahui.html">Sastra Banjar “ Ahui “</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><p class='MsoNormal'><b style=''><span style='' lang='IN'></span></b><span style='' lang='IN'>Oleh : Arsyad Indradi<o:p></o:p></span></p>    <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='' lang='IN'><o:p></o:p>Acara <b style=''>karasmin Baahui </b>adalah suatu acara yang diadakan setiap <b style=''>mangatam</b> <b style=''>banih</b> ( panen padi ).sampai habis panen. Pada saat sedang <span style=''> </span><b style=''>mangatam </b><span style=''> </span>berkumandanglah dendang gembira bersahut-sahutan. Begitu pula pada waktu<span style=''>  </span><b style=''>Mairik Banih</b> yaitu melepaskan bulir – bulir padi dari tangkainya dengan<span style=''>  </span>cara menginjak– injak tumpukan padi sambil berjalan bekeliling membentuk lingkaran. Mairik Banih dilakukan secara beramai – ramai.Di sini pula terdengar alunan dendang sebagi ekspresi<span style=''>  </span>kegembiraan dan syukur kepada tuhan atas anugerah rezekiNya. Padi yang telah lepas dari tangkainya ini lalu<span style=''>  </span>di<b style=''>labang<o:p></o:p></b></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='' lang='IN'>( dijemur ), setelah kering lalu di diproses melalui alat bernama <b style=''>Gumbaan </b>yaitu suatu alat untuk membersihkan padi.dari <b style=''>hampa banih.<o:p></o:p></b></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='' lang='IN'>Dendang yang dilantunkan itu berupa pantun-pantun. Pantun panen padi ini dinamakan <b style=''>Ahui. </b>Baahui umumnya dilakukan secara bersahut-sahutan dinamakan <b style=''>Baturai Pantun.<o:p></o:p></b></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='' lang='IN'>Acara <b style=''>Ahui </b>dipimpin oleh <b style=''>kepala ahui</b>, memulai berpantun sebagai pembuka acara : <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Mairik banih badindang digun<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Buang gayangnya lalu dijamur<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Baiklah kita hidup barukun<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'>Banua kita manjadi makmur<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='color: fuchsia;' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='' lang='IN'>Pantun pembukaan ini akan disahut oleh yang hadir dengan saling bersahut-sahutan sehingga terjadi <b style=''>baturai pantun</b>. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='' lang='IN'>Tak jarang dalam acara baahui ini menjadi ajang bagi para remaja Banjar, <b style=''>Galuh</b>, <b style=''>Diyang</b>, <b style=''>Nanang</b> dan <b style=''>Utuh</b> untuk mencari codoh.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='' lang='IN'>*********<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4645463629457162104-3109768243849009991?l=sastrabanjar.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sastrabanjar@gmail.com (Sastra Banjar), 7/12/2008</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sastrabanjar.blogspot.com/2008/07/aku-merindukan-sastra-banjar-bakisah.html">Aku Merindukan Sastra Banjar “ Bakisah "</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><span style='font-family: Garamond;'>Teringat masa tahun 50-an sampai tahun 60-an ketika aku masih di Sekolah Rakyat ( Sekolah Dasar ), sangat senang menyaksikan<span style=''>  </span><b style=''>Bakisah </b><span style=''>  </span>pada acara usai Panen Padi, Pengantin atau malam amal.<o:p></o:p></span>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='font-family: Garamond;'>Walau pun agak jauh dari tempat tinggalku namun selalu kudatangi baik sendirian mau pun berkawan-kawan. Pada waktu itu <b style=''>Bakisah</b> memang sangat populer di masyarakat Banjar. Banyak <b style=''>Pangisahan</b><span style=''>  </span>yang terampil membawakan kisah tapi aku yang masih ingat adalah <b style=''>Pangisahan yang bernama Guru Arfan</b>.. Bakisah umumnya tidak memerlukan naskah. Baik pengantar kisah atau pun dialog-dialog dibawakan, mengandalkan keterampilan berimpropisasi. Tema-tema yang diangkat<span style=''>  </span>terkadang fiksi tetapi ada juga yang terjadi dalam masyarakat. Pangisahan<span style=''>  </span>manakala<span style=''>  </span>melakonkan tokoh-tokoh dalam kisah, penonton benar-benar larut dalam arus plot dan karakter sang tokoh.<span style=''>  </span>Bilamana adegan sedih, gembira, dendam, humor atau lainnya, penonton larut ke dalamnya. Tak ada satu pun penonton beranjak jika kisah belum tamat. <span style=''> </span>Banyak sari toladan baik mengenai adat istiadat, etika estetika hidup, pendidikan, keagamaan, patriotisme<span style=''>  </span>yang terkandung dalam kisah. Kalau dibandingkan propertis ( hand dan setting ) dan lightingnya antara teater monolog, bakisah sangat sederhana dan bersahaja namun Pangisahan mampu menghidupkan suasana. <b style=''>Dalam Sastra Banjar, bakisah</b> <b style=''>termasuk cerita tutur.<o:p></o:p></b></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='font-family: Garamond;'>Sungguh aku sangat merindukan Bakisah. Sebab bakisah selama ini tidak pernah lagi dipertunjukkan di acara – acara<span style=''>  </span>usai panen, pengantin, atau pun acara<span style=''>  </span>perayaan lainnya, apa lagi di TV. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='font-family: Garamond;'>Aku bergumam sendiri adakah selain aku yang rindu <span style=''> </span>“ bakisah “ wahai paduka yang ada di<span style=''>  </span>Disbudpar, Dewan Kesenian, Pemerintah Daerah, masyarakat Banjar ? Semoga***<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='font-family: Garamond; color: red;'>( Arsyad Indradi )<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify; text-indent: 36pt;'><span style='font-family: Garamond; color: red;'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify; text-indent: 36pt;'><span style='font-family: Garamond; color: red;'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal'><o:p> </o:p></p><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4645463629457162104-8237640852398211144?l=sastrabanjar.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sastrabanjar@gmail.com (Sastra Banjar), 7/10/2008</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sastrabanjar.blogspot.com/2008/07/maungkai-sastra-banjar-syair.html">Maungkai Sastra Banjar “ Syair “.</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><p class='MsoNormal'><b style=''><span style='' lang='IN'><br /><o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNormal'><b style=''><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></b></p>  <p class='MsoNormal'><b style=''><span style='' lang='IN'>Oleh : Arsyad Indradi<o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNormal'><b style=''><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></b></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='' lang='IN'>Salah satu bentuk <b style=''>Sastra Banjar</b> adalah <b style=''>“ Syair “.</b> Seperti juga syair dikesastraan Indonsia Lama, Sastra Banjar<span style=''>  </span>Syair<span style=''>  </span>mempunyai bentuk empat baris setiap baitnya, persajakannya <b style=''>aa-aa </b>dan isinya mengandung hikayat, sejarah, nasihat, pendidikan, percintaan, keagamaan dan dongeng, dan munculnya syair setelah adanya pengaruh agama Islam.<span style=''>  </span>Tetapi bedanya media yang digunakan Syair Kesastraan Indonesia Lama, Bahasa Indonesia <span style=''> </span>sedangkan Sastra Banjar Syair, Bahasa Banjar. Disamping itu banyak syair – syair dalam Sastra Banjar ditulis oleh pengarangnya dengan menggunakan tulisan Arab. Sayangnya syair- syair yang ditulis dengan tulisan Arab ini sampai sekarang belum banyak ditulis dengan tulisan Latin. Akibatnya syair – syair Sastra Banjar ini hanya merupakan Koleksi Filologika Museum Negeri Kalsel di Banjarbaru.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='' lang='IN'>Pengarang – pengarang syair yang terkenal pada masa silam antara lain :<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <ol style='margin-top: 0cm;' start='1' type='1'><li class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='' lang='IN'>Haji      Pangeran Muda, dizaman Panambahan Sutan Adam<span style=''>  </span>( 1825 ). Ia pengarang ” Syair Mayat “ <span style=''> </span>dan “ Syair Sipatul Golam “.<o:p></o:p></span></li><li class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='' lang='IN'>Haji      Gusti Ali, pengarang “ Syair Ganda Kasuma “<span style=''>  </span>dan “ Syair Brahma Syahdan “.<o:p></o:p></span></li><li class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='' lang='IN'>Haji      Umi, seorang wanita, anak dari Kiai Tumanggung Kartanagara di Barabai (      Hulu Sungai Tengah ).Pengarang “ Syair Ringgit “.<o:p></o:p></span></li><li class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='' lang='IN'>Kiai Mas      Akhmad Dipura, pengarang “ Syair Tajul Muluk “.<o:p></o:p></span></li><li class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='' lang='IN'>Haji      Airmas, pengarang “ Syair Roko Amberi “.<o:p></o:p></span></li></ol>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='' lang='IN'>Sebenarnya banyak syair – syair yang tempo dulu sangat populer dalam masyarakat Banjar, karena sering diadakan pembacaan syair. Pembacaan syair ini dikenal dengan<span style=''>  </span><b style=''><span style=''> </span>basyasyairan</b> .<span style=''>  </span>Syair – syair yang dibacakan itu antara lain :<span style=''>  </span>Syair Surat Tarasul, Syair Siti Jabidah, Syair Indra Bumaya, Syair Khabar Kiamat, Syair Panji Kasmaran, Syair Brahma Sahdan, Syair Ratu Kuripan “ dan lain – lain.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='' lang='IN'>Kalau kita hayati <b style=''>basyasyairan </b><span style=''> </span>ini, sebenarnya tak kalah menariknya dengan pertunjukan musik atau lagu – lagu modern seperti lagu pop mau pun dangdut. Sebab basyasyairan ini mempunyai variasi lagu yang dinamakan lagu Hujan Panas, lagu hujan garimis, lagu tingkalung sangkut ( sibuang anak ) dan lain – lain.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='' lang='IN'>Basyasyairan ini menjadi tradisi bagi Museum Lambung Mangkurat<span style=''>  </span>Banjarbaru pada acara ulang tahun museum baik berupa lomba atau pun festival membaca syair.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt; text-align: justify;'><span style='' lang='IN'>Ada beberapa saran untuk lembaga yang terkait seperti Dewan Kesenian, Disbudpar, Disdik maupun komunitas sastra<span style=''>  </span>untuk mengadakan<span style=''>  </span>pertunjukan basyasyairan pada even – even tertentu seperti <span style=''> </span>perayaan hari – hari besar baik daerah naupun nasioanal dan menyelenggarakan pelatihan atau work shop <b style=''>Basyasyairan</b> agar tetap langgeng dan lestarinya <b style=''>Sastra Banjar Syair</b> di Tanah Banjar. Tampaknya, “ basyasyairan “ sudah kian terlupakan oleh masyarakat Banjar<b style=''>. <span style='color: fuchsia;'>Semoga kita<span style=''>  </span>anak babangsa peduli dan mencintai <span style=''> </span>Seni Budaya Daerahnya.<span style=''>  </span><o:p></o:p></span></b></span></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><b style=''><span style='color: fuchsia;' lang='IN'><span style=''> </span><o:p></o:p></span></b></p>  <p class='MsoNormal' style='margin-right: 56.6pt;'><span style='' lang='IN'><o:p> </o:p></span></p><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4645463629457162104-6885599150529419054?l=sastrabanjar.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sastrabanjar@gmail.com (Sastra Banjar), 7/9/2008</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sastrabanjar.blogspot.com/2008/07/sakilaran-tentang-sastra-banjar-madihin.html">Sakilaran Tentang Sastra Banjar " Madihin ".</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://bp0.blogger.com/_V0BGjvFrmAQ/SHMpaeYKR1I/AAAAAAAAANc/r1I43a-EcbQ/s1600-h/madihin%2B2.jpg'><img style='margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;' src='http://bp0.blogger.com/_V0BGjvFrmAQ/SHMpaeYKR1I/AAAAAAAAANc/r1I43a-EcbQ/s200/madihin%2B2.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5220561927860275026' border='0' /></a><br /> <p class='MsoNormal' style='text-align: center;' align='center'><span style='font-size:100%;'><b><span style=';color:green;' >Oleh : Arsyad Indradi</span></b></span></p>  <p class='MsoNormal' style=''><b><span style='color:red;'>I. Pendahuluan</span></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><st1:city st='on'>Ada</st1:city> yang berpendapat bahwa <b><i>madihi</i></b><i>n</i> berasal dari kata <b><i>madah</i></b>, yaitu sejenis puisi lama dalam sastra <st1:country-region st='on'><st1:place st='on'>Indonesia</st1:place></st1:country-region>. Madah merupakan syair yang mempunyai rima yang sama pada suku akhir kalimat. Madah mengandung puji - pujian, nasehat atau petuah. Tetapi dalam perkembangannya humor atau<b><i> lulucuan</i></b>, sindiran yang sehat, tak ketinggalan disuguhkan oleh <b><i>Pamadihinan ( orang yang membawakan madihin )</i></b> sebagai bumbu. </p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Kehidupan <b>Sastra Banjar Madihin </b>seperti juga Sastra Banjar Balamut, kesenian tradisional yang hampir tipis, bahkan mengalami kerisis kemusnahannya. <b>Sastra Banjar Madihin </b>jarang ditampilkan dalam acara – acara hiburan hari – hari besar atau acara perayaan daerah misalnya pada hari jadi <st1:city st='on'><st1:place st='on'>kota</st1:place></st1:city>, kabupaten atau pun pada hari jadi provinsi. Setelah di tahun 1970 – an tak pernah ada lagi perlombaan atau pertandingan <b>Sastra Banjar Madihin.</b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Jarang atau dapat dihitung dengan jari orang yang berminat menjadi Pamadihinan. Agar menjadi Pamadihinan yang mengarah kepada pemain profisional, ia harus memiliki keterampilan dalam bamadihin. Keterampilan itu antara lain : Menguasai lagu khas madihin, terampil memukul tarbang dengan irama sebagai pukulan pembuka atau membunga, pukulan memecah bunga, pukulan menyampaikan isi pesan, dan pukulan penutup. Seorang Pamadihinan juga harus mempunyai suara atau vokal yang lantang dan merdu. Disamping hapal naskah syair, ia juga terampil berimpropisasi yaitu secara spontan menciptakan syair tanpa dipersiapkan terlebih dahulu. Memang seorang pamadihinan perlu latihan yang terus – menerus agar dapat menjadi Pamadihinan yang profisional.</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><span style='color:red;'>II. Asal – Mula Sastra Banjar ' Madihin '</span></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Banyak pendapat mengenai asal mula madihin. <st1:city st='on'><st1:place st='on'>Ada</st1:place></st1:city> yang mengatakan berasal dari Kecamatan Angkinan yaitu di kampung Tawia, Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan. Pendapat ini berpijak pada bahwa Pamadihinan banyak tersebar di pelosok Kalimantan Selatan berasal dari kampung Tawia bernama <b>Dulah Nyangnyang.</b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Ada juga yang berpendapat Sastra Banjar Madihin berasal dari Kecamatan Paringin, Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan, sebab dahulu Dulah Nyanyang lama bermukim di ingin dan mengembangkan madihin di sana.</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Tetapi ada juga yang berpendapat madihin berasal dari utara Kalimantan yang berbatasan dengan negara <st1:country-region st='on'><st1:place st='on'>Malaysia</st1:place></st1:country-region> ( Malaka ), sebab madihin banyak dipengaruhi oleh syair melayu dan gendang tradisional semenanjung Malaka. Tarbang ( gendang ) yang dipakai bamadihin ada persamaan dengan gendang yang dipakai oleh orang – orang Malaka dalam mengiringi syair atau pantun melayu.</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Apa pun pendapat ini. Namun yang jelas bahwa Sastra Banjar Madihin menggunakan bahasa Banjar, Pamadihinannya etnik Banjar. Madihin adalah kesenian tradisional Banjar yang khas Banjar yang tidak ada pada etnik lain di Nusantara. </p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Madihin sudah ada diperkirakan tahun 1800 yaitu setelah Islam masuk dan berkembang di <st1:place st='on'>Kalimantan</st1:place>. Lahirnya madihin banyak dipengaruhi oleh kesenian Islam yaitu kasidah dan syair – syair bercerita yang dibaca oleh masyarakat Banjar.</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><span style='color:red;'>III. Pergelaran, Fungsi dan Struktur Sastra Banjar 'Madihin'</span></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>A. Pagelaran</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Madihin pada umumnya dipergelarkan pada malam hari, tetapi sekarang pada siang hari. Durasi pagelaran sekitar 1 sampai 2 jam sesuai permintaan penyelenggara. Pagelaran madihin umumnya di lapangan terbuka yang dapat menampung penonton yang banyak. Panggung yang diperlukan ukuran 4 x3 meter. <st1:city st='on'><st1:place st='on'>Ada</st1:place></st1:city> juga di halaman rumah, di muka kantor atau balai. Sekarang sering pula dipergelarkan di dalam gedung.</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Membawakan madihin ada yang hanya satu Pamadihinan yakni pemain tunggal.Pemain tunggal ini membawakan syair dan pantunnya harus pandai membawa timber atau warna suara yang agak berbeda seperti orator. Ia harus pandai menarik perhatian penonton dengan humor segar tetapi sesuai dengan batas etika. Ia harus benar – benar sanggup dengan memukau dengan irama dinamis pukulan terbangnya. Tetapi umumnya dibawakan 2 Pamadihinan, malah sampai 4 Pamadihinan. Jika 2 Pamadihinan berduet maka pemain ini biasanya beradu atau saling bertanyajawab, saling sindir, saling kalah mengalahkan melalui syair yang dibawakan. Aturannya adalah Pamadihinan yang satu membuka hadiyan, kemudian disambut oleh Pamadihinan yang kedua, dan seterusnya saling bersahuta. Andaikan ada 4 Pamadihinan maka terbagi dua kelompok, masing – masing 2 Pamadihinan., penampilannya seperti halnya yang dua Pamadihinan, tapi kelompok yang satu bisa membantu anggota kelompoknya melawan kelompok yang dihadapinya. Biasanya kelompok ini <b>berpasangan pria dan wanita</b> yaitu <b><i>duel meet</i></b>. Duel meet ini merupakan beradu <b><i>kaharata</i></b>n ( kehebatan ). Dalam duel ini, <b>kelompok 1</b> memberi umpan dengan syair tertentu. <b>Kelompok 2</b> harus dapat mengulangi atau menjawab, selanjutnya harus memberi umpan balik, yang harus diulang oleh kelompok I. Mereka saling bertanya jawab, saling menyindir, saling kalah mengalahkan. Demikian seterusnya.</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><st1:city st='on'><st1:place st='on'>Ada</st1:place></st1:city> pun kelompok yang kalah apabila tidak bisa atau tidak dapat mengulang atau menjawab kelompok lawannya. <b>Kelompok yang kalah akan mengangkat bendera putih.</b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Pamadihinan duduk di kursi dengan memakai baju Banjar yaitu taluk balanga dan memakai kopiah serta sarung. Tetapi sekarang sudah berpakaian bebas dan sopan, kecuali pada acara – acara penting, misalnya menghibur tamu pejabat atau menghibur acara pisah sambur pejabat, dan lain – lain.</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color:red;'>B. Fungsi Sastra Banjar ' Madihin '</span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Madihin umumnya berfungsi :</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>1. Dahulunya menghibur raja atau pejabat istana. Syair yang dibawakan bersifat pujian.</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>2. Sebagai hiburan masyarakat acara tertentu, misalnya hiburan habis panen, </p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>memeriahkan pengantin, peringatan hari besar nasional dan daerah.</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>3. Sebagai nadar atau hajat misalnya bagi orang tua yang anaknya baru sembuh dari sakit, </p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>upacara <b><i>meayun</i></b> anak yaitu upacara daur hidup etnik Banjar dan juga pada acara </p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i>sunatan</i></b> ( kitanan ).</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>4. Sebagai media informasi, penyampaian pesan pembangunan yang dilakukan oleh </p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>pemerintah misalnya keluarga berencana, Pertanian, pendidikan, kesehatan, </p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>pemeliharaan nilai dan moral, wahana memperkokoh persatuan kesatuan , dan lai – </p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>lain. </p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><span style='color:red;'>C. Struktur Sastra Banjar ' Madihin '</span></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Struktur pergelaran sudah <st1:city st='on'><st1:place st='on'>baku</st1:place></st1:city>, yaitu terdiri atas :</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>1<b><span style='color:blue;'>. </span><span style='color:teal;'>Pembukaan</span></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Yaitu melagukan sampiran sebuah pantun yang diawali dengan pukulan<b><i> tarbang</i></b> yang disebur pukulan pembuka. Pembuka ini merupakan informasi tema yang akan dibawakan.</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Contoh :</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:maroon;'>Ilahi …..</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:maroon;'>lah riang … lah riangt riut</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:maroon;'>punduk …. Di hutan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:maroon;'>riang riut punduk di hutan …</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:maroon;'>kaguguran …. </span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:maroon;'>kaguguran buah timbatu …. </span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>2. <b><span style='color:teal;'>Batabi</span></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Yaitu syairnya atau pantun yang isinya penghormatan pada penonton, pengantar, ucapan terima kasih, dan permohonan maaf dan ampun jika ada terdapat kesasahan atau kekeliruan dalam pergelaran.</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Contoh :</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:purple;'>maaf ampun hadirin barataan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:purple;'>baik nang di kiri atawa di kanan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:purple;'>baik di balakang atawa di hadapan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:purple;'>baik lai – laki atawa parampuan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:purple;'>baik urang tuha atawa kakanakan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:purple;'>baik nang badiri atawa nang dudukab</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:purple;'>ulun madihin sahibar bacucubaan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:purple;'>tarima kasih ulun sampaiakan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:purple;'>kapada panitia mambari kasampatan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:purple;'>kalu tasalah harap dimaafakan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:purple;'>tapi kalu rami baampik barataan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>3. <b><span style='color:teal;'>Mamacah bunga </span></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Yaitu menyampaikan syair atau pantun sesuai dengan isi tema yang dibawakan. </p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Contoh :</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>baampik …. barataan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>babulik kaawal papantunan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>handak dipacahy makna sasampiran</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>supaya panuntun nyaman mandangarakan </span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>riang riut punduk di hutan </span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>kaguguran kanapa buah timbatu</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>irang irut muntung kuitan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>mamadahi kaina anak minantu</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>minantu mayah ini lain banar bahari</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>guring malandau lacit katangah hari</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>kada bamasak sabigi nasi</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>dipadahi mintuha kada maasi</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>kalu malam tulak pamainan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>padahal pamainan dilarang tuhan</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>urang macamitu bungul babanaran</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color:fuchsia;'>bisa – bisa mati karabahan jambatan </span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>4. <b><span style='color:teal;'>Penutup</span></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Yaitu kesimpulan dari apa yang baru disampaikan, sambil menghormati penonton, dan mohon famit, serta ditutup dengan berupa pantun – pantun.</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Contoh :</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color: rgb(255, 204, 0);'>tarima kasih ulun sampaiakan</span></i></b><span style='color: rgb(255, 204, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color: rgb(255, 204, 0);'>kadapa hadirin sabarataan</span></i></b><span style='color: rgb(255, 204, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color: rgb(255, 204, 0);'>mudahan sampian kalu ingat kaganangan</span></i></b><span style='color: rgb(255, 204, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color: rgb(255, 204, 0);'>kapada diri ulun pamadihinan</span></i></b><span style='color: rgb(255, 204, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color: rgb(255, 204, 0);'>ulun madihin sahibar mamadahakan</span></i></b><span style='color: rgb(255, 204, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color: rgb(255, 204, 0);'>handak manurut tasarah pian barataan</span></i></b><span style='color: rgb(255, 204, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color: rgb(255, 204, 0);'>sampai di sini dahulu sakian</span></i></b><span style='color: rgb(255, 204, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color: rgb(255, 204, 0);'>mohon pamit ulun handak batahan</span></i></b><span style='color: rgb(255, 204, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color: rgb(255, 204, 0);'>rama – rama batali banang</span></i></b><span style='color: rgb(255, 204, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color: rgb(255, 204, 0);'>kutaliakan ka puhun kupang</span></i></b><span style='color: rgb(255, 204, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color: rgb(255, 204, 0);'>sama – sama kita mangganang</span></i></b><span style='color: rgb(255, 204, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color: rgb(255, 204, 0);'>mudahan kita batamuan pulang</span></i></b><span style='color: rgb(255, 204, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color: rgb(255, 204, 0);'>ilahi ….</span></i></b><span style='color: rgb(255, 204, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><i><span style='color: rgb(255, 204, 0);'>sadang bataha, sadang barhanti …</span></i></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><span style='color:red;'>IV. Penutup / Saran</span></b></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Diharapkan kepada semua pihak yang terkait terutama lembaga kesenian seperti Dewan Kesenian, Pariwisata, atau lembaga pendidikan lainnya agar peduli kepada keberadaan <b>Sastra</b> <b>Banjar Madihin</b> yang semakin langka. Semoga <b>Sastra Daerah Banjar </b>yang dimasukkan ke dalam mata pelajaran muatan lokal di sekolah – sekolah menjadikan siswa minimal mengetahui kekayaan khasanak senibudaya daerahnya dan begitu indahnya kesenian daerah yang tak kalah dengan kesenian modern lainnya dalam zaman globalisasi ini. Semoga.</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Banjarbartu, 2006.</p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'>Kelompok Studi Sastra Baanjarbaru <st1:place st='on'>Kalimantan</st1:place> Selatan </p><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4645463629457162104-1363205987005164502?l=sastrabanjar.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sastrabanjar@gmail.com (Sastra Banjar), 7/8/2008</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://sastrabanjar.blogspot.com/2008/07/sajumput-tentang-sastra-banjar-lamut.html">Sajumput Tentang Sastra Banjar " Lamut ".</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://bp2.blogger.com/_V0BGjvFrmAQ/SHMoFjOHxXI/AAAAAAAAANU/tzqyeob2fsY/s1600-h/lamut.jpg'><img style='margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;' src='http://bp2.blogger.com/_V0BGjvFrmAQ/SHMoFjOHxXI/AAAAAAAAANU/tzqyeob2fsY/s200/lamut.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5220560468871464306' border='0' /></a><br /> <p class='MsoNormal' style=''><span style='font-size:100%;'><b><span style='color: rgb(255, 204, 153);'>Oleh : Arsyad Indradi</span></b></span></p>  <p class='MsoNormal' style=''><span style='color:blue;'>I. </span><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Pendahuluan.</span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><b><span style='color:red;'>Lamut</span><span style='color: rgb(255, 153, 0);'> </span></b><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>adalah salah satu<b> Sastra Banjar</b> atau dikatakan juga cerita bertutur yang dikhawatirkan suatu saat nanti akan punah. Disebabkan hampir tidak ada lagi yang berminat untuk menjadi </span><b><span style='color: rgb(153, 51, 0);'>Palamutan ( orang yang bercerita lamut ),</span></b><span style='color: rgb(255, 153, 0);'> dan tidak ada yang peduli dari masyarakat banjar itu sendiri, lembaga atau instansi senibudaya untuk melestarikian kehidupan Lamut yang semakin langka ini.</span> </p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Mengapa dikatakan Lamut ? Ada yang mengatakan bahwa lamut diambil dari nama seorang tokoh cerita di dalamnya, yaitu Paman Lamut seorang tokoh yang menjadi panutan, sesepuh, baik dilingkungan kerajaan atau pun masyarakat seperti halnya Semar dalam cerita wayang. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa lamut berasal dari kesenian <i>Dundam</i> yaitu cerita bertutur dengan menggunakan instrumen perkusi yaitu <i>tarbang,</i> Bercerita sambil membunyikan ( memukul ) alat tersebut. Konon, <i>pendundam</i> ketika membawakan ceritanya tidak tampak atau samar – samar dalam gelap. Cerita yang dibawakan adalah dongeng kerajaan Antah Berantah. Sedang berlamut, pelamutannya tampak oleh penonton dan ceritanya menurut <i>pakem </i>yang ada walau tak tertulis. Cerita yang dikenal masyarakat Banjar yakni cerita tentang percintaan antara </span><b><i><span style='color:red;'>Kasan Mandi</span></i></b><i><span style='color:red;'> </span></i><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>dengan<i> </i></span><b><i><span style='color:red;'>Galuh Putri Jung Masari</span></i></b><i><span style='color:red;'>.</span></i><span style='color: rgb(255, 153, 0);'> Kasan Mandi adalah putera dari <i>Maharajua Bungsu</i> dari <i>Kerajaan Palinggam Cahaya</i>, sedangkan Galuh Putri Jung Masari adalah putri dari </span><i><span style='color: rgb(153, 51, 0);'>Indra Bayu,</span></i><span style='color: rgb(255, 153, 0);'> raja dari Mesir Keraton. Kasan Mandi kawin dengan Galuh Putri Jung Masari melahirkan seorang putra bernama <i>Bujang Maluala.</i> Di dalam cerita ini ada tokoh antagonis bernama <i>Sultan Aliudin</i> yang sakti mandraguna dari <i>Lautan Gandang Mirung </i>yang jadi penghalang, dan terjadi perang tanding. Kasan Mandi dibantu oleh <i>paman Lamut </i>bersama anak – anaknya yaitu <i>Anglung, Anggasina dan Labai Buranta</i>, akhirnya Sultan Aliudin kalah.</span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color:red;'>II.<b> Sejarah Sastra Banjar ' Lamut.'</b></span><span style='color: rgb(255, 153, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Berlamut sudah ada pada zaman kuno yaitu tahun 1500 Masehi sampai tahun 1800 Masehi tetapi bercerita tidak menggunakan tarbang. Ketika Agama Islam masuk ke Kalimantan Selatan, setelah Raja Banjar Sultan Suriansyah, barulah berlamut memakai tarbang. Sebab kesenian Islam terkenal dengan Hadrah dan Burdahnya. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Seiring dengan pesatnya penyebaran agama Islam, kesenian Islam sangat berpengaruh pada perkembangan kebudayaan dan kesenian Banjar. Syair – syair dan pantun hidup dan berkembang dalam masyarakat. Dan <b>Sastra Banjar Lamut</b> juga mendapat tempat yang strategis dalam penyebaran Islam di masyarakat Banjar. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Ketika Sultan Suriansyah masuk Islam, banyak kebudayaan dan kesenian Jawa yaitu dari Demak ( Jawa Tengah ) berbaur pada kebudayaan dan kesenian Banjar, maka tak heran Lamut mendapat pengaruh juga dari Wayang Kulit yaitu dialognya mirip dialek wayang. Lamut bukan saja berkembang di seluruh pelosok Kalimantan Selatan tetapi juga sampai di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color:red;'>III. Penyajian, Fungsi, Penggarapan, dan instrumen.</span><span style='color: rgb(255, 153, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 102, 0);'>A. Penyajian</span><span style='color: rgb(255, 153, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Lamut ditampilkan pada umumnya pada malam hari sebagai hiburan masyarakat Banjar pada acara perkawinan, <b><i>manyampir</i></b> yaitu berkaitan dengan tradisi keluarga, dan perayaan hari – hari besar atau daerah. Durasi penampilan lamut biasanya 3 jam sampai 5 jam. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Palamutan membawakan cerita duduk di sebuah meja kecil bernama <b><i>cacampan </i></b>yang berukuran 1,5 x 2 meter.</span><span style='color: rgb(153, 51, 0);'> </span><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Cacampan ini diberi <b><i>titilaman </i></b>( tilam kecil ). Pada waktu dulu, di hadapan palamutan disediakan<i> parapen</i> ( perapian ) dupa kemenyan yang selalu berasap dan sebiji kelapa muda yang sudah dipangkas untuk minuman palamutan. Penonton lamut biasanya duduk melingkar seperti tapal kuda.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Lamut termasuk juga teater tutur yang mempunyai komponen cerita, sutradara atau dalang, penokohan, penonton, dan tempat pertunjukan. Pelamutan sekaligus sebagai sutradara atau dalang yang menciptakan karakter meskipun sudah ada pada pakem. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 102, 0);'>B. <b>Fungsi Sastra Banjar Lamut</b></span><span style='color: rgb(255, 153, 0);'> <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Lamut berfungsi :<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>l. Sebagai media da’wah agama islam dan muatan pesan – pesan pemerintah atau <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>pesan dari pengundang lamut. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>2. Sebagai hiburan <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>3. Manyampir, yaitu tradisi bagi keturunan palamutan.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>4. Hajat seperti untuk tolak bala atau doa selamat pada acara kelahiran anak, <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>kitanan atau sunatan, mendapat rejeki. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Menurut kepercayaan, kalau msnyampir dan hajat ini tidak dilaksanakan maka akan <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>membuat <b><i>mamingit</i></b> yakni menyebabkan sakit bagi yang bersangkutan. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>5. Sebagai pendidikan terutama mengenai tata kerama kehidupan masyarakat <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Banjar. Biasanya petatah petitih berupa nasehat, petuah atau bimbingan moral.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 102, 0);'>C. <b>Penggarapan Sastra Banjar Lamut</b></span><span style='color: rgb(255, 153, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Lamut mempunyai struktur lakon, yaitu :<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>1. Sebelum memulai cerita, Pelamutan terlebih dahulu membunyikan tarbnang <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>dengan nyanyian pembukaan yang terdiri dari syair – syair dan pantun. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>2. Narator dan berdialog dilaksanakan dengan terampil oleh pelamutan sendiri. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>3. Antara babak –babak lakon selalu diselingi dengan lelucon atau dagelan.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>4. Ditutup kembali dengan bunyi – bunyian tarbang yang dinamis.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Cerita pada lamut merupakan cerita terdahulu dari turun temurun, pakem yang tidak tertulis. Sebab tidak ada buku – buku yang merupakan pakem cerita lamut. Oleh karena itu, tidak jarang pelamutan membawakan kisah terjadi ada penambahan dan pengurangan pada cerita semula, bahkan ada yang keluar sama sekali dari <b><i>carangan</i></b> ( pakem ).<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Sebenarnya pakem yang ada adalah bermula pada sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja bernama <i>Jaya Sakti</i> yang berputra kembar , bernama <i>Indra Bungsu </i>dan <i>Indra Bayu</i>. Indra Bungsu berputra bernama <i>Kasan Mandi</i>, sedangkan Indra Bayu berputri <i>Galuh Putri Jung Masari</i>. Kasan Mandi kawin dengan Galuh Jung Masari dan melahirkan Bujang Maluala. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Bujang Maluala kawin dengan putri maharaja Cina bernama </span><i><span style='color: rgb(153, 51, 0);'>Dandan Amas Salian</span></i><span style='color: rgb(255, 153, 0);'> </span><i><span style='color: rgb(153, 51, 0);'>Kaca</span></i><span style='color: rgb(255, 153, 0);'> melahirkan seorang putra bernama Bujang Busur. Bujang Busur kawin dengan <i>Hindawan Bulan</i> melahirkan <i>Bujang Jaya</i>. Bujang Jaya kawin dengan putri <i>Walayu</i> Galuh Mamagar Sari.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Setiap dinasti ini mempunyai cerita tentang percintaan, perang dengan adu kesaktian. Dan tokoh – tokoh yang selalu hadir yaitu Paman Lamut, Anglung, Anggasina dan Labai Buranta, sebagai pendamping setia, penasihat dan panglima perang dari putra –putra raja tersebut.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Setelah dinasti Bujang Bungsu, cerita lamut sudah mengalami perkembangan cerita oleh pelamutan yakni menciptakan cerita baru yang lebih menarik, tetapi masih di dalam suatu pakem. Memang kreativitas pelamutan sangat diperlukan agar cerita lebih menarik, baik bumbu dialog maupun <st1:city st='on'><st1:place st='on'>gaya</st1:place></st1:city> ceritanya. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Dalam pengembangan cerita dapat pula mengambil dari cerita Panji, cerita Andi – Andi, tutur candi, dongeng seribu satu malam, atau pun cerita rakyat, tetapi dalam cerita itu ada tokoh utama Lamut berikut anak – anaknya Anglung, Anggasina dan Labai Buranta. <o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color:red;'>D. Instrumen</span><span style='color: rgb(255, 153, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Instrumen sebagai penunjang lakon yang digunakan oleh pelamutan adalah sebuah tarbang lamut. Tarbang ini bentuknya seperti rebana namun lebih besar, dengan ukuran berdiameter 45 sampas 60cm, terbuat dari kayu seperti kayu nangka, kayu sepat, kayu kursi atau kayu apa saja yang asal liat ( keras ), diberi kulit kambing kemudian disimpai sedemikian rupadengan rotan. Agar mengencangkan kulit tersebut diberi pasak kayu pada penampang bagian belakang tarbang dan dipasak dengan batangan rotan bagian dalamnya.<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>I</span><span style='color:red;'>V. <b>Pantun dan syair dalam Sastra Banjar ' Lamut.'</b></span><span style='color: rgb(255, 153, 0);'><o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Pelamutan setelah memukul tarbang dengan beberapa irama, sebagai tradisi maka ia menghaturkan salam kepada penonton dengan berpantun sebagai pembuka. Pantun tersebut antara lain :<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color:green;'>Tabusa salah sarai sarapun</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color:green;'>Bawa balayar kuliling nargi</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color:green;'>Lamun tasalah banyak-banyak maminta ampun</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color:green;'>Kisah Banjar dibawa kamari</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><st1:place st='on'><i><span style='color:green;'>Pinang</span></i></st1:place><i><span style='color:green;'> anum barangkap – rangkap</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><st1:place st='on'><i><span style='color:green;'>Pinang</span></i></st1:place><i><span style='color:green;'> tuha barundun – rundun</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color:green;'>Lawan nang anum maminta maaf</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color:green;'>Lawan nang tuha maminta ampun</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Kemudian dilanjutkan dengan bersyair, merupakan ungkapan bermacam peristiwa, dengan berlagu. Antara lain :<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color: rgb(153, 51, 0);'>Bismillah itu mula pang ku bilang</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color: rgb(153, 51, 0);'>Kartas pang dawat jualan dagang</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color: rgb(153, 51, 0);'>Kartasnya putih salain lapang</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color: rgb(153, 51, 0);'>Pena manulis di kartas lapang</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color: rgb(153, 51, 0);'>Bukan badanku pandai mangarang</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color: rgb(153, 51, 0);'>Hanya taingat di dalam badan</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>S</span><span style='color: rgb(255, 102, 0);'>yair tidak sembarang ucap, tetapi berplot, seperti berikut ini :</span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color:red;'>Hanyarkurait pulang kaya bilaran</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color: rgb(255, 204, 0);'>Satu</span><span style='color:red;'> pang tali, </span><span style='color: rgb(255, 204, 51);'>dua</span><span style='color:red;'> pang lalaran</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color: rgb(255, 204, 102);'>Katiga</span><span style='color:red;'> tungkat</span><span style='color:blue;'>, </span><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>ampat</span><span style='color:red;'> pang ukuran</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Kalima </span><span style='color:red;'>jarum</span><span style='color:blue;'>, </span><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>anam</span><span style='color:red;'> kulindan</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Tujuh </span><span style='color:red;'>kompas</span><span style='color:blue;'>, </span><span style='color: rgb(255, 204, 102);'>lapan </span><span style='color:red;'>padoman</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color: rgb(255, 204, 102);'>Kasambilan </span><span style='color:red;'>teori politik</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color: rgb(255, 204, 102);'>Kasapuluh</span><span style='color:red;'> lawan aturan </span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Syair yang mengungkapkan sebuah negeri atau kerajaan yang kaya raya, makmur sejahtera. Antara lain :<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color:green;'>Nargi Palinggam Cahaya mimang sugih</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color:green;'>Handak malunta ada hundang</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color:green;'>Bajanggut amas, sisiknya pirak, matanya intan</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color:green;'>Lah jua baisi jukung bapangayuh bagiwas</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color:green;'>Ulin manggis, bapananjak buluh parindu</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><st1:city st='on'><st1:place st='on'><span style='color: rgb(255, 153, 102);'>Ada</span></st1:place></st1:city><span style='color: rgb(255, 153, 102);'> beberapa prosa lirik merupakan monolog dalam mengungkapkan jalam cerita, maupun keindahan atau kecantikan seseorang. Misalnya :<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color: rgb(153, 51, 0);'>Bengkengnya Galuh Putri Jung Masari dalam mahligai. Sabagaimana kambang nang sadang harum – harumnya. Rupa bungas, rupa nang langkar, manisnya. Bakambang goyang, bagalang di batis. Anak rambutnya malantang wilis. Putih kuning kuku panjang nipis nang kaya gambar ditulis.</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Kemudian penuturan cerita biasanya dengan prosa lirik, seperti :<o:p></o:p></span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><i><span style='color: rgb(255, 153, 0);'>Kasan Mandi maluncat ka atas kuda, lamut ka atas kuda Kasan Mandi. Mamukul kuda, lamut jua, tarur Kasan Mandi mambalap ka hujung kampung nargi Palinggam Cahaya.Lamut mambontel di balakang malalui Pasiban Basar. Jauh tatinggal, maka ujar Kasan Mandi : “ Paman Lamut lakasi paman , malam pacangan kadap, subuh tatarang upih, kita mudahan sampai ka rimba rimbangun.</span></i></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color:red;'>V. Salah satu pakem Lamut</span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;' >BUJANG MALUALA</span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;' >Setelah dewasa pergi berlayar tanpa tujuan, ditengah lautan tidak disangka – sangka kapalnya dilanda topan sehingga kapalnya hancur., dan kapalnya terapung hanyut sesat ke banua Cina. </span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;' >Bujang Maluala beserta ponakawannya Lamut, Anglung, Anggasina, dan Labai Buranta menyamar seperti orang Cina, dan masing – masing merubah nama yang disesuaikan dengan nama orang cina.</span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;' >Kerajaan Cina sangat besar, rajanya bernama Tiung Dermawan mempunyai putri bernama Dandan Amas Salian Kaca serta amban. Benua Cina ini bernama Siming Dermaya.</span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;' >Bujang Maluala merindukan putri raja meskipun dia belum pernah bertemu Cuma mendengar namanya saja. Kemudian dia minta agar dirinya dijual pada orang Cina itu. Lalu Lamut menjual pada raja Cina itu. Dan bertuigas sebagai pesuruh mengerjakan perintah putri di rumah.</span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;' >Tak lama kemudian Bujang Maluala jatuh sakit lalu dipukul oleh putri karena dianggap malas bekerja. Bujang Maluala melarikan diri dan melaporkan hal ihwal yang dialamainya kepada Lamut. Kemudian Lamut memberikan minyak guna – guna, maka minyak itu disapukan kepada putri, akhirnya putri jatuh cinta., kemudian Bujang Maluala kawin dengan putri, dan memperoleh putra diberi nama Bujang Busur. </span></p>  <p class='MsoNormal' style='text-align: justify;'><span style='color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;' >Banjarbaru, 2006</span></p>  <p class='MsoNormal'><span class='post-authorvcard'>Diposting oleh </span><span class='fn'>Sastra Banjar</span><span class='post-authorvcard'> </span><span class='post-timestamp'>di <a href='http://esesa.blogspot.com/2007/12/sajumput-tentang-lamut.html' title='permanent link'>00:50</a> </span><span class='post-comment-link'><a href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=363921557521989425&amp;postID=4677306033435492882'>0 komentar</a> </span><span class='item-controlblog-adminpid-570575106'><a href='http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=363921557521989425&amp;postID=4677306033435492882' title='Edit Posting'><span style='text-decoration: none;'><!--[if gte vml 1]><v:shapetype id='_x0000_t75' coordsize='21600,21600' spt='75' preferrelative='t' path='m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe' filled='f' stroked='f'>  <v:stroke joinstyle='miter'>  <v:formulas>   <v:f eqn='if lineDrawn pixelLineWidth 0'>   <v:f eqn='sum @0 1 0'>   <v:f eqn='sum 0 0 @1'>   <v:f eqn='prod @2 1 2'>   <v:f eqn='prod @3 21600 pixelWidth'>   <v:f eqn='prod @3 21600 pixelHeight'>   <v:f eqn='sum @0 0 1'>   <v:f eqn='prod @6 1 2'>   <v:f eqn='prod @7 21600 pixelWidth'>   <v:f eqn='sum @8 21600 0'>   <v:f eqn='prod @7 21600 pixelHeight'>   <v:f eqn='sum @10 21600 0'>  </v:formulas>  <v:path extrusionok='f' gradientshapeok='t' connecttype='rect'>  <o:lock ext='edit' aspectratio='t'> </v:shapetype><v:shape id='_x0000_i1025' type='#_x0000_t75' alt='' href='http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=363921557521989425&amp;postID=4677306033435492882' title='&quot;Edit Posting&quot;' style=''width:13.5pt;height:13.5pt'' button='t'>  <v:imagedata src='file:///C:\\DOCUME~1\\User\\LOCALS~1\\Temp\\msohtml1\\01\\clip_image001.gif' href='http://www.blogger.com/img/icon18_edit_allbkg.gif'> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><span style=''><img src='file:///C:/DOCUME%7E1/User/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif' class='icon-action' shapes='_x0000_i1025' border='0' height='18' width='18' /></span><!--[endif]--></span></a></span></p><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4645463629457162104-6701713388879753329?l=sastrabanjar.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>sastrabanjar@gmail.com (Sastra Banjar), 7/8/2008</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://penyair-kalsel.blogspot.com/2008/07/sketsa-penyair-kalsel.html">SKETSA PENYAIR KALSEL</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><p class='fjitemfooter'><span style='color: black;'><br /><o:p></o:p></span></p>  <p class='fjitemfooter' style='text-align: justify;'><span style='color: black;'>Pendokumentasian <span style=''> </span>data penyair Kalimantan Selatan di dunia maya ini mungkin hal yang masih dibilang asing. Ini disadari bahwa menjangkau dunia maya ini mungkin hanya segelintir orang . Memang ada beberapa faktor yang harus dimiliki masuk ke dalam <span style=''> </span>dunia ini yakni dunia teknologi. Antara lain penguasaan ilmu dunia maya, kesediaan waktu ,dana, peralatan dan<span style=''>  </span>jaringan. Tetapi sebenarnya ini dapat ditunjang oleh sebuah motivasi. <span style=''> </span>Sebab pada zaman era globalisasi ini mau tak mau harus terjun ke dalamnya. <span style=''> </span>Pendokumentasian<span style=''>  </span>secara dunia cetak seperti buku telah banyak dilakukan namun tersebar secara terbatas. Oleh karena itu upaya pendokumentasian secara dunia maya perlu dilakukan.<span style=''>  </span>Diharapkan dunia luar dapat mengetahui sketsa penyair Kalimantan Selatan. Sangat disadari penyair yang terhimpun dalam situs ini masih belum lengkap seperti apa yang diinginkan. Ini perlu proses pendataan yang terus berjalan. Bagi penyair Kalimantan Selatan yang belum tergabung<span style=''>  </span>di harapkan bergabung di situs ini. <span style=''> </span>Salam Sastra. <span style=''> </span><span style=''> </span><o:p></o:p></span></p>  <p class='fjitemfooter' style='text-align: justify;'><span style='color: black;'><o:p> </o:p></span></p><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4339077913601940326-4641374075284360055?l=penyair-kalsel.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>merayusukma@gmail.com (Arsyad Indradi), 7/7/2008</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('<h4 class="fjitemtitle"><a href="http://penyair-kalsel.blogspot.com/2007/10/blog-post.html">Warta Antologi Penyair Nusantara,142 Menuju Bulan bhs China</a></h4>');
document.write("<p class='fjitembody'><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://2.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/RwUEkWyluII/AAAAAAAAAFg/ifgAuyzYHVo/s1600-h/photo+bertulisan.jpg'><img style='margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;' src='http://2.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/RwUEkWyluII/AAAAAAAAAFg/ifgAuyzYHVo/s320/photo+bertulisan.jpg' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5117501574216005762' border='0' /></a><br /><a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://2.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/RwUDKWyluHI/AAAAAAAAAFY/i9HVlGJqsNA/s1600-h/142+bhs+China.JPG'><img style='margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;' src='http://2.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/RwUDKWyluHI/AAAAAAAAAFY/i9HVlGJqsNA/s400/142+bhs+China.JPG' alt='' id='BLOGGER_PHOTO_ID_5117500028027779186' border='0' /></a><br /><div style='text-align: center;'>Warta Guo Ji Ri Bao, Antologi Penyair Nusantara : 142 Penyair Menuju Bulan<br />dalam bahasa China<br /></div> <a onblur='try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}' href='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/RwT9JWyluFI/AAAAAAAAAFI/f0MZGufa314/s1600-h/142+bhs+China.JPG'><br /></a><div class='blogger-post-footer'><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4339077913601940326-536528026392578162?l=penyair-kalsel.blogspot.com' alt='' /></div></p>");
document.write('<p class="fjitemfooter"><small>merayusukma@gmail.com (Arsyad Indradi), 10/4/2007</small></p>');
document.write('<hr  class="fjitemseparator" />');
document.write('');
document.write('<p class="fjfooter">Powered by <a href="http://feedjumbler.com/">FeedJumbler</a>.</p>');
